Breaking News:

Polisi Pemutilasi Anak Kandung

Mengapa Sang Brigadir Tega Memutilasi Kedua Anaknya? Ini Kajiannya dari Sisi Psikologi

Bila ternyata yang benar adalah pernyataan Kapolda Kalbar bahwa Brigadir Petrus mengidap skizophrenia, seperti apakah gangguan mental ini?

SHUTTERSTOCK
Ilustrasi mutilasi 

TRIBUNKALTIM.CO -  Brigadir Petrus Bakus, anggota Sat Intelkam Polres Melawi, Kalimantan Barat yang tega melakukan tindakan yang sadis, menyita perhatian khalayak.

Peristiwa mengerikan itu terjadi pada Jumat (26/2/2016) sekitar pukul 00.40 WIB dini hari.

Sebelumnya Kapolda Kalimantan Barat (Kalbar) Brigjen Pol Arief Sulistyanto mengatakan, ada dugaan Brigadir Petrus terkena penyakit mental skhizophrenia.

Sementara Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti meralat dan menyatakan kalau pelaku tidak mengalami gangguan jiwa melainkan hanya kesurupan.

Benarkah demikian?

Bila ternyata yang benar adalah pernyataan Kapolda Kalbar bahwa Brigadir Petrus mengidap skizophrenia, seperti apakah gangguan mental ini?

Berikut kajian dari dokter spesialis kedokteran jiwa.

Berdasar arsip Tribun temu media dengan Dr A A Ayu Agung Kusumawardhani SpKJ(K), pada 20 Oktober 2014, saat itu ia menjabat sebagai Ketua Seksi Skizofrenia Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengatakan, gangguan ini bisa diobati, bukan hal akhir dari segala-galanya.

Ia menyebut skizofrenia adalah gangguan di bagian otak.

Penyakit ini dipicu sebuah masalah dan ia memiliki masalah di bagian otak, bukan guna-guna, kutukan, atau santet.

Halaman
1234
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved