SALAM TRIBUN

Bahasa Inggris

Mereka bilang Malaysia dan Indonesia adalah negeri serumpun. Ini berkait dengan kemiripan yang dimiliki kedua bangsa bertetangga ini.

DOK TRIBUNKALTIM

SALAM TRIBUN

Bahasa Inggris
Oleh ACHMAD BINTORO

Mereka bilang Malaysia dan Indonesia adalah negeri serumpun. Ini berkait dengan kemiripan yang dimiliki kedua bangsa bertetangga ini. Mulai adat istiadat, budaya, kuliner, kesantunan, dan sudah tentu bahasa. Nyaris sama. Tapi lihatlah bagaimana penguasaan warga Malaysia terhadap bahasa asing, bahasa Inggris, sungguh jauh di atas kita, Indonesia.

Saya pikir masih bisa dimengerti alasannya kalau melihat kalangan terpelajar di Malaysia fasih berbahasa Inggris. Mereka bergelut dengan ilmu. Juga kalau banyak karyawan di bandara, konter imigrasi dan sopir-sopir taksi ber-cas cis cus, pun masih bisa dipahami. Bisa saja itu bagian dari upaya pemerintah dalam menyiapkan seluruh SDM-nya untuk menyambut wisatawan asing yang berbondong-bondong ingin menyaksikan kebenaran tagline "Malaysia, Truly Asia".

Tapi malam tadi, saya harus angkat kedua jempol. Bahasa global itu ternyata dikuasai merata oleh sebagian besar warga Malaysia. Tak peduli dari kota, pelosok atau negara bagian mana pun mereka berasal.

Tak jauh dari tempat saya menginap, di sebuah jalan di Kota Damansara, Petaling Jaya, ada sebuah kios ban (pusat tayar). Kios ini buka sampai malam. Kebetulan, mobil Prof Dr Haizal Haron Kamar -- ahli jantung dari rumah sakit ternama RS Tropicana Medical Center Malaysia -- mogok. Malam itu saya bersama dua kawan, Irma Diansari dan Nuryuli Rahmadani, ditraktirnya di sebuah kafe. Kami satu tim dalam pengembangan pemasaran Isagenix, dan tengah mengikuti pelatihan di Kuala Lumpur oleh dua Isagenix millionaire dari AS, Michael Clouse dan Lynn Hagedorn.

Siapa sangka begitu akan lanjutkan hangout, mobil mendadak tak bisa nyala. Haizal memang jago mereparasi jantung. Pasiennya datang dari berbagai negara, termasuk indonesia. Tetapi, lulusan sebuah universitas ternama di London ini awam mengenai mesin mobil. Cukup lama kami coba mengutak-atik apa penyebab sebenarnya. Hingga Irma sampai pada dugaan bahwa mobil matik yang masih relatif baru ini mogok karena baterai (aki). Celakanya, tak ada jumper.

Beruntung masih ada kios buka. Berjalan kaki beberapa puluh meter, kami pun meminta si tukang ban itu memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Singkat cerita, benar penyebabnya adalah daya aki yang sudah lemah. Harus diganti baru. Ya, Haizal boleh jago dalam reparasi jantung tapi perempuan bertubuh mungil, pemilik travel agent PT Borneo Kersik Luway itu lebih jago untuk urusan mesin mobil.

Tentu saya di sini tidak sedang membicarakan mesin mobil. Yang ingin saya sampaikan adalah, betapa seorang tukang ban pun ternyata demikian fasih berbahasa Inggris. Bandingkan dengan di Indonesia. Lebih dari enam tahun kita diajarkan bahasa Inggris di sekolah tapi tak membuat kita mampu berbicara. Anak didik sekedar diajari tenses tanpa pernah tahu pembagian kelas kata. Diajarkan rumus-rumus menyusun kalimat tanpa tahu maksud penggunaannya. Pekerjaan rumuh bertumpuk tanpa pengaplikasian speaking.

Kemampuan masyarakat Indonesia berbahasa Inggris berada di peringkat ke-28 di antara 63 negara, menurut penelitian English Proficiency Index 2014. Menurut Wakil Presiden Bidang Akademik English First (EF) Christopher McCormick, Indonesia meraih skor 52,74 poin dalam penelitian kali keempat itu. asih di bawah Malaysia dan Singapura.

Tidakkah kita merasa bahwa ada yang salah dengan sistem pembelajaran bahasa Inggris di negeri ini?

Kalau pun anak-anak kita bisa berbahasa Inggris, lebih karena usaha sendiri. Misalnya lewat kursus atau les privat. Guru-guru bahasa Inggris di sekolah sejauh ini baru sekedar mengelompokkan anak didik. Ini lho kelompok anak yang pintar berbahasa Inggris, lalu sedikit memolesnya agar mewakili sekolah dalam berbagai lomba. Itu saja!

Tak heran kalau para orang tua merasa belajar di bangku sekolah saja belum cukup. Maka, tempat- tempat kursus pun dibanjiri siswa. Tapi saya tak melihat adanya tempat-tempat les bahasa Inggris di Kuala Lumpur sebanyak dan semembludak seperti di kota-kota besar di Indonesia. Para peserta didik di Malaysia mengandalkan pelajaran bahasa Inggris cukup di sekolah dengan praktek sehari- hari di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Malaysia menerapkan pelajaran Bahasa Inggris sejak Pre-School atau Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Tujuh puluh tahun kita membiarkan "kesalahan" dalam pola pembelajaran bahasa Inggris. Kita juga membiarkan "kesalahan" yang sama dalam pembalajaran bahasa kita sendiri, Indonesia. Bahasa pada hakikatnya adalah sebuah ketrampilan. Tapi anak-anak didik terus saja dijejali dengan teori-teori mengenai kalimat dan wacana, tanpa pernah tahu bagaimana membuat tulisan, bagaimana berbicara yang menarik, dan bagaimana efektif dalam menyimak.

Apakah kita masih akan terus membiarkan ketertinggalan ini terjadi? (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved