Hari Sumpah Pemuda

Pemartabatan Bahasa Indonesia

Kata-kata seperti baper (bawa perasaan), kepo (sangat ingin tahu) adalah beberapa contoh kata yang sering diucapkan para pelajar di sekolah.

Pemartabatan Bahasa Indonesia
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ilustrasi. Siswa Sekolah Dasar mengunjungi Museum Sumpah Pemuda yang terletak di Kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2015). Untuk memperingati hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktoober, siswa sekolah dan warga banyak mengunjungi museum tersebut untuk belajar sejarah Sumpah Pemuda. 

Oleh Irmayanti, M.Pd
Waka Humas MTs N Samarinda
Trainer LMT Trustco Kaltim
irmayantibasrie@yahoo.co.id

Irmayanti
Irmayanti, M.Pd, Waka Humas MTs N Samarinda

BULAN Oktober, bulan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tepat pada tanggal 28 Oktober 1928, pemuda dari berbagai kelompok dan suku di Indonesia telah mendeklarasikan Sumpah Pemuda.

Salah satu dari isi Ikrar Sumpah pemuda adalah "Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia".

Ikrar tersebut, menunjukkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, yang kemudian diperkuat Pasal 36 UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 bahwa bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa resmi negara.

Lahirnya UU Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta lagu kebangsaan semakin mengarahkan kita agar menjadikan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu, identitas dan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara.

Namun kenyataan yang ditemui saat ini adalah bahwa bahasa Indonesia belum bermartabat di negeri sendiri.

Baca: VIDEO – Hari Sumpah Pemuda Dicoreng Siswi SMA Mabuk Digerebek Warga

Masyarakat Indonesia belum sepenuhnya bangga dengan penggunaan bahasa Indonesia.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal, di antaranya yaitu: pertama, penggunaan bahasa di forum resmi yang masih banyak diwarnai dengan pemakaian bahasa asing.

Kedua, meningkatnya teknologi komunikasi baik melalui suara maupun pesan tertulis menyebabkan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan ejaan yang disempurnakan semakin sering digunakan.

Ternyata tekanan waktu dan ruang yang terbatas sering membuat tulisan dipersingkat tanpa mengindahkan kaidah berbahasa Indonesia yang benar.

Halaman
1234
Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved