Pengaruh Pornografi pada Anak Juga Masuk Lewat Sinetron

“Konten porno secara tidak kita sadari muncul di tayangan sinetron".

Pengaruh Pornografi pada Anak Juga Masuk Lewat Sinetron
NET
ILUSTRASI: dampak negatif internet 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar edukasi kepada guru-guru PAUD yang mengangkat tema “Hindari Kekerasan Seksual Pada Anak” di gedung Balai Diklat Kabupaten Bulungan, di Jalan Agatis, Tanjung Selor pada Sabtu (30/1/2016).

Narasumber yang hadir, Safitri, yang berlatar belakang pendidikan Pisikologi Intervensi Sosial Universitas Indonesia, mengatakan, belakangan ini kasus sosial yang terjadi pada anak-anak adalah kekerasan seksual. Pengaruhnya berasal dari media televisi seperti acara sinetron, internet, dan game-game online.

“Konten porno secara tidak kita sadari muncul di tayangan sinetron. Awalnya ibunya yang suka lalu anaknya ikut menonton. Pengaruh porno masuk melalui sinetron,” ungkap perempuan yang juga lulusan Fisika dari Institut Teknologi Bandung ini.

Karena pornografi dan narkoba sudah mewabah di lingkungan masyarakat, termasuk pengaruh ke dunia anak-anak, maka peran PAUD dan orang tua sangat penting.

“Galang kerja sama untuk menangkal pornografi dan narkoba. Lakukan kerja sama dengan pasangan, pengasuhan yang utuh. Bangun juga kerja sama dengan guru sekolah, pengasuh anak, dan lingkungannya,” tegas wanita kelahiran Jakarta 14 Agustus 1959 ini.

Memperkuat Gugus PAUD

Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) Kalimantan Utara (Kaltara) berencana akan menghidupkan kembali gugus Pendidikan Usia Dini (PAUD) sebanyak 47 PAUD di lima Kabupaten Kota. 17 di antaranya berada di daerah perbatasan.

Penajaman gugus Paud tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan PAUD di Kaltara.

“Kita mengingingkan PAUD yang ada di Kaltara berstandar internasional. Kita akan buat jangka panjang, untuk 10 tahun ke depan,” ujar pria yang menjabat sebagai Wakil Ketua GOPTKI.

Hal itu dia sampaikan, dalam acara seminar “Menangkal Kekerasan Terhadap Anak,” di gedung Balai Diklat lantai dua, Jalan Agatis Tanjung Selor, pada Sabtu (30/1/2016), yang juga dihadiri para guru-guru PAUD seluruh Kaltara.

Menurutnya, lembaga PAUD itu adalah pendidikan yang paling mendasar, sebelum menempuh pendidikan sekolah dasar.

“Kalau memang ingin berkualitas, tentu saja para pengajar PAUD haruslah minimal berpendidikan sarjana strata satu. Pelan-pelan akan kita berlakukan,” tegasnya, yang bernama lengkap Teguh Henri Sutanto.

Ia berharap, dengan adanya perubahan paradigma pendidikan tingkat PAUD tidak akan mustahil di masa mendatang, pada impian tahun 2045 akan muncul generasi anak didik yang berkualitas dan sangat mumpuni.

“Percaya atau tidak, suatu saat, di tahun 2045 akan ada kader-kader emas yang dihasilkan dari pendidikan PAUD kita. Yakin atau tidak? Kemungkinan akan ada,” ungkapnya, di hadapan seratusan guru. (*)

dan Klik Saja Follow @tribunkaltim serta Tonton Video YoutubeTribunKaltim


Penulis: Budi Susilo
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved