Ramadhanku
Santri Satu Asrama Disatukan di Kelas, Harus Puasa Senin dan Kamis
Bukan hanya itu, tahun ini juga akan mulai diterapkan dua bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.
Penulis: Samir |
BERDIRI sejak 2007 lalu, Pondok Pesantren (Ponpes) Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Penajam telah meluluskan lebih 500 santri. Tahun ini pesantren di bawah naungan Yayasan Sabilar Arsyad ini mulai mengajarkan kitab kuning atau kitab gundul kepada santri-santriwati.
PONPES Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Penajam sebenarnya sudah didirikan sejak 2003 di kilometer 2, Penajam. Namun, baru menerima santri-santriwati pada 2007. Awalnya Yayasan Sabilar Arsyad mendirikan MTs Al Banjari dan Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Sejak berdiri sampai sekarang, pesantren ini cukup diminati anak-anak dari Penajam dan sekitarnya yang ingin menuntut ilmu Agama Islam.
Terbukti, para santri-santiwati bukan hanya berasal dari Penajam, namun juga dari Waru, Babulu bahkan sampai Long Ikis, Paser. Bahkan sejumlah anak karyawan PT WKP juga menuntut ilmu di tempat ini.
Ahmad Yamani, pengurus Yayasan Sabilar Arsyad menjelaskan, sampai sekarang jumlah santri mencapai 114 orang dengan menyediakan enam ruang belajar. Dalam proses belajar mengajar dipisahkan antara santri dan santriwati.
"Jadi kami memiliki dua gedung untuk ruang kelas sekaligus asrama. Untuk gedung satu itu diperuntukkan bagi santriwati dan gedung kedua untuk santri laki-laki," ujarnya.
(Baca juga: Lulusan Ponpes Modern Al Muttaqien Diharapkan Jadi Cendekiawan dan Wirausahawan Muslim)
Satu gedung terdiri dua lantai. Lantai pertama digunakan sebagai asrama, sementara lantai dua diperuntukkan untuk ruang kelas. Yang unik dari asrama ini, santri satu asrama juga disatukan dalam satu kelas.
Yamani mengaku, pesantren ini masih terus melakukan upaya peningkatan kualitas. Tahun ini akan mulai mengajarkan kitab kuning atau kitab gundul. Hal ini dilakukan agar para santri bisa lebih mendalami lagi kandungan Al Quran.
Bukan hanya itu, tahun ini juga akan mulai diterapkan dua bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, terutama pada saat santri berada di kelas maupun lingkungan pesantren.
Selain mendidik santri dengan memberikan pelajaran Islam, Ponpes Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari kata Yamani, juga mengharuskan para santri-santriwati berpuasa Senin dan Kamis. Dikemukakan, dengan puasa dua kali seminggu ini, minimal para santri bisa menjaga moral dan sikap mereka.
"Biasanya kalau tahun ajaran baru, santri baru kami belum wajibkan, tapi lama-lama mereka juga akan ikut, karena di lingkungan pesantren para santri terutama kelas dua dan tiga sudah harus puasa Senin-Kamis. Jadi lama-lama mereka juga akan terbiasa dan ikut puasa," ucapnya.
Bukan hanya itu, untuk mendidik kedisiplinan para santri, mereka juga diharuskan melakukan shalat tahajud atau shalat malam secara berjamaah.
Sejak pukul 04.00 Wita para santri akan mulai bangun melaksanakan persiapan shalat subuh dan mengaji sampai pukul 07.00 dan dilanjutkan dengan masuk kelas.
Prestasi yang diraih para santri cukup disegani di wilayah PPU.
Setiap lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kabupaten PPU, mulai kaligrafi, tahfifz sampai tilawah, santri Ponpes Syakh Muhammad Arsyad Al Banjari selalu juara. Sayang saat mereka mengikuti lomba tingkat Kaltim, belum mampu bersaing. (samir)
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/santri-belajar_20160612_120357.jpg)