Salam Tribun
Paranoia Orangtua
Belum lagi di sekolah, di perjalanan pulang ke rumah, teman-teman bermain.. aduh rasanya kita bisa jadi gila sendiri.
TINDAKAN sadis nan brutal makin menggurita.
Begitu kasus Yuyun, siswi SMP yang menjadi korban perkosaan dan pembunuhan di Lampung terungkap ke publik, satu per satu kasus serupa muncul di berbagai penjuru Indonesia.
Dalam beberapa hari saja terungkap kasus perkosaan remaja di Manado, anak balita di Aceh dan Bogor, kemudian Surabaya. Sebelumnya di DKI Jakarta dan terus menyebar ke mana-mana.
Kalau mau ditelusuri setahun saja ke belakang, peristiwa itu bisa tak terhitung lagi saking banyaknya.
Data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan, sepanjang tahun 2015, tercatat 16.217 kasus kekerasan terhadap perempuan.
Baca: Ternyata 7 Pemerkosa dan Pembunuh Yn Masih Remaja, Mereka Dituntut 10 Tahun Penjara
Dari tahun 2001-2012, data Komnas Perempuan menunjukkan, setiap dua jam, tiga perempuan termasuk anak perempuan di bawah umur menjadi korban kekerasan seksual!

Bagai fenomena gunung es, hampir setiap hari, setiap menit, media massa, terutama situs berita online memberitakan kasus serupa.
Korban bisa dipastikan adalah balita, anak-anak, dan remaja yang kebanyakan perempuan juga tidak memiliki kuasa dan berdaya.
Sebagai orang dewasa yang waras, apalagi sudah menjadi orangtua dan memiliki anak-anak, tentu saja peristiwa itu membuat kita ketar-ketir.
Mengapa manusia begitu kejam, biadab, sadis, entah apa lagi sebutannya sehingga memiliki sifat-sifat seperti iblis dari neraka.
Rasanya seperti tak ada lagi orang yang bisa dipercaya. Dahulu, mungkin orangtua yang sama-sama bekerja bisa menitipkan anak-anaknya pada kerabat terdekat, tetangga, atau pengasuh tanpa merasa khawatir.
Baca: Gubernur Lebih Baik Perhatikan Kasus Perkosaan Anak Ketimbang Berangkat ke Rusia
Namun, dengan semua bombardir peristiwa-peristiwa itu yang tersisa kini hanyalah sikap paranoid.
Apakah aman anak kita titipkan? Mengingat banyak kejadian buruk yang dilakukan orang terdekat, orang yang mengenal kehidupan kita sehari-hari, dan tidak pernah kita sangka sama sekali.
Belum lagi di sekolah, di perjalanan pulang ke rumah, teman-teman bermain.. aduh rasanya kita bisa jadi gila sendiri memikirkan betapa tak amannya dunia anak-anak saat ini.

Tentu tidak semua orang bisa kita generalisasikan memiliki sifat-sifat jahat seperti itu. Tapi apakah kita harus menutup mata dan menafikan bahwa kejadian itu jauh dari lingkungan sekitar kita?
Waspada, jangan lengah, mungkin itulah yang bisa dilakukan para orangtua saat ini. Mengekang anak walau maksudnya baik juga tidak selalu positif karena akan menimbulkan sikap pemberontakan, tidak mandiri, bahkan bisa membuat manja dan lemah.
Ada baiknya sebagai orangtua meski sibuk bisa memperhatikan keamanan anak. Apa saja aktivitas anak seharian, kemana saja mereka pergi, dan dengan siapa mereka berinteraksi. Melindungi bukan selalu membuntuti.
Baca: Saksi Minim, Pelaku Perkosaan Bocah SD Masih Berkeliaran
Seperti lirik indah lagu Sleeping Child milik Michael Learns To Rock (MLTR).
Oh my sleeping child the world's so wild, but you've build your own paradise
That's one reason why I'll cover you sleeping child
I'm gonna cover my sleeping child, keep you away from the world so wild
Ya dunia yang kita tinggali memang kejam saat ini, tapi anak-anak tetaplah harus memiliki surganya sendiri.

Bermain, belajar, dengan tenang, aman, dan nyaman. Menciptakan imajinasi-imajinasi indah sehingga kelak mereka bisa memiliki kreativitas tanpa batas.
Karena itu, tugas kitalah, orang dewasa untuk menjaga anak-anak polos ini. Menjauhkan mereka dari kejahatan dunia yang semakin masif dan mendiaspora. (*)
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pencabulan-anak_20160513_172633.jpg)