Salam Tribun

Belajar dari Kisah Singkat Affandi

Setelah diperiksa, pihak puskesmas menerbitkan rujukan agar Affandi segera dibawa ke rumah sakit. Namun bayi mungil tersebut tak kunjung dirujuk.

Belajar dari Kisah Singkat Affandi
tribunkaltim.co/muhammad alidona
Ayah Affandi, Muhammad Suwandi menggendong jenazah anaknya, Muhammad Yusuf Affandi (7 bulan) sesaat sebelum dibawa ke rumah duka di Batakan, Kelurahan Manggar RT 1, Kota Balikpapan, Rabu (23/11/2016). 
KHC
Oleh: Kholish Chered

MUHAMMAD Yusuf Affandi (7 bulan), putera pertama Muhammad Suwandi (26) dan Nurlela (25), akhirnya tutup usia, Rabu (23/11/2016). Ia menghembuskan nafas terakhir setelah mendapatkan perawatan selama lima hari di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUD Gunung Malang Kota Balikpapan. Selain gizi buruk, ia juga mengalami pneumonia dan infeksi kronis.

Dokter spesialis anak yang menangani Affandi, dr Bawono Bhakti Sp A M Biomed mengatakan, tim dokter telah berupaya maksimal melakukan penanganan. Kendati sempat membaik, kondisi Affandi kembali menurun sejak pukul 07.00 Wita. Hingga pada akhirnya, nyawa sang bayi tidak dapat terselamatkan lagi dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 08.00 Wita.

Guna mengambil pelajaran dari kisah singkat kehidupan Affandi, penulis melakukan kilas balik pada momentum terungkapnya peristiwa ini. Informasi yang dihimpun reporter yang mengulas mendalam, kondisi bayi Affandi yang mengkawatirkan awalnya diketahui oleh ibu RT yang sedang melakukan penarikan iuran di kediaman keluarga Suwandi di daerah Manggar.

Saat itu ibu RT mengajak nenek Affandi (ibunda Suwandi, red) untuk memeriksakan kondisi Affandi ke Puskesmas Manggar. Setelah diperiksa, pihak puskesmas menerbitkan rujukan agar Affandi segera dibawa ke rumah sakit. Namun bayi mungil tersebut tak kunjung dirujuk.

Pasalnya, sang nenek merasa risau karena tidak punya uang. Keluarga Suwandi ber-KTP Banjarmasin, sehingga tidak bisa mengurus jaminan kesehatan daerah, termasuk Surat Keterangan Tidak Mampu di Kota Balikpapan. Belakangan, ibu RT tersebut kembali melihat Affandi belum dirujuk. Ia lalu memaksa sang nenek untuk membawa bayi itu ke rumah sakit karena kondisinya kian darurat, meski melalui pembiayaan jalur umum.

(Baca juga: BREAKING NEWS - Bayi Penderita Gizi Buruk Ini Menghembuskan Nafas Terakhir di Ruang NICU )

Belum ada kabar terkini perihal mekanisme pelunasan pembiayaan penanganan medis bayi Affandi. Namun peristiwa kematian akibat gizi buruk seharusnya membuat seluruh elemen daerah memberikan perhatian. Bahwa penanganan gizi buruk haruslah dilakukan dari hulu ke hilir, terpadu, berkelanjutan, dan terkoneksi.

Pertama, dari sisi hulu, pemerintah perlu terus memperkuat kampanye sadar kesehatan keluarga mandiri. Sehingga setiap keluarga bisa “melek” tentang urgensi kecukupan gizi. Peran posyandu dalam pemeriksaan gizi dan balita, juga peran edukasi lainnya terus harus dioptimalkan. Substansi Perda Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, dan Anak (KIBLA) juga harus diterapkan secara on the track.

Pemerintah juga harus terus menerus menekan angka kemiskinan dan membangun kesejahteraan publik. Pada level dominan, memang pola “memberi kail” dan pendekatan produktivitas yang dilaksanakan. Namun pada kasus tertentu, pola “memberi ikan” juga tetap harus berjalan. Mengingat struktur lapisan bawah kemiskinan memiliki “kerak” yang tebal, kronis, dan butuh penanganan khusus.

Kedua, pada sisi hilir, ketika kasus gizi buruk terjadi, penanganan medis dilakukan yang secara tepat dan maksimal. Seluruh fasilitas kesehatan dari berbagai jenjang harus membuka diri dan merespon cepat pasien suspek. Juga mengawal agar tertangani dengan baik. Termasuk mengedukasi keluarga pasien tentang krusialnya gizi buruk. Sehingga penanganan lanjutan dan pascamedis dapat dilakukan.

Ketiga, penanganan masalah gizi buruk juga harus dilakukan secara terpadu dan menyeluruh. Seluruh sektor dan semua elemen harus berkontribusi. Termasuk perangkat RT dan kader jumantik yang bisa digerakkan untuk deteksi dini permasalahan kesehatan warga (tidak semata DBD, red). Warga juga harus terbuka dan peduli pada problem di sekitarnya. Apresiasi khusus untuk ibu RT di Manggar yang telah proaktif membawa Affandi ke puskesmas dan rumah sakit.

Keempat, perlunya penanganan berkelanjutan. Kasus gizi buruk bisa saja terulang kembali. Karena itu perlu langkah-langkah yang serius untuk mengantisipasinya. Pemerintah harus menjamin dan mengevaluasi program yang telah berjalan bisa semakin matang dan konsisten. Warga, secara mandiri, juga harus menerapkan pola hidup sehat.

Kelima, perlunya jaminan kesehatan yang terkoneksi lintas daerah. BPJS Kesehatan terus berupaya memperluas keanggotaan, termasuk bagi penerima bantuan iuran (BPI). Namun masih banyak warga yang belum tercover, yang kemudian masih berharap naungan Jamkesda.

Dalam hal ini, diperlukan pola konektifitas jamkesda lintas daerah. Dalam kondisi yang krusial, verifikasi bisa dilakukan di daerah domisili, bukan semata di daerah asal. Sehingga SKTM sebagai jaminan bisa segera diterbitkan, dengan jaminan pembiayaan daerah asal atau skema sharing. (*)

Penulis: Kholish Chered
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved