Berita Video

VIDEO – Mengejar Ritual Hudoq Pekayang di Jantung Kalimantan

Perahu dengan dengan mesin tempel 40 pk meninggalkan kampung Long Pahangai, menuju hulu, melawan jeram-jeram kecil di Sungai Mahakam yang lebar sungai

Laporan Wartawan, Fotografer dan Videografer Tribunkaltim.co, M Wikan H

Saatnya Menari Sampai Tak Mampu Lagi

Salah satu kekentalan budaya di masyarakat Long Pahangai yakni ritual hudog yang dilakukan setelah masa panen dan memasuki masa tanam. Hudoq memiliki arti menjelma, untuk itu dalam ritual hudoq, berbagai binatang ada dalam bentuk topeng, oleh karena itu memakai topeng burung melambangkan menjelma menjadi burung, Ritual ini dilakukan hanya sekali dalam satu tahun yakni sekitar bulan Oktober-November.

Perjalanan ini terjadi pada satu tahun silam tepatnya di bulan Oktober 2015 dan berhasil di dokumentasikan Tribun Kaltim

Ritual hudoq merupakan ritual berupa tarian yang dilakukan suku Dayak Bahau saat akan memasuki masa tanam. Hudoq Pekayang merupakan ritual tarian yang diikuti seluruh kampung di kecamatan Long Pahangai. Pada ritual Hudoq Pekayang  bulan Oktober 2016 Lalu, diikuti 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai. Setiap kampung menurunkan sedikitnya 13 penari hudoq dan 13 wanita penari pendamping.

Setelah beristirahat semalam di Kampung Long Pahangai, keesokan hari kami bersiap-siap dengan segala peralatan terutama kemera dan video untuk mendokumentasikan ritual tersebut. Kami berangkat menuju kampung Naha Aruq sekitar pukul 13.00 Wita dengan menaiki perahu ces.

Perahu dengan dengan mesin tempel 40 pk meninggalkan kampung Long Pahangai, menuju hulu, melawan jeram-jeram kecil di Sungai Mahakam yang lebar sungainya hanya mencapai sekitar 75 meter. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 15 menit, perahu sandar di pinggir dermaga kampung Naha Arug.

Saat tiba di kampung tersebut, teriakan warga kampung menyambut kedatangan tamu dan hudoq dari kampung lain. Semua perwakilan kampung yang datang dengan berpakaian lengkap untuk menari hudog.

Hudoq adalah topeng, yang menyerupai binatang, dan bahan topeng ini tidak seperti topeng biasa, topangnya sangat besar dan unik, sementara para penari menggunakan potongan daun pisang yang telah dipotong-potong kecil dan dirajut menjadi sebuah baju untuk menari baju tersebut ibarat bulu binatang, baik itu burung maupun binatang lainnya.

Simak juga berita lainnya:

Halaman
12
Penulis: Martinus Wikan
Editor: Martinus Wikan
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved