Valentine

Jangan Kotori Valentine, Sebab Asal Mulanya Penuh Pengorbanan Bukan Hura-hura

Setiap manusia berhak memperoleh kasih sayang, yang bersumber dari Allah, yaitu Kasih Agape. Perayaan Valentine lebih bermakna syukur, jangan dikotori

Jangan Kotori Valentine, Sebab Asal Mulanya Penuh Pengorbanan Bukan Hura-hura
Hand-Over
Jane Shiane, ibu rumah tangga peduli generasi muda, tinggal di Balikpapan. 

PRO-kontra terhadap bentuk peringatan Hari Kasih Sayang atau Valintine’s Day masih berlanjut. Ada pihak yang merayakannya untuk menunjukkan bukti cinta dan kasih sayang kepada pasangan suami atau istri, kekasih atau orang-orang tersayang. Namun dalam perayaan itu, ada segelintir orang salah serta kebablasan memaknainya, lalu diwarnai perilaku menyimpang sehingga mendapat penolakan.

Sejatinya apa Valentine dan bagaimana asal-usulnya? Inilah ulasan Jane Shiane, Alumnus Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Ibu Rumah Tangga Peduli Generasi Muda, Tinggal di Balikpapan.


VALENTINE’S Day adalah hari yang sangat identik dengan Cinta, puisi puisi romantis, hadiah©hadiah, cokelat, yang saat ini sudah bergeser dari cinta sebenarnya.

Ada empat kata untuk pengertian Cinta yang sesungguhnya, menurut bahasa Yunani yaitu, pertama cinta Agape, adalah kasih yang tak bersyarat, selalu memberi, adikodrati, yang mengacu pada kasih yang rela berkorban. Kedua, cinta Philia, adalah kasih antara sahabat, saudara.

BACA JUGA:  Pro Kontra Perayaan Valentine, Beberapa THM Adakan Pesta Kasih Sayang 

(KOMPAS.COM): Ilustrasi - Memberi kado saat hari Valentine

Ketiga, cinta Eros adalah kasih yang menginginkan. Kasih Eros ini tertanam dalam jiwa manusia, bahwa laki-laki terpanggil untuk meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya. Dengan demikian perkawinan yang monogam merupakan penggambaran nyata atas kasih Tuhan yang satu (monotheism) kepada manusia. Cara Tuhan mengasihi manusia, menjadi tolok ukur/contoh bagi kasih manusia.

Dan keempat, cinta Storge, yaitau kasih kodrati seperti antara orang tua kepada anak. Namun ungkapan ke-4 ini jarang digunakan dalam karya tulis kuno.

Halaman
123
Editor: Domu D.Ambarita
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved