Wow, Inilah Pelancong Pertama yang Susuri Sungai Karang Mumus
Ini baru awal, dan ternyata dari langkah awal ini saja warga sekitar (motoris dan yang memiliki perahu) sudah kecipratan dari pelancongan spontan ini.
SAMARINDA, TRIBUN - Gerakan memungut sehelai sampah di Sungai Karang Mumus (SKM) Samarinda yang dirintis enam bulan lalu, mulai membuahkan hasil. Kondisi sungai di pangkalan pungut yang sebelumnya dipenuhi buangan sampah, kini tampak lebih bersih. Sepanjang tepiannya pun asri oleh pepohonan.
Keadaan ini rupanya menarik lebih banyak orang dari berbagai komunitas warga untuk merawatnya. Bahkan, belasan mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda spontan melancong. Dengan tiga perahu motor, Minggu (21/2/2016) pagi, mereka menyusuri sungai yang berhulu di bendungan Benanga itu.
Baca juga: Trans (Studio) Wisata
"Ini baru pertama kali ada yang mencoba melancong di sungai ini. Kebetulan ada perahu dilengkapi mesin, kekurangannya, termasuk mesin dan motoris kita berdayakan warga sekitar," kata Misman, inisiator gerakan memungut sehelai sampah di SKM, Minggu di pangkalan pungut.
Misman meyakini kelak mimpinya dan mimpi warga Samarinda lainnya, yang ingin menjadikannya layaknya sungai-sungai di Eropa -- bersih dan tertata -- akan terwujud.

"Ini baru awal, dan ternyata dari langkah awal ini saja warga sekitar (motoris dan yang memiliki perahu) sudah kecipratan dari pelancongan spontan ini. Bisa dibayangkan berapa besar lagi manfaat yang didapat jika kelak sungai ini sudah benar-benar bersih dan terawat, sehingga banyak pelancong datang," jelasnya.
Hampir saban hari kegiatan pemungutan terus berjalan. Sejak pukul 07.00 kemarin terlihat puluhan mahasiswa IAIN Samarinda, tanpa jijik meungut sampah-sampah itu di sekitar pangkalan jembatan Kehewanan. Ada pula warga dari Kelompok Wirausaha Samarinda (KWS), dan Gerakan Mahasiswa Pecinta Alam (Gempa). Itu belum lagi pada sore hari yang juga dilakukan sejumlah komunitas lain, memungut sekaligus menikmati keasrian sungai.
Bunyamin, Pembantu Dekan III IAIN Samarinda mengakui para mahasiswanya sengaja melakukan trip setelah melihat mulai bersihnya sungai di sekitar pangkalan pungut. "Ini kami lakukan setelah memungut sampah. Kami tertarik dengan besarnya potensi wisata sungai di kota ini. Kami ingin tahu bagaimana kondisi di sepanjang sungai dan bagian hulunya."
Menurutnya, kesadaran untuk tidak membuang sampah harus terus dilakukan. Kalau pun orang tak mau memungut, minimal tidak menjadikan sungai ini sebagi tong sampah. Dan melalui gerakan ini banyak orang sudah mulai tergugah kesadarannya.
Tetapi, sebaik-baiknya orang adalah yang tidak cuma berteori. Melainkan mereka yang terjun langsung memungut sampah, seperti dicontohkan oleh Rasullawah Muhammad SAW.
"Kalau saja Walikota sampai aparatnya di bawah bersedia turun langsung, dan mau mengggerakkan seluruh elemen warganya untuk bagaimana menata sungai ini, tentu akan segera tuntas masalah ini," ungkap Bunyamin yang juga seorang ulama ini.
Subuh kemarin, dalam ceramahnya di Masjid Raya (Darussalam), Ust Bunyamin sengaja memilih tema sampah untuk menggugah kesadaran warga. Itu pula yang ia lakukan sehari sebelumnya ketika berkhotbah di sebuah masjid di tepian SKM. Dalam kapasitasnya sebagai dosen, ia juga menggiring para mahasiswanya untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan dengan cara antara lain, memungut sampah ini.(bin/dha)
Siapkan Kios Cinderamata
Banyaknya warga yang ingin berpartisipasi dalam gerakan memungut sehelai sampah, membuat Misman berencana membuat pangkalan pungut serupa di bagian hulu. Setidaknya akan ada empat pangkalan pungut tambahan yang akan dikelola bersama.
Pangkalan baru itu rencananya di Jembatan Baru, Pasar Segiri, Jembatan Ruhui Rahayu, dan Griya Mukti.
"Mereka berinisiatip mendirikannya di sana. Semakin banyak yang terlibat dan pangkalan dibuat, manajemen perawatan sungai ini tentu akan lebih mudah dilakukan," kata Misman bersama Ketua RT 7 Jln Abdul Muthalib, Bahtiar atau akrab disapa Iyau Tupang, Minggu.
Pangkalan pungut di jembatan Kehewanan ini menjadi percontohan. Di sini pula akan dibuat posko yang sekaligus untuk jualan cinderamata (souvenirs) baik berupa kaos, gantungan kunci, topi atau lainnya.
"Makin banyak orang datang ke sini (pangkalan pungut). Ada yang sekedar selfie, tak masalah. Bagi kami itu sudah bagus, bahwa sungai yang bersih dan asri itu sebenarnya untuk kita semua. Karena itu, kami juga akan bangun kios souvenirs," jelasnya.
Di sekitar pangkalan pungut, di antara rindangnya pepohonan, telah dipasang sebuah photobooth Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM. Latarnya adalah sungai dan jembatan Kehewanan. "Biasanya, habis pungut, mereka lalu berfoto di sini," kata Yustinus Sapto Hardjanto yang menyediakan photobooth ini untuk lebih meramaikan kegiatan ini.(bin/dha)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/skm_trip1_20160222_144135.jpg)