Jos Sutomo dan Isran Noor Bertemu di Warung Kopi Taufik, Apa sih yang Dibicarakan?
Cakap saja tidak cukup. Banyak pemimpin yang merasa dirinya cakap dan mengklaim akan mampu mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi provinsi ini.
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pengusaha sukses sekaligus sesepuh Forum Komunikasi Persaudaraan Antar Masyarakat Kalimantan Timur (FKPMKT) HM Jos Sutomo berbicara tentang sosok pemimpin Kaltim ke depan, 2018-2023.
Menurutnya, cakap saja tidak cukup. Banyak pemimpin yang merasa dirinya cakap dan mengklaim akan mampu mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi provinsi ini. Tetapi, begitu ia terpilih dan dilantik, ia berjalan dengan impiannya sendiri. Merasa yang paling benar. Dan tidak mau mendengar suara rakyatnya.
"Yang penting ia (sosok pemimpin) haruslah orang yang mau mendengar. Banyak yang merasa mampu, paandai bicara tapi tak mau mendengar," tutur Jos saat duduk semeja dengan Isran Noor di warung Taufik di jalan Pangeran Diponegoro Samarinda, Sabtu (23/7/2016).
Warung itu persis di depan hotel Bumi Senyiur miliknya. Pagi itu, Jos menyantap sepiring lontong sayur. Turut dalam semeja itu adalah Rektor Universitas Widyagama Mahakam Samarinda Prof Dr Abdul Rachim AF, dan Iswan Priady. Iswan orang Samarinda, asal Sangkulirang, yang menetap di Jakarta sebagai pengusaha.
Di meja-meja lainnya terlihat penuh oleh sejumlah tokoh masyarakat dan anggota Relawan Isran Noor Harapan Kaltim. Obrolan di warung kopi itu berlangsung akrab. Diselingi banyak canda tawa. Sesekali terlihat mimik serius ketika pemilik kelompok usaha kayu dan perhotelan yang menyebar di Samarinda, Balikpapan, Malang, dan Gresik itu mencoba berfilsafat.
"Saya bersyukur bisa bersua pak Isran. Ini tidak disangka. Saya memang sesekali sarapan di sini," katanya.
Selama sekitar dua jam itu, ia lebih mendominasi pembicaraan. Ia mengeluarkan kata demi kata yang sangat dalam maknanya. Jos berbicara pentingnya harmoni, keseimbangan, belas kasih, berbagi dan sifat rendah hati. Sifat dan kepedulian semacam itu pula, katanya, yang mestinya dimiliki pemimpin Kaltim.
"Dia juga harus orang yang mau mengerti aku dan kita. Serta mampu menjaga harmoni. Buat apa jadi pemimpin kalau tidak mampu menebarkan kebaikan kepada lingkungannya. Jadilah orang yang bisa jalankan fastabiqul khairat," kata Jos.
Dikatakan, kelemahan mendasar pemimpin Kaltim, dan yang membuat daerah ini tidak bisa berjalan cepat terutama karena tidak memiliki sifat-sifat itu. Kalau pemimpin bisa menjalankan harmoni dan mendorong kebersamaan, Jos meyakini jalan akan lebih lapang dan berbagai rintangan pembangunan bisa dengan mudah dikikis.
Contohlah Cheng Hoo, katanya. Cheng Hoo datang ke wilayah-wilayah baru di berbagai belahan dunia dengan harmoni. Juga saat datang ke Indonesia. Ia menghargai keberagaman di setiap wilayah yang didatanginya. Tidak seperti Columbus, datang dengan agresi dan invasi. Datang hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya saja.
"Karena itu kini kita perlu pemimpin yang memiliki karakter suka dan mau mendengar. Ia juga harus mengerti aku dan kita. Jangan cuma mengerti aku saja tapi tidak mengerti kita. Ia tidak mau mengerti apa yang dibutuhkan rakyat Kaltim."
Menyinggung sosok bakal calon gubernur yang duduk di sebelahnya, Jos mengatakan, ibarat mobil, Isran seperti mobil Jepang. Jenisnya pun tronton (bukan sedan), yang memiliki daya dorong sangat besar. Mobil Jepang umumnya gampang diperbaiki jika ada kerusakan. Beda dengan mobil Eropa, spare partnya sulit didapat dan mahal.
Isran sendiri banyak mengamini perkataan Jos. Ia lebih banyak menyimak. "Insyaallah saya bisa jadi yang seperti diharapkan (mau mendengar, mengerti aku dan kita, serta mampu menjaga harmoni)," tuturnya. (bin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/isran-jos_20160724_223455.jpg)