Pantesan Napi Kabur Tinggi Temboknya Hanya Dua Meter

Apalagi melarikan diri waktunya ketika para petugas sedang sibuk memberikan makan malam bagi pasien jiwa,” ujarnya.

Penulis: Junisah |
TRIBUN KALTIM / JUNISAH
Anjar, salah satu petugas di Ruang Perawatan Teratai RSUD Tarakan memperlihat tinggi tembok yang hanya dua meter. Diduga dari tembok tersebutlah Margono napi yang dirawat di Ruang Teratai melarikan diri. 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Junisah

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Kaburnya narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Tarakan, Margono dari ruangan Perawatan Teratai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Jumat (15/1/2015) lalu, ternyata bukan hanya karena kurangnya anggota Lapas yang melakukan pengawasan, namun juga disebabkan kurang standarnya ruangan perawatan Teratai. Hal ini diungkapkan, Humas RSUD Tarakan, Hariadi.

Hariadi mengatakan, ruang perawatan Teratai RSUD Tarakan yang dikhususkan untuk merawat orang atau pasien yang mengalami kejiwaan ini tempatnya kurang standar.(baca juga: Pemenang Pilkada Akan Dilantik Serentak, Namun Jadwal Belum Terbit )

Pasalnya untuk merawat pasien yang mengalami gangguan kejiwaan harus memiliki bangunan yang representatif, salah satunya tembok dinding harus lebih tinggi.

“Coba mbak melihat tembok dinding di ruang perawatan Teratai tingginya hanya dua meter saja. Padahal untuk bangunan perawatan pasien jiwa temboknya itu harus standar, yah paling tidak tingginya harus mencapai lima meter,” ucapnya yang ditemui di RSUD Tarakan, Senin (18/1/2015).

Hariadi mengaku, dengan tinggi tembok yang tidak begitu tinggi inilah dimanfaatkan Margono untuk melarikan diri.

“Mungkin saja Margono sudah melihat tembok tidak terlalu tinggi, jadi mengambil kesempatan untuk melarikan diri.

Apalagi melarikan diri waktunya ketika para petugas sedang sibuk memberikan makan malam bagi pasien jiwa,” ujarnya.

Dikatakan Hariadi, selain gedung perawatan Teratai kurang standar, fasilitas yang ada di dalam gedung perawatan pun sama sekali tidak memadai.

Di dalam gedung hanya disediakan delapan kamar dengan delapan tempat tidur bagi pasien. Tentunya jumlah ini tidak sebanding dengan jumlah pasien yang ada 43 orang pasien jiwa. (baca juga: Ledakan Rokok Elektrik Membakar Pria Berbadan Besar )

“Melihat kondisi ini, kami berharap pemerintah daerah maupun provinsi dapat segera membangun rumah sakit jiwa di Provinsi Kaltara ini. Sebab pasien yang ada di ruang perawatan Teratai ini tidak hanya dari Tarakan, namun juga berasal dari beberapa daerah di Provinsi Kaltara,” ujarnya.

Hariadi mengatakan, ruang perawatan Teratai di RSUD Tarakan sudah ada sejak 20 tahun lalu. Semula ruangan ini digunakan untuk merawat pasien yang akut.

“Artinya bila ada pasien yang teriak-teriak atau mengami kami menanganinya di ruangan tersebut. Namun faktanya ruangan tersebut digunakan untuk merawat pasien yang mengalami gangguan kejiwaan,” ujarnya.

Sementara petugas medis, Anjar menambahkan, Margono dirawat di ruang Teratai, pada 9 Januari lalu, karena saat masuk di RSUD Tarakan seringkali berteriak dan mengamuk.

“Bahkan kami ikat tangannya dan masukan di salah satu kamar perawatan, lalu kami memberikan obat akhirnya Margono tenang dan kami buka kembali ikatannya,” katanya.

Anjar mengaku, selama Margono dirawat di ruangan Teratai, pihaknya telah meminta agar anggota Lapas Tarakan dapat menjaga dan mengawasi. Namun karena anggota Lapas kurang, akhirnya selama dirawat di ruang Teratai Margono tidak mendapatkan pengawalan dan penjagaan. (*)

dan Klik Saja Follow @tribunkaltim serta Tonton Video Youtube TribunKaltim

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved