SALAM TRIBUN

Pemimpin Kaltim

Saya juga tidak peduli ketika ada calon pemimpin yang mengklaim dirinya memiliki darah biru pamong. Ia sebut kebesaran nama sang kakek, nama paman

DOK TRIBUNKALTIM

SALAM TRIBUN

Pemimpin Kaltim
Oleh ACHMAD BINTORO

Ketika sebagian warga mulai timbang-menimbang sosok seperti apa yang pantas memimpin provinsi Kaltim lima tahun ke depan (2018-2023), saya termasuk orang yang tidak peduli dan tidak mau tahu apakah pemimpin itu dilahirkan atau diciptakan.

Sebagai orang yang dibesarkan dalam tradisi Jawa, saya tentu memahami betul konsep bibit, bebet, dan bobot. Orang boleh saja melihat adanya kebenaran konsep itu dalam sosok Sonia Gandhi yang mempertahankan trah Gandhi sebagai pemimpin di India. Atau Soekarno di Indonesia. Syaukani di Kukar. Tetapi, tidak sedikit yang berusaha membantah peran genetik dan pengalaman awal keluarga dalam membentuk kecakapan seorang pemimpin.

Mereka percaya setiap orang dapat dilatih menjadi pemimpin (leader are made). Pengalaman hiduplah yang akan membuatnya dipandang layak atau tidak. Karena itu, saya juga tidak peduli ketika ada calon pemimpin yang mengklaim dirinya memiliki darah biru pamong. Ia sebut kebesaran nama sang kakek, nama paman yang pernah menjadi kepala daerah, nama sang ayah. Lalu dengan begitu bakat memimpin itu ia klaim sudah mengalir dalam dirinya.

Perdebatan semacam itu hanya buang-buang energi saja. Pada kenyataannya pemimpin bisa muncul dari mana saja. Ia bisa seorang super tajir semacam Vladimir Putin, atau Jose Mujica yang miskin papa.

Presiden Uruguay itu memilih tinggal di peternakan milik istrinya. Di tepi jalanan berdebu, di luar ibukota Montevideo. Sekitar 90 persen gajinya, setara US$12.000 atau Rp159,6 juta, diberikan untuk amal. Ia hanya ambil US$775 (sekitar Rp 10,3 juta) atau setara dengan rerata penghasilan rakyatnya. Harta pribadinya ia laporkan hanya US$1.800 atau Rp 23,9 juta dan sebuah mobil tua, Volkswagen Beetle tahun 1987.

Pemimpin bisa pula lahir dari kalangan taipan seperti Silvio Berlusconi. Majalah Forbes tahun 2005 pernah mencatatnya sebagai orang terkaya di Italia. Pada tahun itu kekayaan pribadinya mencapai US$ 12 miliar. Sudah tentu termasuk AC Milan yang ia ambil alih dari Rosario Lo Verde pada tahun 1986.

Saya juga tak peduli kalau pemimpin itu lahir di sebuah istana gading seperti Hassanah Bolkiah atau dari gubuk reyot seperti Lee Myung Bak. Dari mana pun dia, saya hanya berharap ia benar-benar mampu membawa perubahan berarti pada provinsi Kaltim. Lebih maju, lebih sejahtera, dan mampu mengejar ketertinggalannya.

Mampukah Kaltim -- di tangan pemimpin baru nanti -- membuat lompatan besar itu setelah kondisi ekonomi makro tampak gelagapan? Ekonomi melambat. Pertumbuhan minus. Sempat bertengger di minus 3,5 persen pada triwulan III 2015. Kini agak membaik, tetapi belum semenggeliat provinsi lainnya yang juga terkena dampak ekonomi global.

Kita acapkali terlena dengan kejayaan. Begitu sumberdaya alam yang menjadi penopang kejayaan itu habis, lenyap pulalah kejayaan yang kita bangga-banggakan. Tahun 1970-1990 kita pernah booming kayu. Kita pernah alami era bonanza minyak sampai tahun 1984. Dan seiring berlakunya otonomi daerah, kita alami periode batubara.

Tetapi, apa yang tersisa kini? Nyaris tak ada. Indikator ekonomi makro belum juga beranjak ke angka yang menggembirakan. APBD terus defisit, dan makin tercekik oleh kencangnya berbagai tuntutan kenaikan lumpsum, serta perburuan aneka modus perjalanan dinas. Tercekik pula oleh berbagai kebijakan yang sudah mengkapling-kapling anggaran. Mimpi kali bergarap adanya stimulan lebih besar. Bagaimana dengan ekonomi mikro? Ah, apalah daya mereka kalau kebijakan-kebijakan itu belum memperlebar ruang dan gerak mereka.

Agaknya, selama ini kita tidak pernah bersungguh-sungguh menjadikan tiga periode masa kejayaaan itu sebagai kesempatan untuk bertransformasi ke ekonomi hijau. Kita baru tersadar setelah semua sumberdaya alam itu habis dan tak menyisakan apa pun. Kita tersadar setelah Kaltim menjadi daerah terdampak ekonomi global yang paling parah.

Ekonomi punya dua kaki, makro dan mikro. Dua-duanya tidak boleh lumpuh. Sekarang, dengan pertumbuhan yang masih melamban, dan mikroekonomi yang terhimpit, bagaimana cara pemimpin Kaltim akan mengejar ketertinggalan Kaltim selama ini? Masihkah akan terus bertumpu pada kekayaan sumberdaya alam yang tak bisa diperbarui itu? Lalu, sosok pemimpin seperti apa yang diharapkan dapat membawa perubahan itu?

Saat ini sudah muncul sejumlah nama. Ada Isran Noor, Rita Widyasari, Makmur HAPK, Syaharie Jaang, Hadi Mulyadi, Andi Sofyan Hasdam, Rizal Effendi, Awang Ferdian Hidayat, Mukmin Faisyal, Farid Wadjdjy, dan lainnya. Pengusaha dan sesepuh Forum Komunikasi Persaudaraan Antarmasyarakat Kalimantan Timur, HM Jos Sutomo juga tak mau terjebak pada polemik apakah di antara nama-nama itu adalah pemimpin yang masuk dalam kelompok yang dilahirkan atau diciptakan.

"Yang penting ia haruslah orang yang mau mendengar. Banyak yang merasa mampu, tapi tak mau mendengar. Dia juga harus orang yang mau mengerti aku dan kita. Serta mampu menjaga harmoni," katanya. Nah, bagaimana dengan Anda? Silakan Anda timbang-menimbangnya.(*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved