Salam Tribun

Setelah Mudik Apa?

Daerah dengan populasi 3,6 juta jiwa dan 524.656 jiwa itu memang mayoritas dihuni pendatang

Penulis: Syaiful Syafar |
Syaiful Syafar 

Oleh: Syaiful Syafar (ifulaziale@gmail.com)

HARI Raya Idul Fitri 1437 Hijriah sudah di depan mata. Euforia umat muslim Indonesia menyambut hari kemenangan itu mulai terasa.

Pusat-pusat perbelanjaan seperti pasar, mall, supermarket kian padat pengunjung. Berbanding terbalik dengan kondisi masjid yang makin sepi di pekan terakhir Ramadhan.

Begitulah fenomena masyarakat kita yang sudah berjalan hampir setiap tahun. Dan jangan lupakan tradisi yang menyedot perhatian pemerintah sejak jauh hari, yakni mudik Lebaran.

Sebagian besar kaum muslim di negeri kita rela melakukan berbagai macam persiapan, baik tenaga, finansial, kendaraan, pakaian dan oleh-oleh perkotaan, demi alasan mudik. Ditambah lagi dengan gengsi bercampur pamer, mewarnai gaya mudik. Kadang dengan terpaksa harus menguras kocek secara berlebihan, bahkan sampai harus berhutang.

Di Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, arus mudik pun tak terbendung.

Daerah dengan populasi 3,6 juta jiwa dan 524.656 jiwa itu memang mayoritas dihuni pendatang dari pulau Jawa dan Sulawesi.

Meski sudah menetap hingga berpuluh-puluh tahun, namun sulit rasanya bagi mereka untuk tidak ikut mudik. Apalagi akses transportasi dari dan menuju kampung halaman kini makin mudah.

Kapal Adhitya yang sandar di Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (30/6/2016), dipadati penumpang tujuan Parepare, Sulawesi Selatan. (FOTO: TribunKaltim.co/Nevrianto Hardi Prasetyo)

Akhir pekan kemarin menjadi puncak arus mudik di dua daerah itu.

Untuk di Kaltim, jalur udara masih menjadi pilihan mudik utama warga.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Dishub Kaltim dari Angkasa Pura, ada penambahan penerbangan (flight) sekitar 8 persen. Tiap harinya ada sekitar 95 penerbangan dari Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan, Balikpapan. Tiga maskapai dikabarkan juga sudah mengajukan penambahan jadwal penerbangan (extra flight) yakni Lion Air, Sriwijaya Air, dan Garuda Indonesia.

Sedangkan di Kaltara, jalur perairan merupakan jalur terpadat musim mudik.

Dermaga Tengkayu Tarakan menjadi titik sentral pengumpul calon pemudik sebelum terbang atau berlayar ke daerah asal. Sedangkan dermaga di Bulungan, Nunukan, Tana Tidung dan Malinau menjadi dermaga pengumpan pemudik menuju Tarakan.

Untuk mengangkut penumpang, disiapkan sedikitnya 73 armada perahu cepat. Perahu cepat itu melayani pergerakan penumpang dari dermaga pengumpan di empat kabupaten menuju dermaga sentral di Tarakan.

Tiga unit speedboat tertambat di Dermaga Kayan II Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara beberapa waktu lalu. Moda transportasi air ini merupakan pilihan utama pemudik. (FOTO: TribunKaltim.co/Muhammad Arfan) 

Terlepas dari itu, yang perlu jadi perhatian utama sesungguhnya adalah soal keselamatan angkutan lebaran ini. Alangkah percuma rasanya jika armada-armada tersebut tak ditunjang dengan alat keselamatan. Atau demi mengejar keuntungan, pengelola angkutan tega mengabaikan kapasitas muatan.

Belum lagi jika kita bicara angkutan darat. Kondisi jalan di Kaltim dan Kaltara yang rusak, banyak lubang, tentu sangat rawan kecelakaan.

Kondisi angkutannya juga belum bisa diandalkan. Bayangkan, dari 20 bus yang melayani perjalanan antar provinsi di kota Balikpapan, hanya empat bus yang dianggap layak beroperasi. Sontak saja petugas Dishub terkejut, sebab setiap harinya ada belasan bus keluar masuk terminal Balikpapan.

Bila hal-hal seperti ini tidak diperhatikan, maka dapat dibayangkan ada berapa ribu nyawa yang bisa melayang cuma-cuma.

Ancaman tak hanya di situ. Aksi kejahatan juga kerap memuncak di saat arus mudik. Modusnya beragam, namun yang paling sering terjadi adalah pembiusan.

Di beberapa daerah, hampir setiap hari ketika musim mudik lebaran, ada saja pemudik yang terkena bius. Bahkan, sampai ada yang tidak sadarkan diri hingga berhari-hari, dan barang bawaan berharganya hilang dibawa oleh orang yang membius.

Penumpang bersiap mudik ke kampung halaman dengan angkutan bus umum antar kota di Terminal Pulo Indah, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (17/6/2016). (FOTO: TribunKaltim.co/Azhar Sriyono)

Oleh sebab itu, pemudik juga harus menghindari membawa barang berharga secara berlebihan, karena bisa memancing kejahatan. Walaupun harus dibawa, simpan secara baik-baik, jangan sampai orang yang punya niat jahat mencelakai Anda.

Lalu, apakah mudik salah dan harus dihindari? Tentu tidak.

Mengutip pernyataan Cak Nun, bahwa pulang ke kampung halaman sesungguhnya adalah episode awal dari teater kebutuhan batin manusia untuk kembali ke asal usulnya.

Orang mudik itu merenungi sumber hidupnya. Mendatangi kembali tanah kelahirannya, kampung halaman, keluarga, bapak ibu, kakek nenek, kesadaran rahim ibu, dan kelahiran mereka di dunia sampai pada akhirnya mereka meneruskan perjalanan itu ke mudik teologis.

Ya, mudik teologis, yakni kesadaran dan keridaan bahwa kita semua ini berasal dari Allah dan sedang menempuh perjalanan kembali kepada Allah juga, karena tidak ada tempat lain untuk kembali.

Mestinya, dengan Idul Fitri, dengan mudik segala arti, kita bisa mulai menakar, mempertimbangkan, dan menentukan setiap langkah kita besok sesudah Hari Raya -- menjadi langkah karena Allah. (*)

***
Perbarui informasi terkini, unik, dan menarik melalui medsos.
Join BBM Channel, invite PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim


Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved