Kontroversi Organisasi Gafatar

Warga Eks Gafatar Merasa Diusir Paksa

Ia merasa sebagai WNI, seharusnya tidak ada pengusiran yang dilakukan oleh WNI yang lainnya.

TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ALIDONA
Warga eks Gafatar di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Pemulangan warga eks Gafatar ke daerah asal mereka ternyata membuat mereka merasa terusir. Pemulangan ini sangat disayangkan, terlebih warga eks Gafatar mengakui bahwa dirinya merupakan bagian dari Warga Negara Indonesia yang seharusnya memiliki hak yang sama dengan masyarakat lainnya.

Seorang warga eks Gafatar yang dipulangkan pada tahap II, Haryanto (34) mengungkapkan pemulangan ini dirasakan sangat tidak berperikemanusiaan dan tidak layak.

Ia merasa sebagai WNI, seharusnya tidak ada pengusiran yang dilakukan oleh WNI yang lainnya.

“Sangat tidak berperikemanusiaan karena tidak layak sebenarnya artinya kita sebagai warga negara Indonesia dalam saling mengusir bahasa kasarnya ini pengusiran sebenarnya tidak layak kita bangsa Indonesia ini saling mengusir, “ katanya.

Ia mengungkapkan, seharusnya meskipun berstatus warga eks Gafatar, namun sebagai anak bangsa ia merasa ditelantarkan oleh bangsanya sendiri. Sedangkan warga asing malahan enak–enakan dan diberikan pelayanan yang baik.

Menurut suami dari Nur Hayati (27), jika pemulangan ini untuk alasan keamanan dari warga eks Gafatar dari kemungkinan adanya aksi anarkis seperti yang telah terjadi di Kalimantan Barat beberapa waktu yang lalu, maka di sinilah titik kelemahan pemerintah, karena seharusnya, pemerintah dapat melindungi anak negeri sendiri.

“Itu adalah kelemahan pemerintah. Masa sih anak-anak warga sendiri tidak bisa dilindungi berarti kalau pemerintah itu tidak bisa melindungi masyarakatnya bagaimana bisa?“ imbuhnya.

Baca: Di Manapun Mereka Tinggal, Warga Eks Gafatar Mengaku Akan Terus Lakukan Program Ketahanan Pangan

Ia juga menyampaikan kerugian yang ia derita karena dipulangkan ini cukup besar. Apalagi alat – alat pertanian yang digunakan juga tidak bisa dibawa pulang. Kalaupun hendak dijual sebelum berangkat maka harganya akan sangat jauh lebih murah bila dibandingkan dengan harga beli.

Dalam keterangannya ia bahkan menyebut siap untuk mencari suaka luar negeri apabila pemerintah bangsa Indonesia sudah tidak dapat menerima warga eks Gafatar

“Barang-barang kami seperti alat pertanian dan yang lainnya tidak bisa dibawa pulang kalau dijual pun tidak sesuai dengan harga yang saat kami beli. Inilah yang tidak diperhatikan Pemerintah, tapi lepas dari ini semua sudah terjadi. Kita akan melihat sampai di mana Kalau memang bangsa ini tidak menerima kita lagi sebagai warga negara Indonesia, kami juga siap untuk minta suaka luar negeri,“ pungkasnya. (*)

dan Klik Saja Follow @tribunkaltim serta Tonton Video YoutubeTribunKaltim

Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved