Tak Mampu Bangun Kakus, Aminah Buang Hajat Sembarangan
Alasannya beragam, yang pasti aktivitas ini sudah turun-temurun sejak dahulu.
Penulis: Budi Susilo |
Laporan wartawan TribunKaltim.co, Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR – Sampai kini, sebagian besar masyarakat yang bertempat tinggal di Bulu Perindu, Kelurahan Tanjung Selor Hulu masih terbiasa membuang hajat di aliran Sungai Buaya Tanjung Selor.
Alasannya beragam, yang pasti aktivitas ini sudah turun-temurun sejak dahulu.
Saat ditemui TribunKaltim.co, Aminah Be (38), warga Bulu Perindu, menuturkan, sejak lahir hingga dewasa dirinya sudah terbiasa di lingkungan tempat tinggalnya yang masyarakatnya membuang air besar yang disalurkan ke aliran sungai.
“Saya sudah terbiasa. Rumah saya tidak ada fasilitas kamar mandi yang dilengkapi sanitasi. Kami alirankan saja ke arah sungai,” ungkapnya saat ditemui di Pasar Induk Tanjung Selor, Minggu (21/2/2016).
Perempuan kelahiran Bulu Perindu itu hanya seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua anak dan bersuamikan buruh serbutan yang tidak pasti objek pekerjaannya sebab suaminya bekerja sebagai nelayan kadang juga menjadi tukang bangunan.
“Dari kamar mandi saya kasih pipa yang langsung buang ke sungai. Kadang kotorannya harus berulang kali supaya bisa mengalir langsung ke sungai. Kalau ada kakus pasti sekali siram bisa langsung hilang,” tutur Aminah.
BACA JUGA: Minim Pakan, Telur dan Daging Ayam Picu Inflasi Tinggi
Senada warga lainnya, Mardiah (40), mengungkapkan dirinya merasa tidak mampu membangun kamar mandi yang berfasilitas sanitasi pembuangan air bersih. Dia ingin mengambil cara yang sederhana saja, membuang air besar yang dialirkan ke Sungai Buaya.
“Sempat ada orang kelurahan melakukan sosialiasi gaya hidup bersih. Kami sebenarnya mau saja, tetapi kami belum mampu, belum siap bangun kakus. Kami mau cari yang gampang saja,” katanya.
Ditambahkan, Nurani (36), warga di Bulu Perindu menyadari aktivitas buang air besarnya yang disalurkan ke sungai sangat tidak ramah lingkungan, mencemari sungai yang sumber airnya dimanfaatkan PDAM Bulungan.
“Saya mau saja ada kakus, sanitasi, tetapi saya belum punya uang. Saya berharap pemerintah daerah mau bantu berikan kakus dan bangun sanitasi,” ujarnya.
Ajukan Bantuan 40 Sanitasi ke Pemerintah Pusat
Maraknya praktek buang hajat warga Bulu Perindu di aliran sungai mendapat tanggapan Bupati Bulungan, Sudjati.
Katanya, pemerintah kabupaten akan mencoba memfasilitasi membangun sanitasi dan melalukan kampanye hidup bersih.
“Saya juga tahu gaya hidup warga Bulu Perindu masih belum ramah lingkungan. Hidup di perkotaan tetapi kenapa masih buang air besar sembarangan. Kan sudah tidak cocok lagi,” ujarnya saat ditemui di Pasar Induk Tanjung Selor, Minggu (21/2/2016).
Gaya hidup yang seperti itu tegasnya bisa diubah apabila pemerintah dan warganya bersinergi menciptakan lingkungan yang ramah, indah dan bersih.
“Jangan ada lagi buang air besar sembarangan. Bisa merusak pemandangan ibu kota kita,” tuturnya.
Dahulu kala, kata Sudjati, sepanjang bantaran sungai daratan Tanjung Palas hampir sama dengan orang-orang di Bulu Perindu. Namun seiring berjalan, warganya mau sadar akan hidup bersih kini warga Tanjung Palas sudah tidak lagi buang air besar sembarangan.
Rencananya, akan ada dana dari pemerintah pusat Kementrian Pekerjaan Umum yang akan membangun 40 titik sanitasi, yang nanti diperuntukan bagi warga masyarakat, satu di antaranya di Bulu Perindu.
“Kami sambut baik. Tahun ini akan dibuat surat permohonannya ke pusat,” tuturnya.
Terpisah, Direktur Bina Potensi Masyarakat Kalimantan Utara, Moch Anwar Prasetyo, menuturkan, langkah yang diambil pemerintah kabupaten tersebut adalah tepat. Dana sudah tersedia dari pusat, lagipula anggaran daerah sekarang ini juga mengalami defisit.
“Bagus ajukan ke pemerintah pusat,” katanya.
Dia menjelaskan, program pembanguna sanitasi itu biasa disebut Urban Sanitation Rural Infrastructure yang menyediakan satu instalasi pengelolaan limbah hajat untuk lingkungan rumah tangga.
“Satu Ipal bisa untuk 100 saluran rumah tangga,” ungkapnya.
Yang penting, tegasnya, Pemkab Bulungan bersama warga pembutuh sanitasi ada sinergi, kerja sama dan kesadaran bersama mewujudkan lingkungan yang bersih. Buang air besar sembarangan memberi dampak banyak negatif, satu di antaranya menimbulkan penyakit.
“Kami akan bantu memfasilitasi. Membuat proposal permohnan ke pemerintah pusat,” tutur Anwar. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/tanjung-selor_jamban-warga-bulu-perindu_20160208_093318.jpg)