Kisah Pilu Sumini, Seorang Guru yang Dicap Komunis

di usia yang sudah menginjak 70 tahun pun ia masih tidak memahami apa yang menjadi dosa besar dirinya ketika memutuskan untuk bergabung dengan Gerwani

Kisah Pilu Sumini, Seorang Guru yang Dicap Komunis
Kompas.com
Sumini, mantan ketua Gerwani ranting Pati, Jawa Tengah. Pasca G 30 S, dia ditangkap dan ditahan selama 6,5 tahun tanpa proses pengadilan. 

TRIBUNKALTIM.CO - Masih lekat diingatan Sumini bagaimana dirinya ditahan selama hampir 6,5 tahun hanya karena pernah menjadi Ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) ranting Pati, Jawa Tengah.

Siksaan demi siksaan, stigma bahkan cemoohan harus dia terima selama mendekam di penjara.

Kini, di usia yang sudah menginjak 70 tahun pun ia masih tidak memahami apa yang menjadi dosa besar dirinya ketika memutuskan untuk bergabung dengan Gerwani.

baca juga : Kata Nelayan, Ahok Jangan Ngomong Kalau Enggak Tahu

"Kami dibilang bejat moralnya. Itu setiap hari yang masih saya dengar. Belum lagi digebuki setiap pemeriksaan," kata Sumini saat ditemui di sela acara Simposium Membedah Tragedi 1965 di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (18/4/2016).

Sumini menceritakan, ketertarikannya terhadap Gerwani muncul karena melihat program-programnya yang sangat berpihak pada perempuan.

Dulu di Pati, adalah sebuah kewajaran ketika seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas 2 Sekolah Rakyat dipaksa untuk menikah.

Saat itu, kata Sumini, Gerwani mengeluarkan larangan terhadap praktik perkawinan terhadap anak perempuan yang masih di bawah umur.

Selain itu, Gerwani juga menjadi organisasi perempuan pertama yang merespon ketika pemerintah mencanangkan pemberantasan buta huruf. Sepulang kerja, Sumini selalu mengajar membaca dan menulis anak-anak di desanya.

baca juga : Didatangi Petugas Samsat, Perusahaan Pura-pura Lupa Belum Bayar Pajak

Bahkan ketika di saat itu belum ada Taman Kanak-Kanak, dia bersama teman-temannya di Gerwani berinisiatif untuk membangan TK Melati pertama di Pati.

"Kalau pagi saya kerja. Malam ngajar buta huruf. Lalu saya berhenti kerja, mengajar di TK melati. Waktu itu belum ada TK. Tapi Gerwani sudah membuat TK melati. Saya ikut karena program-programnya menyentuh hati saya," ungkapnya. (*)

*** Perbarui informasi terkini, unik, dan menarik melalui medsos. Join BBM Channel, invite PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved