Siswa: Kami Bela Pak Gunawan, Beliau Tidak Salah
Mamad mengaku tidak takut menolak pungutan ini. Saat ini Mamad merasa tenang karena tidak ada lagi pungutan Rp 500.000.
Penulis: tribunkaltim |
TRIBUNKALTIM.CO - SEJUMLAH siswa SMKN 12 Samarinda terlihat berkumpul di tempat parkiran sekolah, Senin (29/2/2016).
Mereka menunggu guru yang tengah menggelar rapat tertutup dengan kepala sekolah dan anggota DPRD Samarinda membahas soal pungutan sekolah yang sempat bikin heboh. Sebagian dari siswa menolak adanya pungutan tersebut.
Siang itu, Muhammad Alfadi atau akrab dipanggil Mamad bersama 15 siswa lainnya duduk di depan kantor Kepala Sekolah SMKN 2 Samarinda. Mamad merupakan siswa Kelas III Jurusan Bodi Otomotif. Dia satu di antara siswa yang menolak adanya pungutan sekolah senilai Rp 500.000.
Sambil bercanda dengan teman-temannya, Mamad menunggu gurunya, Pak Gunawan yang saat itu ikut rapat bersama anggota DPRD Samarinda.
"Ini kami menunggu pak Gunawan. Beliau baik sama kita, pak Gunawan memperjuangkan nasib kita. Saat ini sudah tidak ada lagi pungutan Rp 500.000, beliau yang membantu," ujar Mamad.
"Kami menolak membayar pungutan tersebut karena kami kebanyakan orang tidak mampu. Orang tua kami korban PHK perusahaan tambang. Sekarang gaji orang tua kami hanya Rp 1 juta, tidak cukup untuk membayar iuran sekolah sebanyak itu. Kalau untuk bayar sekolah Rp 500.000, lalu keluarga kami makan apa," ujar Mamad lirih.
(Baca juga: Telanjur Bayar, Uang Dikembalikan, Persoalan Pungutan di SMKN 12 Dianggap Selesai)
Mamad mengaku tidak takut menolak pungutan ini. Saat ini Mamad merasa tenang karena tidak ada lagi pungutan Rp 500.000.
"Kami membela pak Gunawan, beliau tidak salah, karena membela kami. Disdik saja melarang ada pungutan, masa sekolah mau membebani siswanya," tuturnya.
Ia dan teman-temannya sudah tiga kali dipanggil wali kelas. "Kami sudah dipanggil dua kali, panggilan tersebut melalui wakil kelas. Kami dipanggil karena protes masalah dana pungutan. Siswa yang dipanggil yang ikut ke kantor Tribun Kaltim dan kantor beberapa media yang lain," katanya.
Pria warga Loa Buah ini kasihan melihat guru yang sudah memperjuangkan nasibnya bersama teman- temannya.
"Kami kasian lihat pak Gunawan, pastinya akan dimusuhi sekolah. Saat ini beliau sudah dimusuhi," tuturnya.
Di tempat yang sama Gunawan, guru PPKN SMKN 12 Samarinda mengatakan, kebanyakan siswa dari keluarga yang tidak mampu. Mereka kebanyakan korban PHK, sehingga bekerja serabutan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/rupiah-lagi_20151009_194952.jpg)
