Opini

Elektronik BOSDA Online dan Bumintar, Solusi Akselerasi Pelayanan Pendidikan

Secara holistik pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata maju atau berkualitas. Bahkan belum bisa berbicara banyak untuk Asia Tenggara.

Elektronik BOSDA Online dan Bumintar, Solusi Akselerasi Pelayanan Pendidikan
tribunkaltim.co/Arief Zulkifli
Ilustrasi. 

Oleh: Muhammad Wahiduddin, M.Pd
Peserta Diklatpim III kelas Pemerintah Kota Samarinda tahun 2015.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Samarinda
wahiduddin23@yahoo.co.id

BERDASARKAN hasil rilis United Nation of Development Programs (UNDP) bahwa Human Development Indeks (HDI) bidang pendidikan di Indonesia masih sangat jauh dari kategori tinggi/maju/berkualitas. Meskipun secara individu banyak siswa atau mahasiswa Indonesia yang mengukir prestasi pada level Internasional/dunia. Namun secara holistik pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata maju atau berkualitas. Bahkan belum bisa berbicara banyak untuk tataran Asia Tenggara. Pendidikan di Indonesia belum dapat menjadi kiblat bagi negara-negara Asia Tenggara apalagi dunia.

Sungguh ironi, padahal sangat tegas dalam butir paragraf pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 telah termaktub tentang tujuan pembangunan nasional yang salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita tidak boleh mengkambinghitamkan keadaan untuk menjustifikasi penyebab rendahnya kualitas pendidikan, tetapi sebaiknya seluruh stakeholders pendidikan berkonstribusi dalam mengangkat harkat dan martabat pendidikan Indonesia dengan memberikan kemampuan terbaik yang dimiliki.

Partisipasi aktif seluruh elemen bangsa dalam mengangkat kualitas pendidikan Indonesia sangat membantu dalam mengakselerasi terbangunnya sistem pendidikan berkualitas yang bermartabat. Sekolah merupakan unit pelaksana teknis terkecil yang sangat menentukan strata pendidikan Tanah Air. Baik buruknya sekolah menjadi barometer baik buruknya pelayanan pendidikan secara menyeluruh. Sehingga sekolah harus "diperlakukan" sebagai seorang "putra terbaik" yang mampu menjaga nama baik dan mengharumkan keluarga besar. Sekolah adalah tumpuan harapan bangsa dan negara yang merupakan investasi besar untuk masa yang akan datang.

BACA JUGA: Pekan Depan Disdik Salurkan Bosda ke Sekolahan

Salah satu sektor penting dalam membangun pendidikan berkualitas adalah keberpihakan anggaran atau pembiayaan pendidikan. Sesuai amanah Undang-Undang agar pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN atau APBD. Bilamana amanah ini telah berlalu lebih dari 10 tahun, lantas mengapa pendidikan kita masih terpuruk? Adakah yang salah dengan pola pembiayaan pendidikan kita? Apakah sistem penganggaran pendidikan tidak efektif dan efisien? Ada baiknya dicermati bersama guna membangun kerangka baru pembiayaan pendidikan yang efektif dan efisien.
Menilik dari persoalan di atas, maka tergerak hati penulis untuk turut serta melakukan perubahan meskipun pada tataran skala kecil namun mudah-mudahan dapat memberikan dampak yang besar terhadap terlaksananya pendidikan yang berkualitas.

Salah satu jenis pembiayaan pendidikan yang dimaksud adalah berupa pemberian bantuan operasional sekolah daerah yang lazim disebut BOSDA. Semakin tingginya kemauan politik kepala daerah untuk membebaskan biaya pendidikan (baca: gratis) menyebabkan sekolah sangat bertumpu kepada bantuan pemerintah melalui dana BOSNAS dan BOSDA. Mengingat partisipasi masyarakat dalam hal keuangan sangat dibatasi oleh pemberlakuan pendidikan gratis.

BACA JUGA: BOS Tak Cukup, SMAN 6 Samarinda Pungut Siswa Rp 50.000/Bulan

Sekolah tidak mau berisiko dengan menghimpun dana dari orang tua siswa, sebab sorotan nan tajam atas nama pelanggaran terhadap Undang-Undang, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah dan sebagainya, yang dilakukan LSM, pengamat pendidikan, masyarakat bahkan pemerintah itu sendiri acapkali bertubi-tubi dialamatkan kepada sekolah yang notabene ingin mengembangkan dirinya. Keadaan seperti ini menyebabkan sekolah sangat menggantungkan diri kepada dana BOS.

Sekolah sangat sulit untuk berimprovisasi mengoptimalkan tugas dan fungsinya sebagai pengemban amanah mencetak generasi bangsa. Kadang terbayang bilamana masyarakat (=yang berkecukupan) membantu sekolah melalui bantuan finansial, sedangkan masyarakat yang kurang mampu secara finansial dapat menjadi volunteir atau tenaga relawan sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing.

Halaman
12
Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved