Selasa, 14 April 2026

Terobosan Brigade Infantri Bangun Lahan Pertanian Kedelai Berkonsep Terasering

Kami memakai terasering. Tidak perlu keluarkan asap bakaran. Bisa ramah lingkungan. Kami yakin memakai cara ini akan lebih jauh lebih efektif

Penulis: Budi Susilo |
TRIBUN KALTIM / BUDI SUSILO
Kapten Yudha Sancoyo sedang memantau perkebunan kedelai di markas komando Brigif 24 BC, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, pada Jumat (15/1/2016). 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Upaya memperkuat kedaulatan pangan di daerah Kalimantan Utara, Brigade Infantri (Brigif) 24 Bulungan Cakti (BC), membuat terobosan membangun lahan pertanian kedelai berkonsep terasering di lahan seluas 10 hektar milik Brigif di kilometer 12, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan.

Kapten Yudha Sancoyo, seorang konseptor ladang kedelai Brigif, meninjau kebun kedelai, Jumat (15/1/2016) siang, yang kebetulan juga saat itu rintik hujan mulai menggerayangi kebun kedelainya. (baca juga: Berada di Zona Hijau, Pemprov Harus Terus Perbaiki Pelayanan Publik )

Pria kelahiran Semarang itu mengklaim, kebun kedelainya yang bergaya terasering adalah untuk yang pertama kalinya di Kalimantan Utara. Selama ini, ungkap, Yudha, penggarapan ladang kebun memakai cara membakar tanah serta berpindah-pindah.

“Kami memakai terasering. Tidak perlu keluarkan asap bakaran. Bisa ramah lingkungan. Kami yakin memakai cara ini akan lebih jauh lebih efektif,” ujarnya kepada Tribunkaltim. (baca juga: Bukan Uang Kecil, Pemerintah Masih Kaji Divestasi Saham Freeport )

Menurut teori, penggunaan terasering memiliki tujuan agar bisa memperbesar peresapan air dan mengurangi kecepatan aliran permukaan, ini supaya tanah tidak cepat berkurang.

Pengamatan Tribun, lahan kedelai yang ada di Brigif bentuknya tidak merata, daratannya bergelombang-gelombang, turun dan naik. Model lahan seperti ini cocok memakai terasering, sebuah cara memperpendek panjang lereng, memperkecil kemiringan lereng dengan penggalian dan pengurugan tanah melintang lereng.

Sebagai langkah awal, ujar Yudha, penanaman kedelai yang dicoba ini lebih kepada penciptaan kedelai berkualitas benih, alias digunakan untuk bercocok tanam kembali. (baca juga: PT KAB Fokus Bangun Jalan Menuju Stockpile Batu bara )

“Utamanya bukan untuk langsung dimakan tetapi untuk bisa ditanam lagi oleh petani-petani disini. Insyaallah nanti perdiksinya bisa hasilkan 20 ton kedelai untuk per hektarnya,” kata pria lulusan Akedemi Militer Magelang tahun 2004 ini.

Penanaman dilakukan sejak enam bulan lalu, yang dilakukan oleh tentara Brigif. Tanah yang ditanam bukanlah tanah humus, namun tanahnya agak kemerah-merahan. Menurut Yudha, sebagai solusi dirinya memakai pupuk kandang dan menabur kapur.

“Sesudah panen nanti akar pohon juga akan mengalami pembusukan sendiri. Pengaruhnya tanah akan semakin subur. Kalau mau tanam lagi tidak perlu dibakar tanahnya,” ungkapnya.

Dia yakin, penggarapan kedelai ini akan menjadi kebanggan capaian dunia pertanian bagi Kaltara. Karena, ungkapnya, lahan kedelai racikan Brigif 24 BC ini adalah yang terbesar nomor dua di Indonesia, setelah kebun kedelai di Jawa pada lahan milik Brigif.

Lahan ini juga bisa berfungsi sebagai media laboratorium kedelai di Kabupaten Bulungan. “Kami yang nomor dua,” klaim Yudha.

Siapa saja baik itu petani, mahasiswa, yang mau melakukan penelitian kedelai atau sekedar mau ikut mencoba menanam di Brigif 24 BC, dipersilahkan. “Kami terbuka bagi siapa saja bilang niatnya untuk kemajuan pertanian, demi menguatkan kedaulatan pangan kita,” tegasnya. (*)

dan Klik Saja Follow @tribunkaltim serta Tonton Video Youtube TribunKaltim   

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved