Kontingen Porwanas PWI Dilepas Sederhana Tanpa Seragam, Endro Sempat Putus Asa
Seremoni kali ini pun terlihat sangat sederhana. Tanpa satu pun seragam kontingen yang dipakai oleh mereka.
Penulis: Nevrianto |
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA -Tak seperti lazimnya, seremoni pelepasan kontingen atlet Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) Persatuan Wartawan Indonesia Kaltim ke Bandung, Selasa (19/7/2016) dilakukan dengan sederhana. Yang melepas bukan Gubernur Kaltim atau pejabat lain yang mewakili, melainkan hanya oleh Ketua KONI Kaltim Zuhdi Yahya.
Meski demikian, para wartawan yang terpilih sebagai atlet dan ofisial yang akan berlaga dalam ajang empat tahunan di Bandung, Jawa Barat itu, tetap bersemangat. Zuhdi Yahya juga tak henti-hentinya memimpin pengucapan yel-yel untuk mengobarkan semangat.
Acara pelepasan bertempat di teras kantor KONI Kaltim di jl Kusuma Bangsa Samarinda. Dihadiri hanya sekitar 15 wartawan (dari sekitar 70 anggota kontingen), termasuk Ketua PWI Kaltim Endro S Effendi. Pada even-even serupa sebelumnya, yang melepas adalah Gubernur Kaltim.
Seremoni kali ini pun terlihat sangat sederhana. Tanpa satu pun seragam kontingen yang dipakai oleh mereka. Karena keterbatasan dana, seragam kontingen termasuk kelengkapan bertanding tidak bisa dikirim ke Samarinda. Seragam dipesan di Bandung dan akan diserahkan setelah anggota kontingen Kaltim tiba di Bandung, 25 Juli.
Beberapa atlet akhirnya tampil dengan kaos biru, celana dan sepatu bebas. Acara pelepasan ditandai dengan penyerahan bendera lambang PWI dari Zuhdi Yahya kepada Endro S Effendi. Dalam acara itu Zuhdi sekaligus menyerahkan bantuan uang pribadinya sebesar Rp 15 juta kepada kontingen PWI.
Ketua PWI Kaltim Endro S Effendi menjelaskan kesulitan yang dialami pengurusnya dalam mencari dana untuk memberangkatkan anggota kontingen Porwanas. Sebab, berbeda dengan even sebelumnya, kali ini PWI tidak mendapatkan bantuan serupiah pun dari Pemprov Kaltim. Bahkan, itu sudah terjadi dalam tiga tahun terakhir sejak ia memimpin organisasi wartawan terbesar ini.
"Kami bahkan sempat putus asa, karena ketiadaan biaya dan bantuan ini," kata Endro.
Tetapi, lanjut Endro, kalau sampai Kaltim tidak mengirimkan atletnya ke Porwanas, alangkah malu Kaltim. "Tentu Kaltim sangat malu (jika itu terjadi). Sebab Kaltim pernah menjadi tuan rumah pada Porwanas dan HPN 2007."
Beruntung di penghujung waktu, PWI Kaltim bisa membayar biaya pendaftaran Rp 50 juta ke panitia Porwanas di Jakarta. "Ya, setelah KONI Kaltim turun tangan dengan menalangi biaya pendaftaran Rp 50 juta, barulah mulai timbul lagi harapan kami," jelasnya.
Pada Porwanas sebelumnya di Banjarmasin, PWI Kaltim mencatat prestasi tujuh besar dengan dua medali emas. Endro berharap kali ini bisa dipertahankan. Zuhdi juga berharap PWI Kaltim tak putus asa.
"Sifat wartawan kan tidak boleh putus asa. Tapi saya bangga karena dengan dana yang pas-pasan itu, PWI Kaltim masih bisa mengikuti Porwanas. Modalnya semangat tinggi. Saya juga apresiasi karena yang ikuti Porwanas kali ini adalah benar-benar wartawan, bukan orang lain yang diberikan kartu PWI untuk direkrut menjadi atlet Porwanas," jelas Zuhdi.
"Tetaplah semangat. Orang lain mungkin tidak tahu apa kesulitan yang kita hadapi. Mereka hanya tahu Kaltim kaya... oh itu wartawan yang datang dari daerah kaya. Beban itu pula yang dihadapi para atlet PON. Padahal, dana kita dipangkas hingga 35 persen," tambah Zuhdi.(nev)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/porwanas-kaltim_20160720_175440.jpg)