Kisah BlackBerry, Dulu Raja Sekarang Rakyat Biasa

Cepat puas dan tak ingin berinovasi menjadi penyebab bisnis yang kita lakoni seringkali membuat kesuksesan usaha tidak bertahan lama.

Kisah BlackBerry, Dulu Raja Sekarang Rakyat Biasa
BlackBerry
BlackBerry P 9983 Graphite 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Di dunia ini tidak ada yang abadi. Sebuah perusahaan yang dulunya raja di bidangnya, kini perlahan turun kastanya. Firman Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran: 26-27 tentang kehendak bebas-Nya untuk mengangkat dan menurunkan para penguasa, juga berlaku di dunia teknologi.

Contohnya RIM (Research in Motion), perusahaan asal Kanada yang membuat BlackBerry. Kisah kesuksesan sekaligus merosotnya RIM dan BlackBerry ini dibahas dalam Kajian Muamalah dan Wirausaha Ramadhan bersama ustad Muflih Safitra Msc di Masjid An-Nasai, Sabtu (18/6) subuh.

Dulu sewaktu baru lahir, BlackBerry begitu cepat mendunia. Hampir semua orang ingin memiliki ponsel BlackBerry. Namun begitu pesaingnya, iPhone muncul dengan konsep layar sentuh total, plus dirilisnya ponsel G1 berbasis Android oleh T-Mobile dan Google, membuat banyak kalangan yang dulunya mendukung RIM dengan BB-nya kemudian berbalik haluan.

Salah satu senjata maut andalan Apple dan Google untuk memukul BlackBerry adalah dari sisi ketersediaan aplikasi alias App. Apple lebih dulu melesat dengan Apple Apps Store. Sementara Google melaju kemudian dengan Google Play (dulunya Android Market). Kedua ekosistem pasar aplikasi inilah yang diyakini menyebabkan ponsel cerdas seperti BlackBerry dirasa tidak cerdas lagi. Setidaknya tidak secerdas dulu ketika pesaingnya hanya Nokia dengan Symbian-nya atau feature phone dengan sistem operasi BREW-nya.

Apa yang terjadi pada RIM dengan BlackBerry-nya itu juga terjadi di beberapa brand ternama di Indonesia. Contoh Dagadu. Dulu kaos Dagadu sempat sangat terkenal di beberapa kota besar di Indonesia. Tapi lambat laun popularitasnya menurun.

Bukan karena kualitas bahan kaos dan sablonnya, melainkan tempat memperolehnya. Konsumen mencintai kaos Dagadu yang hanya bisa dibeli secara eksklusif di Yogya. Tapi kini tidak terjadi lagi. Kaos Dagadu bisa juga dibeli di pasar tradisional atau mall. Konsumen pun mulai berpandangan lain. "Begitu kesan eksklusif itu hilang, maka popularitasnya langsung merosot," kata Muflih.

Dari kisah-kisah di atas, ada pesan penting yang dapat kita ambil sebagai hikmah. Salah satunya adalah jangan pernah berhenti berinovasi. "Produk yang kita buat harus terus berinovasi. Tidak hanya sekadar beda, tapi juga harus memenuhi kebutuhan pasar," kata Muflih.

Kemudian yang berikutnya adalah sikap tidak cepat puas dan jangan pernah lengah. Di tengah persaingan yang begitu ketat, teruslah mengembangkan usaha. "Tidak harus membuka unit usaha baru, tapi salah satunya yang bisa kita lakukan adalah membuka cabang baru untuk memperluas pasar dan pendapatan," ujarnya.

Karena diantaranya sukses itu selalu berkaitan dengan adanya tindakan. Orang sukses terus berusaha. Mereka membuat kesalahan, tetapi mereka tidak pernah berhenti berusaha. Prinsip inilah yang harus dimiliki seorang pengusaha muslim dalam menjalankan bisnisnya. Yang paling sulit adalah mempertahankan endurance berbisnis, tetap bertahan dalam usaha meskipun menghadapi banyak tantangan/pesaing. (*)

Penulis: M Abduh Kuddu
Editor: M Abduh Kuddu
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved