Seni Budaya

Wisata Budaya Isen Mulang Tunjukkan Semangat Hidup Suku Dayak

Contohnya, kelompok parade dari Kantor Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalteng membuat replika ekskavator atau alat pengeruk.

Wisata Budaya Isen Mulang Tunjukkan Semangat Hidup Suku Dayak
KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO
Sebanyak 67 kelompok dari perwakilan 14 kabupaten/kota dan satuan kerja perangkat daerah se-Kalimantan Tengah memeriahkan karnaval budaya yang digelar di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (18/5/2016). Karnaval itu merupakan bagian dari Festival Budaya Isen Mulang yang digelar untuk merayakan Ulang Tahun ke-59 Provinsi Kalimantan Tengah. Tampak sejumlah remaja mengenakan atribut khas daerahnya. 

”Kami memang datang berlomba, merebut kemenangan, dan membawa hadiah. Sangat jarang lihat keramaian seperti ini, hanya satu kali dalam setahun,” ujar Abdul Latif (18), pelajar asal Kabupaten Sukamara yang datang berlomba mewakili daerahnya.

Sosiolog dari Universitas Palangkaraya Sidik R Usop mengatakan, Isen Mulang berasal dari bahasa Sangen atau bahasa dewa yang berarti pantang mundur dalam suasana perang.

”Saat ini Isen Mulang mengandung makna ketangguhan dan keuletan masyarakat suku Dayak dalam menghadapi tantangan dinamika pembangunan,” kata Sidik.

Baca: Suku Dayak Wehea Punya Dongeng Gerhana Matahari, Ini Kisahnya. . .

Moto pembangunan

Sejumlah moto pembangunan kabupaten/kota di Kalteng juga menyiratkan makna serupa dengan Isen Mulang tersebut dan dituliskan dengan berbagai bahasa Dayak setempat. Misalnya, Kota Palangkaraya memiliki semboyan Isen Mulang yang tertera dalam lambang kota.

Kabupaten Murung Raya memiliki semboyan Tira Tangka Balang yang artinya maju terus pantang mundur. Kabupaten Seruyan bersemboyan Gawe Hatantiring berarti bekerja bersama-sama. Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki moto Habaring Hurung yang berarti gotong royong.

Selain itu, lanjut Sidik, Isen Mulang sebagai semangat hidup juga selalu berorientasi pada prestasi. Suku Dayak selalu hidup di kawasan hutan. Sebelum meninggalkan rumah, orang Dayak bernazar semoga dapat hasil yang baik dan bebas dari gangguan hewan buas.

”Setiap kali kembali ke rumah, mereka pasti membawa hasil baik berupa hewan tangkapan ataupun hasil hutan seperti buah dan sayur,” ujar Sidik.

Menurut Sidik, tantangan zaman yang dihadapi orang Dayak saat ini adalah hilangnya banyak mata pencarian penduduk akibat rusaknya hutan dan sungai, menyempitnya lahan karena maraknya investasi baik di sektor perkebunan maupun pertambangan, serta rendahnya nilai tukar.

Halaman
123
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved