Di Ujung Timur Pulau Borneo, Bea Cukai Gagalkan Peredaran Kayu Ilegal

Saat digeledah, ternyata di dalam dek kapal tersebut terdapat sejumlah kayu tanpa dokumen.

Di Ujung Timur Pulau Borneo, Bea Cukai Gagalkan Peredaran Kayu Ilegal
TRIBUN KALTIM / CHRISTOPER DESMAWANGGA
Kayu ilegal yang hendak dibawa menuju ke kawasan Baru, Sulawesi Selatan, berhasil digagalkan oleh Bea Cukai saat melakukan operasi laut 14 September 2016. Tampak kondisi barang bukti, Selasa (20/9/2016). 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Christoper D

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Dirjen Bea Cukai berhasil menggagalkan penyelundupan kayu ilegal di perairan Tanjung Mangkaliat, Kutai Timur, pada 14 September silam.

Kawasan Tanjung Mangkaliat merupakan kawasan paling timur Pulau Kalimantan, yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar.

Dalam pengungkapan kasus penyelundupan tersebut, diketahui kapal yang bernama Baru Mangenre asal Sulawesi Selatan itu mengangkut kayu jenis meranti dan ulin dengan volume sekitar 80 meter kubik, dari kawasan Sandaran, Kutai Timur, dengan tujuan daerah Baru, Sulawesi Selatan.

Saat itu, tim dari Dirjen Bea Cukai Kanwil Kalimantan Bagian Timur, yang membawahi kawasan Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara melakukan patroli rutin.

(Baca juga: Siap-siap, Bulan Depan TPP PNS Terancam Dipotong Setengahnya)

Lalu petugas melakukan pengecekan terhadap kapal barang yang melintas di sekitar kawasan Tanjung Mangkaliat tersebut. Saat digeledah, ternyata di dalam dek kapal tersebut terdapat sejumlah kayu tanpa dokumen.

Akhirnya petugas langsung menahan kapal beserta sembilan kru-nya. Kru kapal memang dianggap tidak melanggar UU Kepabeanan, karena kayu tersebut bukan dari luar negeri maupun akan diantar ke luar negeri, namun aparat tetap saja melakukan penahanan, karena dianggap melanggar UU Kehutanan.

"Kami lakukan operasi laut dengan melakukan patroli rutin. Saat kami lakukan pemeriksaan di sekitar perairan Tanjung Mangkaliat, kapal tersebut membawa kayu tanpa dokumen-dokumen, hanya personal kru kapal saja yang ada dokumennya," ucap Kabid Penindakan dan Penyidikan Kanwil Kalimantan Bagian Timur Dirjen Bea Cukai, Selasa (20/9/2016).

Pihaknya pun langsung menyerahkan kapal berserta barang buktinya, serta kru kapal ke Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPLHK) Wilayah II Kaltim Kaltara, guna dilakukan penindakan sesuai dengan aturan perundang-undangan.

Serah terima kapal, barang bukti, serta kru kapal dilakukan di dermaga sei Mahakam, Sungai Kunjang.

"Kapal, barang bukti, serta kru kapal kami bawa ke Samarinda dan kami serahkan ke BPPLHK untuk segera dilakukan proses," tuturnya.

Sementara itu, Plh Kepala BPPLHK Seksi Wilayah II Kaltim Kaltara, Julian menjelaskan, pihaknya telah melakukan penyidikan terhadap seluruh kru kapal, dan pihaknya telah menetapkan satu orang sebagai tersangka, yakni SY (51) yang merupakan nakhoda kapal Baru Manganre. Sedangkan delapan kru kapal lainnya hanya sebagai saksi.

"Tersangka sudah kami tahan dan kami titipkan di tahanan Polresta Samarinda, sedangkan ABK lainnya hanya sebagai saksi saja. Selanjutnya akan kami kembangkan lagi hasil tangkapan ini, termasuk dengan akan melakukan penimbangan ulang dan identifikasi terhadap kayu-kayu tanpa dokumen itu," ucapnya. (*)

***
Baca berita unik, menarik, eksklusif dan lengkap di Harian Pagi TRIBUN KALTIM
Perbarui informasi terkini, klik  www.TribunKaltim.co
Dan bergabunglah dengan medsos:
Join BBM Channel - PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co,  follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim


Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved