Profil

Meski Berisiko, Wanita Ini Tak Gentar Jadi Polisi

Profesinya yang terlalu berisiko, membuat Eka Purnama Sari tak gentar menjalani pekerjaannya sebagai polisi di Resort Bulungan.

Penulis: Budi Susilo |
TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO
Eka Sari 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR – Profesinya yang terlalu berisiko, membuat Eka Purnama Sari tak gentar menjalani pekerjaannya sebagai polisi di Resort Bulungan. Menjadi polisi wanita adalah cita-citanya sejak kecil.

Demikian diungkapkan olehnya, saat ditemui Tribunkaltim.co di gedung Diklat Bulungan, Rabu (20/1/2016) kemarin. “Sudah saya sadari bekerja sebagai polisi itu tantangannya berat. Tidak semudah yang kita bayangkan,” tuturnya.

Tapi itu tidak menjadi persoalan, sebab profesi yang dia tekuni sekarang ini adalah keinginan dari dalam dirinya. Apalagi pernah satu kali, dirinya tidak lolos masuk ujian sebagai anggota polisi.

“Saya pernah gagal sekali. Saya coba lagi di tahun berikutnya, akhirnya saya keterima juga. Saya menjalani profesi polisi tidak merasa stres tertekan. Karena ini semua sudah cita-cita saya dari kecil,” kata wanita kelahiran 9 Juni 1995 ini.

Kata dia, belakangan ini muncul pemberitaan adegan terduga teroris menyerang aparat kepolisian di Jakarata. Melihat kondisi ini, tak menjadikan Sari kendur semangat bekerja sebagai polisi.

Baca: Demi Pilkada, Polwan Ini Rela Menyusuri Daerah Terpencil Naik Motor Trail Bawa Kotak Suara

“Apapun itu risikonya harus saya terima. Polisi harus bekerja baik, melayani masyarakat. Siap berkorban demi masyarakat,” tutur Sari yang memiliki hobi olahraga bulu tangkis ini.

Secara manusiawi, kadang ada muncul perasaan takut. Tetapi itu semua tidak berlangsung lama karena seorang polisi itu tidak boleh takut bila itu dianggap benar, tak menyalahi aturan yang berlaku.

“Saya punya percaya diri. Saya tidak takut. Saya sudah punya bekal, sudah mendapat latihan bela diri dan fisik selama tujuh bulan,” ujar Sari, yang memiliki rambut lurus sebahu ini.

Menurut dia, aksi terorisme yang mengatasnamakan agama tidak dibenarkan. Sebab semua agama itu mencintai kedamaian, tidak diperbolehkan mengambil nyawa orang-orang yang tidak berdosa.

Karena itu, imbuhnya, kepada semua lapisan masyarakat, terutama anak-anak mudanya, agar berhati-hati pada gerakan teror yang mendasarkan pada muatan agama.

“Mereka yang memakai agama itu biasanya memainkan pisikologi. Melalui agama orang bisa cepat terpengaruh. Niatnya jelek. Agama dijadikan sarana untuk gerakan terorisme. Ini sudah melenceng,” tegas Sari.

Dia menambahkan, masyarakat mesti bisa waspada. Ada orang-orang yang baru masuk di tempat tinggal lingkungan pemukiman warga sebaiknya ditelusuri, perlu diketahui identitas diri dan latar belakangnya.

“Kita pantau saja, bila ada yang mencurigakan bisa laporkan saja ke pihak yang berwajib,” kata wanita lulusan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tanjung Selor ini. (*)

dan Klik Saja Follow @tribunkaltim serta Tonton Video Youtube TribunKaltim


Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved