Kesehatan

Cara Simpan Nugget dan Sosis di Freezer Agar Tak Picu Tumbuhnya Mikroba

Tapi, bukan cuma mengetahui makna label pada kemasan soal tanggal kedaluwarsa saja yang perlu kita tahu.

www.attemptsatdomestication.com
Ketika melihat bekas-bekas makanan berserakan di rak kulkas, tiba-tiba Anda menyadari bahwa inilah saatnya untuk membersihkan kulkas. 

TRIBUNKALTIM.CO -- Produk makanan atau obat kedaluwarsa masih kerap dijumpai di pasaran. Keberadaannya pun membuat resah banyak konsumen.

Tapi, bukan cuma mengetahui makna label pada kemasan soal tanggal kedaluwarsa saja yang perlu kita tahu. Cara penyimpanannya pun harus benar untuk menjaga mutu makanan.

“Sebelum mengetahui pangan kedaluwarsa, harus diketahui juga bahwa pangan itu dibagi dua bagian, yaitu produk akhir dan bahan baku atau ingredient yang digunakan untuk membuat produk akhir. Yang dikenal sebagai pangan kedaluwarsa adalah produk akhir yang diterima konsumen,” jelas Prof. Dr. Nuri Andarwulan dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB, Bogor.

Baca: Dalam Selembar Uang Kertas Terdapat 3000 Jenis Mikroba

Ia menambahkan, “Produk akhir sudah ada regulasinya, sementara ingredient belum ada. Khusus untuk produk akhir, produk akan dianggap kedaluwarsa apabila melewati batas yang sudah ditentukan dan ditetapkan produsen dan tertulis di label.”

Produsen juga menentukan umur simpan produk itu dengan berbagai alasan seperti faktor mutu, apakah produk mudah rusak, dan seberapa cepat produk akan diterima konsumen.

“Misalnya produk sari buah pada botol transparan. Konsumen sadar dan biasanya tidak akan membeli saat warnanya pudar. Ini disebut sebagai rejection point. Artinya produk itu direject oleh konsumen dengan sadar saat mengetahui warnanya pudar. Padahal belum tentu zat gizinya berkurang dan belum tentu mikroba tumbuh,” jelas Nuri.

Rejection point merupakan bagian dari mutu sensori yang ditolak konsumen. Contoh lain adalah produk biskuit.

Baca: Sudah Kedaluwarsa tetapi Mutu Makanan Masih Bagus, Amankah Dikonsumsi?

“Biskuit itu, kan, kering. Ketika diterima konsumen, bukan soal gizinya, tapi kerenyahannya. Kerenyahan ini berhubungan dengan kadar air. Ada batasnya. Kalau kadar airnya sudah lebih dari 5%, maka biskuit pun akan melempem dan konsumen enggak akan mau membeli. Tetapi, apakah biskuit melempem itu beracun? Tidak, tetapi biskuit itu ditolak konsumen karena kurang renyah,” jawabnya panjang lebar.

Halaman
123
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Nova
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved