Jumat, 8 Mei 2026

Ramadhanku

Di Ponpes Al Mujahidin, Para Santri Belajar Pakai Tablet

Bermodalkan lahan seluas 0,6 hektare dan sebuah rumah kayu ukuran 6x6 meter hasil wakaf Addu Syukur Daha yang juga Pimpinan Daerah Muhammadiyah.

Tayang:
TRIBUN KALTIM/RUDY FIRMANTO
Bangunan Pondok Pesantren Terpadu Al Mujahidin yang berada di Km 10. Beberapa titik di lokasi ini sudah dilengkapi dengan hotspot zone sehingga para santri dengan mudah mengakses internet. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Tak banyak yang mengetahui bila Pondok Pesantren Terpadu Al Mujahidin merupakan ponpes pertama yang berdiri di Kota Balikpapan.

Lokasinya yang berada di Kilometer 10 Jalan Poros Balikpapan-Samarinda membuat lembaga pendidikan yang berafiliasi dengan Muhammadiyah ini memiliki suasana tenang dari hiruk-pikuk perkotaan.

Mas'ud Asyhadi, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren sedikit menceritakan, sejarah Ponpes Al Mujahidin saat ditemui Tribun Kaltim di Ruangannya, Minggu (5/6/2016). Tahun 1979 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Balikpapan dan Wilayah Pasir membentuk kepanitiaan pembangunan panti asuhan dan pondok pesantren yang diketuai Muhammad Adnan.

Dimana akhirnya diberi nama Pondok Pesantren Al Mujahidin Balikpapan, yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Kilometer 10 Desa Karang Joang Kecamatan Balikpapan Utara.

Baca: Kalau Balikpapan Islamic Center Sudah Jadi, Kakek Ini Mau Merasakan Shalat di Sana

"Pada waktu itu para pendiri melihat Balikpapan ke depan akan menjadi kota besar, tentunya membutuhkan juru dakwah banyak, sedangkan lembaga pendidikan yang ada sudah tak bisa menampung sehingga diputuskan bangun ponpes ini," kata Mas'ud.

Bermodalkan lahan seluas 0,6 hektare dan sebuah rumah kayu ukuran 6x6 meter hasil wakaf Addu Syukur Daha yang juga Pimpinan Daerah Muhammadiyah Balikpapan dan Wilayah Pasir pada waktu itu.

Untuk santrinya didatangkan langsung dari Desa Semoi yang dahulu masih menjadi bagian dari Kota Balikpapan. Walaupun sempat jatuh bangun pada akhirnya Ponpes Al Mujahidin menjelma menjadi salah satu lembaga pendidikan yang cukup diakui tak hanya tingkat nasional tetapi juga internasional.

"Secara resmi Ponpes ini didirikan tahun 1981 dan beroperasi tahun 1982 atau sudah 35 tahun eksistensinya," ujarnya.

Luas lahan pun ikut bertambah seiring waktu dan saat ini sekitar 7 hektare dan mempunyai santri sebanyak 850 mulai jenjang SMP hingga SMA.

"Awalnya memang pondok pesantren tetapi karena kita ingin anak-anak juga harus mendapatkan pendidikan formal akhirnya kita dirikan sekolah, sehingga konsepnya sekolah terpadu karena penggabungan sekolah formal dengan pondok," katanya.

Dimana untuk SMP Muhammadiyah 3 Al Mujahidin dan SMA Muhammadiyah 3 Al Mujahidin masing-masing memiliki akreditasi A sehingga lulusan yang dihasilkan sanggup untuk berasaing melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

"Kita 3 kali mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika dimana santri kita belajar selama 1 tahun di sana selain ada kunjungan dari luar ke pondok pesantren kita," katanya.

Baca: Pembangunan Balikpapan Islamic Center Dikebut, Jemaah Nanti Akan Serasa di Nabawi

Untuk santrinya pun juga ada yang berasal dari Malaysia untuk menimba Ilmu di Al Mujahidin. Walaupun suasana keagamaannya sangat kental di tempat ini ternyata rasio pendidikan yang diberikan sekolah lebih banyak materi umum layaknya sekolah formal lainnya.

"Sebanyak 60 persen materi umum dan 40 persen agama, itu bedanya kita dengan ponpes lainnya, kita tetap utamakan pendidikan formal sehingga nantinya ketika mereka lulus mendapatkan 2 ijazah yakni ijazah sekolah dan ijazah pondok," katanya.

Walaupun begitu target lulusan Al Mijahidin tak main-main yakni para santri harus menghafal beberapa surat yang ada di Al Quran. Selain itu kesan pondok modern layak disematkan padanya. Bagaimana tidak, penerapan teknologi terkini sangat dimaksimalkan oleh para pengajar juga santri.

"Dalam menyampaikan materi secara bertahap kita sudah tidak konvensional lagi, jadi setiap santri memegang alat elektronik Tablet dalam pembelajaran setiap harinya, itu yang mulai kita terapkan karena memang sudah tuntutan zaman," katanya.

Selain itu beberapa titik sekolah sudah dilengkapi dengan Hotspot zone sehingga para santri dengan mudah mengakses internet.

"Internet bagai pisau bermata dua bisa bermanfaat bisa pula ancaman, tetapi situasi ini harus disikapi positif anggap sebagai tantangan, selalu beri pemahaman kepada santri apa konsekuensi yang setiap mereka ambil, toh kita halangi juga tidak mungkin," katanya bijak.

Untuk lulusan tidak perlu dikhawatirkan hampir seluruh perguruan tinggi bergengsi di Indonesia ada alumni Ponpes Al Mujahidin.

"Jadi kemarin saya sempat ada pertemuan dengan para alumni di Malang Jawa Timur, sehingga kita tahu mereka melanjutkan ke perguruan tinggi mana saja, dan Alhamdulillah bisa masuk ke yang bagus," katanya.

Setelah menempuh pendidikan masih banyak pula yang pada akhirnya mengabdi di Al Mujahidin khususnya yang mengajar.

"Kepala sekolah dan jabatan penting di sini semua dari alumni kita, alasannya mereka sudah paham karakter Al Mujahidin seperti apa sehingga kedepannya terus dijaga dengan baik," katanya.

Menyambut bulan Suci Ramadhan 1437 H Mas'ud mengatakan, para santri hanya masuk selama satu minggu diawal puasa, selebihnya libur hingga usai lebaran.

"Kebetulan Ramadhan bertepatan berakhirnya kalender pendidikan sehingga kita juga memutuskan untuk memulangkan para santri ke rumah masing-masing dan baru kembali setelah lebaran," katanya. (*)

***

Perbarui informasi terkini, unik, dan menarik melalui medsos.

Join BBM Channel, invite PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved