Sabtu, 11 April 2026

Kementerian PUPR Mendesain Jalan Tol Bukan untuk Lebaran

Kementerian PUPR mendesain jalan tol untuk kondisi normal, sehingga kapasitasnya saat masa mudik Lebaran seringkali tidak memadai setiap tahun.

Editor: Amalia Husnul A
KOMPAS IMAGES / KRISTIANTO PURNOMO
Kemacetan mengular sepanjang 18 kilometer di ruas tol Pejagan - Brebes Timur, Jawa Tengah, Jumat (01/07/2016). Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada H-3 lebaran. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Tugas Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) antara lain adalah membangun jalan tol.

Dalam proses pembangunannya, Kementerian PUPR mendesain jalan tol untuk kondisi normal, sehingga kapasitasnya saat masa mudik Lebaran seringkali tidak memadai setiap tahun.

"Ketika Lebaran tinggal manajemennya saja yang kita perkuat. Tapi, kalau infrastrukturnya dibuat dengan desain Lebaran, kita nggak akan bisa bangun jalan tol sampai Banyuwangi misalnya," ujar Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna di Kementerian PUPR, Jakarta, Senin (11/7/2016).

Menurut Herry, jika memaksakan jalan tol dibangun untuk memenuhi kapasitas pengendara yang mudik Lebaran, uang pembangunannya akan cepat habis.

BACA JUGA: Heboh, Penumpang Pamerkan Alat Vital di Sekitar Bandara

Belum lagi, jika permintaan masyarakat untuk membangun lebih banyak tempat istirahat (TI) atau rest area dipenuhi.

Kondisinya, masing-masing TI di jalan tol dibangun dengan jarak yang ideal dengan pertimbangan penggunaan jalan tol untuk sehari-hari.

"Namun, ketika terjadi jalanan penuh seperti ketika mudik kemarin itu berarti harus dicarikan caranya," sebut Herry.

Ia mencontohkan, saat jalan tol dipadati pemudik Lebaran, Herry meminta Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) untuk menyediakan bahan bakar minyak (BBM) dalam bentuk kemasan.


Pemudik dan warga sekitar mengantre bensin di SPBU Bangsri, Brebes, Jawa Tengah, Senin (4/7/2016). (Muhammad Nashir)

BBM kemasan ini disebarkan ke SPBU di TI yang kekurangan pasokan. Herry mengaku, hal ini memang sempat sulit diterapkan. Ketika itu, pemasok BBM hanya bisa memasok di daerah yang sudah ditentukan.

"Akhirnya bisa dapat satu mobil (isi bahan bakar kemasan) dikumpulkan dari TI," jelas Herry.

Masalah tidak selesai sampai di sana. Herry menuturkan, saat sudah dapat mengumpulkan BBM kemasan, petugas kesulitan untuk mendistribusikannya.

Pasalnya, bahu jalan sudah kadung dipadati oleh pengendara. Di satu sisi, dalam kondisi normal, bahu jalan seharusnya tidak digunakan kecuali untuk darurat. (Arimbi Ramadhiani)

***

Perbarui informasi terkini, unik, dan menarik melalui medsos.

Join BBM Channel, invite PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim


Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved