Salam Tribun

Azlya Undercover

Apalagi terduga pembunuh, Ijur, merupakan orang dekat yang bertetangga rumah, dan hingga saat ini belum berhasil dibekuk.

IST
Neysa Nur Azlya, bocah perempuan berusia 4 tahun yang menghilang sejak Kamis (7/7/2016) siang, akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, Minggu (10/7/2016). 

oleh Kholish Chered

(FB: kholish chered / kholish_tribunkaltim@yahoo.co.id)

"Sudah sampai di sini catatan umur anak saya. Memang dia harus kembali dengan cara seperti ini. Saya kembalikan dia kepada Allah. Pasti ada hikmah yang besar dibalik ini. Hikmahnya bukan hanya untuk kami, tapi untuk semua orangtua".

Ucapan ini disampaikan Fathurrohman, ayah Neysa Nur Azlya, bocah empat tahun yang jenazahnya ditemukan dalam kondisi terbakar di perbukitan Desa Benua Baru Ulu, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur. Ucapan ini seketika membuat beberapa petinggi PKS Kaltim, yang bertandang ke kediamannya, langsung terdiam dan berkaca-kaca.

Kasus ini menyita perhatian publik seantero nusantara. Apalagi terduga pembunuh, Ijur, merupakan orang dekat yang bertetangga rumah, dan hingga saat ini belum berhasil dibekuk. Dibalik hiruk pikuk pemberitaan, ada beberapa sisi lain yang menarik dicermati.

Pertama, ketegaran Fathurrohman dan keluarganya. Ketika musibah ini melanda, Ustadz Fathur, panggilan akrabnya, terlihat begitu tegar. Bahkan ia langsung yang memasukkan jenazah puteri tercintanya ke liang lahad.

Pascapemakaman, kunjungan warga dan tokoh yang berempati mengalir deras. Dalam pertemuan dengan warga, justru ia banyak memberi nasihat, agar musibah yang dialami keluarganya bisa menjadi pelajaran bagi warga lain, bahkan bagi masyarakat Indonesia.

Kamis (14/7/2016) sore, ia dan para keluarganya mengunjungi TKP penemuan jenazah yang masih dikelilingi garis polisi. Ini merupakan kunjungan mereka yang pertama. Saat itu keluarga tak lagi menangis. Mereka hanya merenung bagaimana mungkin pelaku tega menghabisi nyawa Azlya dan meletakkannya di tempat seperti itu.

Kedua, keceriaan Azlya. Berdasarkan cerita dari sahabat Fahurrohman yang sangat mengenali Azlya, Kamariyah, bocah itu merupakan tipikal anak yang periang. Ia suka sekali berbicara dan cepat akrab dengan orang lain. Termasuk dengan pria yang biasa disapanya "Om Ijur".

"Terakhir kali bertemu, kami sempat buka puasa bersama di kediaman Ustadz Fathur. Saat itu Azly yang membawa piring menyajikan hidangan," kenang Kamariyah, sembari mengingat Azly sudah mulai menghafalkan ayat-ayat Al-Quran.

Ketiga, misteriusnya sosok Ijur. Pria yang sudah berusia di atas 40 tahun itu hingga kini tak jelas keberadaannya. Sempat mengunjungi beberapa teman lamanya di pedalaman Sangkulirang, ia kini menghilang tanpa jejak.

Banyak yang berkata, kalau ia memang tak bersalah, mengapa harus lari. Mengapa pula ia membeli ponsel baru dan mengganti SIM card-nya, pada hari Kamis (7/7/2016), tepat saat Azlya menghilang. Polisi pun kesulitan melakukan cell track karena nomor lama miliknya tak aktif lagi. Hingga kini personel Jatanras Polda Kaltim dan jejaring lintas polres dikerahkan untuk memburunya.

Pria yang sempat menikah, lalu bercerai, lalu menikah lagi, kemudian ditinggalkan istri keduanya itu dikenal sosok yang suka meninggikan diri saat berbicara. Kehidupan ekonominya juga tidak terlalu baik. Terbukti ia masih punya utang sekitar Rp 16 juta kepada Fathur, yang kemudian ditutupinya sementara dengan menggadaikan warung miliknya kepada keluarga Fathur.

Ijur pun terbilang dekat dengan keluarga Fathur. Selain sering berkunjung, makan bersama di kediaman Fathur, ia juga merupakan binaan Fathur dalam kajian Islam. Fathur pun tak pernah berpikiran buruk terhadap Ijur. Ia selalu berprasangka baik (husnuzhan) terhadap tetangga depan rumahnya itu.

Keempat, kemarahan masyarakat. Sangkulirang sudah lama dikenal sebagai daerah yang kondusif, bahkan kerap diistilahkan sebagai kecamatan santri. Hubungan kekeluargaan dan kebersamaan antarmasyarakat sangat terpelihara. Keterangan dari warga, tidak ada kasus pembunuhan selama bertahun-tahun di daerah itu.

Saat kasus pembunuhan Azlya terkuak, warga pun geram. Beberapa warga sampai berencana untuk membalas dengan cara membakar Ijur hidup-hidup, meskipun ia belum ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian. Polisi pun buru-buru mengingatkan agar warga tidak main hakim sendiri, dan menyerahkan penanganan kasus ini pada polisi.

Keluarga Ijur di Sangkulirang juga sempat mengalami intimidasi. Mereka pun langsung menegaskan tidak tahu menahu terkait keberadaan Ijur. Bahkan ada yang langsung menyatakan diri sebagai orang pertama yang akan meringkus Ijur ketika keberadaannya diketahui. Namun situasi perlahan cair, terutama setelah Fathur memeluk adik Ijur saat takziyah di rumah duka.

Kelima, dukungan partai yang besar. Fathurrohman merupakan Ketua DPC Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kecamatan Sangkulirang. Sejak kejadian itu, PKS terus memberikan dukungan moril. Selain melakukan penggalangan dana dan kunjungan takziyah, DPW PKS Kaltim juga mengerahkan kader-kadernya untuk melacak keberadaan pelaku.

The last but not least, pesan untuk Ijur, segeralah menyerahkan diri. Setidaknya, itulah bentuk tanggung jawab Anda atas tanda tanya besar dibalik kasus ini. Semakin lama Anda kabur, semakin gelisah hati dan semakin berat kemungkinan proses hukum yang dijalani. Timah panas polisi belum seberapa dibandingkan kemarahan warga yang terus mencari Anda. (*)

***

Perbarui informasi terkini, unik, dan menarik melalui medsos.

Join BBM Channel, invite PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved