SALAM TRIBUN

Las Vegas

Hari ternyata sudah berembang petang saat saya tiba di bandara internasional McCarran Las Vegas, Nevada, AS. Padahal, baru dua jam lalu saya terbangun

SALAM TRIBUN

Las Vegas
Oleh ACHMAD BINTORO

Hari ternyata sudah berembang petang saat saya tiba di bandara internasional McCarran Las Vegas, Nevada, AS. Padahal, baru dua jam lalu saya terbangun menunaikan subuh di pesawat. Gurihnya ikan salem dengan kentang panggang yang ditawarkan pramugari saat sarapan juga masih berasa di lidah. Kok sekarang sudah gelap lagi.

Dengan 12 jam penerbangan non stop dan keberangkatan dari Korea malam hari, mestinya saya akan bersua mentari pagi di tempat tujuan. Dugaan saya meleset. Ini kali pertama saya kehilangan momen pagi, siang, bahkan sore sekaligus. Waktu seakan terlipat. Beginikah rasanya jetlag?

Tak ada yang istimewa dengan bandara ini. Kalah megah dengan KLIA di Kuala Lumpur. Sulit bagi saya untuk sekedar sightseeing seperti ketika tiba di bandara Incheon di Korsel. Nyaman berjalan-jalan ke beberapa signature shop ternama di mal dalam bandara yang luas sambil mencari pibim-bap. Ini makanan khas Korea. Berupa nasi putih dengan sayuran tumis, lauk telur dan saus pedas gochujang. Biasa ditambah daging sapi cincang. Nasi campur kalau di Indonesia.

Mata saya baru termanjakan setelah keluar bandara. Lampu-lampu mercury berpendar bak kunang- kunang di jalanan yang mulus dan lebar. Sepanjang perjalanan menuju sebuah hotel mewah bergaya Italia-Vinesia di Las Vegas Blvd, banyak sekali billboard iklan menawarkan tempat judi. Kota dan bangunan bermandikan cahaya. Mobil-mobil super mewah yang tidak pernah saya jumpai di Kaltim maupun Jakarta, berseliweran tiada henti.

Las Vegas memang kota judi. Gudangnya kasino. Entah, ada berapa jumlah resor kasino. Mungkin ribuan. Ia ada di hampir semua tempat hiburan. Dari tempat yang sederhana semacam "ruko" hingga hotel-hotel mewah nan megah Luxor, Caesar Palace, Vinetian, Trump, Palm, Cosmopolitan, MGM Grand, dan banyak lainnya. Hotel-hotel ini tak pernah sepi oleh tamu dari berbagai belahan penjuru dunia. Setiap hari, hingga pukul 03.00 dinihari pun, ratusan tamu masih mengantre.

Hotel-hotel itu memiliki sedikitnya 4.000 kamar. Luxor misalnya, memiliki 4.408 kamar. Dibangun dengan nuansa Mesir. Bentuknya mirip Pramida. Lengkap dengan patung Spink dan replika mumi serta asesoris properti lainnya bergaya arab. Ballroom-nya mampu menampung hingga 10.000 orang. Tak banyak kota-kota di dunia memiliki hotel mewah dengan ballroom  super besar untuk event-event internasional.

Seperti ketika saya nonton aksi panggung Adam Levine (Maron 5) di ballroom Vinetian, tak kurang dari 7.500 orang berjingkrak bersama dalam irama disko bercampur funk-pop, dan sedikit soul. Kami hanyut dalam "Sugar", hits terbarunya, yang sukses di puncak tangga Billboard 100 AS. Kami pun beramai-ramai menyanyikan lagu yang terinspirasi oleh film komedi romantik "Wedding Crashers" (2005) itu. //Your sugar/Yes, please/Won't you come and put it down on me...//

Yang sama dari semua hotel di Las Vegas adalah kasinonya. Mau dia berkonsep arab, italia, spanyol maupun mediterian (gabungan keduanya), tetap akan ada ratusan hingga ribuan meja kasino di dalamnya. Di sanalah sebagian pengunjung menghabiskan waktu, dan tentu saja uang. Dari tempat hiburan dan judi itu, Las Vegas mencetak pendapatan US$6,8 miliar (Rp88,4 triliun). Memang lebih kecil setelah muncul kota judi lain di Macau, dan Singapura. Tetapi, pasar judi di AS masih tumbuh 5 persen per tahun.

Entah apa yang muncul di benak Ali Sadikin saat kali pertama menginjakkan kakinya di kota ini? Saya tak menemukannya dalam memoarnya, "Ali Sadikin: Membenahi Jakarta menjadi Kota yang Manusiawi." Dalam buku yang ditulis Ramadhan KH itu, Bang Ali sedianya akan menjalani operasi tumor usus di California. Tapi urung. Dokter yang memeriksanya menilai bisa sembuh tanpa harus bedah.

Ia akhirnya memutuskan untuk studi banding ke tiga kota di AS: Los Angeles, San Diego, dan Las Vegas. Saat itu ia belum lama ditunjuk oleh Presiden RI Soekarno menjadi Gubernur DKI Jakarta. Soekarno yang sedang pusing mencari orang yang tepat untuk memimpin Jakarta, mendadak senang dan antusias ketika Waperdam Leimena menyodorkan nama Ali Sadikin. Pelantikan pun dilakukan segera pada 28 April 1966.

"Ali kamu akan memimpin kota, itu bukan pekerjaan gampang. Tetapi insya Allah doe je best, agar engkau dalam memegang kegubernuran Djakarta Raya sekian tahun lagi orang masih mengingat, die heeft Ali Sadikin gedaan -- inilah perbuatan Ali Sadikin. Bismillah, mulailah engkau punya pekerjaan," ucap Soekarno dalam pidatonya, seperti tertulis dalam buku "Soekarno: Revolusi Belum Selesai" halaman 501.

Giliran Bang Ali yang pusing bukan main. Hingga beberapa hari ia masih berpikir keras bagaimana membangun ibukota ini. Dana kas sangat cekak. Lebih dari 60 persen penduduk atau sekitar 3 juta jiwa tinggal di pemukiman kumuh. Banyak anak tidak bersekolah. Keamanan sangat rawan. PNS digaji jauh dari memadai. Ia terus berputar otak bagaimana dengan uang Rp 18 yang tersisa di kas pemda itu bisa membangun Jakarta.

Kita semua tahu bagaimana kisah itu. Ali kemudian mengadakan lotto/hwa-hwe. Dia pungut pajak tinggi dari arena-arena judi dan miras. Izinkan night club, panti pijat, hingga melokalisasi para PSK di Kramat Tunggak. Hasil dari tempat-tempat judi dan hiburan itu ia gunakan untuk membangun infrastruktur jalan, sekolah, fasilitas kesehatan.

Ia perintahkan pak Tji (Ciputra) membangun Ancol. Saat itu Ancol hanya rawa-rawa. "Pak Tji, saya mau Ancol jadi pantai mirip Ipanema atau Copacabana." Ipanema dan Copacabana adalah pantai eksotis yang populer di Rio de Jenairo, Brazil. Ali mempelajari bahwa sebuah kota bisa disebut baik jika mampu mengembangkan pariwisata.

Para pemimpin di Kuala Lumpur, Singapura, Bangkok, Pattaya, Dubai, Beijing, Seoul, Mexico City, Jepang, Eropa, dan banyak kota besar lain di dunia adalah figur-figur yang menyadari masa depan kotanya ada di pariwisata. Seberapa pun maju penguasaan teknologi mereka. Mereka berlomba-lomba membangun infrastruktur, meningkatkan kebersihan, menjaga keunikan budaya dan lingkungan dengan satu tujuan besar: agar wisatawan mau berbondong-bondong datang.

Raja dan pangeran Saudi Arabia yang selama ini menikmati bonanza minyak pun akhirnya menyadari bahwa mereka tak bisa terus-terusan menggantungkan pada minyak. Mereka tak ingin seperti Venezuela dan Azerbaijan yang sudah di ambang kebangkrutan.

Bagaimana dengan kita di Samarinda, Kukar, Kutim, Kaltim, yang dimanjakan oleh kekayaan sumberdaya alam? Sudahkah membuat terobosan ke arah itu? Atau tetap hanya akan menjadikan pariwisata serta sapta pesona sekedar hiasan spanduk yang terpampang manis di kantor-kantor dinas pariwisata? Lalu puas dengan rutinitas event-event wisata tahunan selama ini? (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved