Kamis, 23 April 2026

Manajer Proyek Malu Bentang Flyover Roboh di Depan Wali Kota

Terjadi insiden saat pengangkatan bentang tengah jembatan layang (flyover) di Simpang Empat Air Hitam, Samarinda Ulu, Kamis (5/11/2015) malam.

Penulis: Doan E Pardede |
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Bentang Flyover Air Hitam saat dinaikkan dari jalan. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Terjadi insiden saat pengangkatan bentang tengah jembatan layang (flyover) di Simpang Empat Air Hitam, Samarinda Ulu, Kamis (5/11/2015) malam.

Pengangkatan bentang yang disaksikan langsung Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang dan Wakil Wali Kota Nusyirwan Ismail serta sejumlah pejabat berakhir gagal.

Pihak Kontraktor PT Wijaya Karya melalui Manajer Proyek Pembangunan Flyover Air Hitam Rendy Meivishar ketika ditemui wartawan, Jumat (6/11/2015) mengatakan, kegagalan itu merupakan kejadian tidak terduga.

Dia mengakui, untuk flyover dengan bentang model T-girder baru dipasang di Samarinda dan bentang terpanjang di Indonesia.

"Untuk tipe T memang yang pertama (di Indonesia). Kalau tipe yang lain sudah ada," katanya.

Pengangkatan bentang menurut Rendy merupakan ujicoba terakhir (final trial) sebelum benar-benar ditempatkan di dudukan pada Sabtu (7/11/2015) besok.

Pengujian sendiri sudah mulai dilakukan sejak Selasa (3/11/2015) lalu dengan mengangkat bentang di beberapa ketinggian dan berhasil baik sesuai rencana.

Baca: BREAKING NEWS - Bentang Flyover Roboh Disaksikan Walikota ...

"Ini memang kita masih menguji. Makanya dia tidak menimpa dua struktur yang ada disampingnya itu," katanya. Rencananya, bentang tersebut akan dinaikkan sampai ketinggian sekitar 5 meter. Setelah di ketinggian sesuai rencana, bentang masih akan dibiarkan beberapa waktu dan hasilnya terus dipantau. Namun sayang, pada ketinggian 2,6 meter, ternyata ada kejadian tak diduga. Sistem pengangkat di portal gantry sisi Jalan Juanda mengalami masalah.

"Bukan sling (tali baja) yang putus," tuturnya.

Bentang yang rubuh selanjutnya akan dihancurkan. Namun menurut Rendy, masih perlu kajian mengingat di dalam bentang masih ada sistem yang bekerja. Untuk gantinya, akan mendatangkan bentang baru dari di Pulau Jawa. "Takutnya nanti malah pecah," katanya.

Dikemukakan, pengadaan beton bentang memang tidak mudah. Masih harus dipesan, dicetak, menunggu beton matang selama 28 hari, pengiriman dengan total waktu sekitar 62 hari.

Diperkirakan, waktu penyelesaian jika semua lancar molor hingga Februari 2016. Sementara target semula selesai Desember ini. Sembari menunggu, pihak kontraktor akan melakukan perbaikan alat pengangkat dan mencari komponen-komponen yang harus diganti.

Baca: Breaking News - Butuh Satu Bulan Datangkan Kembali Bentang ...

Terkait suara berderik yang sempat terdengar di menit-menit awal dan pengangkatan sempat terhenti, diakuinya adalah reaksi dari tali baja (sling) dan biasa terjadi dalam sebuah pengangkatan.

"Itu yang kita belum tahu. Tapi memang biasanya ada seperti itu (ada suara berderik)," katanya.

Rendy mengatakan, alat pengangkat sudah pernah dipakai untuk mengangkat beban seberat 240 ton di Kutai Barat. Dia juga meralat bahwa berat sebenarnya bentang beton hanya 230 ton (bukan 250 ton seperti yang diberitakan). "Molornya berapa lama, tergantung dari girdernya ini," katanya.

Minta Maaf
Proses pembangunan flyover terutama saat pengangkatan bentang tengah sebenarnya menjadi momen sangat berarti bagi kontraktor dan pekerjanya. Sejak sehari sebelum pengangkatan kata Rendy, digelar doa bersama. Bahkan sesaat sebelum pengangkatan pun doa bersama Walikota, Wakil Walikota dan sejumlah pejabat yang hadir.

"Kalau kami yang biasa itu kan Yasinan. Teman-teman kantor habis shalat Maghrib itu biasa Yasinan. Tambah lagi doa-doa di sana (saat pengangkatan)," katanya.

Untuk pemilihan hari, Rendy membantah ada intervensi, karena sudah sesuai tahapan. Seandainya ujicoba berhasil, maka Sabtu besok (hari ini) bentang sudah bisa langsung dipasangkan ke dudukan. Harus diakui, robohnya bentang tepat di hadapan Wali Kota dan ratusan warga merupakan peristiwa memalukan.

Apalagi kata dia, saat kejadian Wali Kota dan undangan berada sangat dekat dengannya. "Ya malu!," ujar Rendy.

Selain malu, saat kejadian dia juga sempat shock memikirkan biaya pengganti yang harus dikeluarkan, yakni sekitar Rp 2,2 miliar. "Selain malu, saya pucatnya ya itu, harus menanggung biaya pengganti juga," katanya.

Rendy beserta jajaran PT Wika menyampaikan permohonan maaf kepada Walikota dan juga warga Samarinda atas insiden tersebut.

"Tentu saya syok sekali atas kejadian itu, terlebih lagi saat itu pak Walikota dan jajaran pemkot datang melihat, ditambah warga Samarinda yang juga ingin melihat pemasangan bentang panjang tersebut. Saya mohon maaf kepada warga Samarinda dan Wali Kota atas insiden tersebut," tandasnya.

Kepala Bidang Bina Marga dan Pengairan Dinas Bina Marga dan Pengairan Samarinda, Ahmad Husein mengatakan, tidak ada sanksi khusus untuk kontraktor akibat kejadian ini. Hanya saja semua penggantian bagian yang rusak tanggung jawab kontraktor. Untuk molornya waktu penyelesaian proyek, kontrak awal terkait waktu menurutnya akan di adendum kembali. "Sanksinya, ya mengganti itu," katanya. (*)

***

Follow  @tribunkaltim Tonton Video Youtube TribunKaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved