Duh, di Kabupaten Ini 5.101 Orang Masih Buta Aksara

Mereka sudah mampu diikutkan kelompok belajar paket A, B dan C, di sisi lain kalau memang ada program life skill mereka bisa langsung masuk.

Duh, di Kabupaten Ini 5.101 Orang Masih Buta Aksara
tribun kaltim/rahmat taufik
Ida Wahyu Sayekti, Kasi PNFI Disdik Kukar 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Jumlah warga buta aksara per Desember 2015 mencapai 5.101 orang di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Warga buta aksara paling banyak ditemukan di Kecamatan Tenggarong hingga mencapai 566 orang, disusul Tenggarong Seberang 545 orang, Loa Kulu 468 orang dan Kota Bangun 446 orang.

Jika dikelompokkan berdasarkan usia, maka warga buta aksara ini didominasi umur 45 tahun ke atas dengan jumlah 3.510 orang dan umur 30-45 tahun sebanyak 1.111 orang. Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Dinas Pendidikan (Disdik) bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan pendataan terhadap warga buta aksara di Kukar.

"Data kami lebih akurat, kalau BPS hanya sistem sampel. Setelah dicek di lapangan masih ada (buta aksara), sistem sampel hanya sampai kabupaten, akhirnya cuma estimasi atau perkiraan yang diperoleh," kata Ida Wahyu Sayekti, Kasi PNFI Disdik Kukar, Kamis (7/1).

Sedangkan pendataan yang dilaksanakan PNFI menyasar sampai ke kecamatan. "Kami menyingkronkan data dengan BPS, hasilnya tidak jauh berbeda dengan data mereka," imbuhnya. Persentase warga buta aksara mencapai 0,5 persen. Artinya, jumlah ini masih dalam kategori zero buta aksara. "Angka 3 persen pun sudah bisa dikatakan zero buta aksara karena selamanya angka buta aksara tidak akan tuntas karena di sini pendatangnya banyak, perpindahan antarprovinsi atau antarkabupaten. Makanya kenapa buta aksara ada terus," ujar Ida.

Pemberantasan buta aksara itu dilaksanakan untuk tingkat dasar sampai menerima surat melek aksara. Pada 2016, warga buta aksara diarahkan pada pendidikan kecakapan hidup (life skill). Mereka sudah mampu diikutkan kelompok belajar paket A, B dan C, di sisi lain kalau memang ada program life skill mereka bisa langsung masuk.

Beberapa lembaga pendidikan non formal menjadi mitra PNFI selama ini, yakni Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Di Kukar, ada 3 SKB terbagi di wilayah tengah, pesisir dan hulu mahakam. Sedangkan 32 PKBM tersebar di seluruh kecamatan. "Sebetulnya, lembaga kursus dan pelatihan juga termasuk mitra kami karena memenuhi persyaratan tertentu," tuturnya.

Lewat APBD Kabupaten 2016, pemberantasan buta aksara akan menyasar pada 300 orang yang terbagi dalam 3 kelompok. "Kami fokus di Kota Bangun. Kami akan kerja sama lintas sektoral dengan Desa Mandiri. Kami sama-sama monitor di lapangan," ucap Ida. (*)

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved