Sediakan Kost Khusus, P2TP2A Sebut LGBT di Kota Ini Lebih Terorganisir
"LGBT di Kota Tarakan yang lebih tinggi. Mereka sudah berkomunitas. Mereka menyiapkan kost-kostan khusus," ungkapnya.
Penulis: Doan E Pardede |
Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Doan Pardede
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau biasa di singkat LGBT, ternyata juga eksis di Provinsi termuda di Indonesia, Kalimantan Utara (Kaltara).
Fenomena ini terbukti dari adanya beberapa kasus terkait LGBT di Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan yang kini tengah ditangani oleh Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kaltara.
"Saat ini, saya sedang menangani kasus LGBT di Kabupaten Bulungan," ujar Ainun Faridah, Ketua P2TP2A Provinsi Kaltara ketika ditemui usai menghadiri acara Sosialisasi Anti Narkoba di Grand Ballroom, Jalan Cempedak, Tanjung Selor, Kamis (27/10/2016).
Namun dengan alasan berpegang pada kode etik penanganan kasus LGBT, Ainun enggan membeber detail kasus yang ditangani.
Bila dibandingkan terang Ainun, praktek LGBT di Kota Tarakan jauh lebih marak dengan yang ada di Kabupaten Bulungan. Pasalnya berdasarkan penelusuran langsung yang dilakukan kata Ainun, di Kota Tarakan sudah ada komunitas khusus, bahkan sudah ada warga di Kota Tarakan yang secara khusus menyediakan rumah kost khusus kaum LGBT.
Namun lagi-lagi, Ainun enggan mengungkap lokasi kost-kostan dimaksud dengan alasan privasi dari pelaku LGBT yang sedang ditangani.
Sementara di Kabupaten Bulungan, praktek LGBT menurutnya hanya dilakukan di kalangan tertentu saja dan masih bersifat tertutup.
(Baca juga: Gambarkan Bagaimana Satu Bangsa Dihancurkan, Wakapolres Berbagi Cerita Pohon Durian )
"LGBT di Kota Tarakan yang lebih tinggi. Mereka sudah berkomunitas. Mereka menyiapkan kost-kostan khusus," ungkapnya.
Ainun menegaskan, belum maraknya tempat-tempat hiburan malam (THM) bukan menjadi jaminan kaum LGBT tidak tumbuh subur. Dan walau tidak marak kata, bukan berati kasus LGBT bisa dibiarkan begitu saja.
Seperti kasus di Kabupaten Bulungan, jika tidak segera ditangani, pertumbuhan LGBT sangat diyakini akan bertumbuh subur. Dan perlu diketahui kata dia, jika sudah ada temuan satu saja kasus LGBT, hampir dipastikan di wilayah tersebut sudah jaringan yang terbangun.
"Kalau ada satu kasus, pasti ada jaringannya," sebutnya.
Penanganan LGBT ini terang Ainun, harus diakui cukup sulit. Seperti kasus yang saat ini tengah ditangani, pihaknya melibatkan antara lain psikolog dan ahli-ahli lain yang berkompeten di bidangnya.
Dan perlu juga dipahami kata Ainun, menjadi LGBT ternyata bukan semata berasal dari bawaan lahir saja. Faktor lingkungan seperti kurang perhatian keluarga, pergaulan, dan adanya masalah ekonomi juga menjadi pemicu seseorang memilih menjadi kaum LGBT.
"Faktor keluarga dan ekonomi juga," ujarnya.
Dan kembali lagi kata dia, pihaknya tak bisa menjamin bahwa dengan menjalani rehabilitasi, kasus LGBT ini akan benar-benar hilang. Namun setidaknya, pertumbuhannya bisa terus ditekan dan tidak semakin merembet jauh ke tengah-tengah masyarakat.
Dukungan keluarga dan masyarakat serta penguatan pendidikan agama, juga menurutnya mutlak diperlukan.
Khusus untuk orangtua terangnya, jika anak sudah menunjukkan gejala yang lain dari biasanya, diharapkan segera memberikan perhatian khusus.
"Kalau perempuan jalan sama perempuan, jangan dikira sudah aman. Peran orangtua juga sangat diperlukan," harapnya. (*)
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ilustrasi-lgbt_20160603_203735.jpg)