Valentine

Jangan Kotori Valentine, Sebab Asal Mulanya Penuh Pengorbanan Bukan Hura-hura

Setiap manusia berhak memperoleh kasih sayang, yang bersumber dari Allah, yaitu Kasih Agape. Perayaan Valentine lebih bermakna syukur, jangan dikotori

Hand-Over
Jane Shiane, ibu rumah tangga peduli generasi muda, tinggal di Balikpapan. 

BACA JUGA:  Banyak Pemuda Berambut Cepak, Razia Polisi Sempat Diwarnai Ketegangan

Menurut pengertian Yunani, eros adalah divine madness, namun penerjemahannya di dalam agama Yunani adalah dengan praktek prostitusi dalam kuil-kuil mereka, di mana manusia seolah-olah dijadikan alat untuk memancing gairah divine madness tersebut. Maka makna eros perlu dimurnikan, jika ingin dikembalikan kepada makna aslinya.

Ada banyak versi yang ditulis tentang sejarah, asal mulanya hari Valentine. Namun salah satu tulisan paling menonjol yaitu tentang semangat yang tulus dari seorang Pastor bernama Valentine yang memperjuangkan cinta yang luhur dari pasangan muda-mudi, dengan meresmikan pernikahan mereka dalam sebuah upacara pemberkatan perkawinan, meskipun pada zaman itu dilarang penguasa.

BACA JUGA:  Valentine Untuk Lucu-lucuan Saja, Bukan Untuk Berhubungan Seks

Valentine hidup pada kerajaan yang saat itu dipimpin Kaisar Claudius, yang terkenal kejam. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamnya. Namun sayangnya, keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan, karena mereka tidak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Claudius berpikir jika pria tidak menikah, mereka akan dengan senang hati bergabung, maka Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal, karenanya Valentine menolak ide gilanya.

BACA JUGA:   Jelang Valentine, Gadis dan Jejaka Ini Siap Jadi Pacar Sewaan

Pastor Valentine tetap melaksanakan tugasnya, antara lain menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksinya ini akhirnya diketahui kaisar yang segera memperingatankan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

Suatu malam, ia tertangkap basah sedang memberkati satu pasangan. Pasangan tersebut melarikan diri, namun malang, Pastor Valentine tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya.

Sejak kematian Valentine, pada tanggal 14 Februari 269 M, kisahnya menyebar dan meluas ke seluruh pelosok di daerah Roma.

Halaman
123
Editor: Domu D.Ambarita
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved