Salam Tribun

Solidaritas ala Bola

Di negara komunis itu, puluhan ribu orang yang memadati stadion tetap menundukkan kepala dan bersimpati atas tragedi Chapecoense.

Solidaritas ala Bola
TRIBUNKALTIM.CO/FACHMI RACHMAN
Syaiful Syafar 

Oleh: SYAIFUL SYAFAR (ifulaziale@gmail.com)

DALAM sepekan terakhir olahraga sepak bola seakan menghipnotis masyarakat dunia, tak terkecuali di Indonesia. Ada dua kejadian penting yang setidaknya membuka mata kita lebih lebar betapa olahraga ini punya efek mulia.

Masih membekas tragedi jatuhnya pesawat LAMIA Bolivia British Aerospace RJ85 di penghujung November lalu. Pesawat itu mengangkut awak klub sepak bola Chapecoense dalam perjalanan dari Bolivia menuju Medellin, Kolombia.

Penerbangan klub asal Brasil itu untuk melakoni laga final pertama Copa Sudamericana melawan Atletico Nacional. Naasnya, 72 penumpang dinyatakan meninggal dunia, termasuk 19 pemain dan para staf klub Chapecoense.

Publik sepak bola dunia pun langsung menunjukkan rasa peduli mereka terhadap klub ini. Bahkan Federasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol) langsung memberikan gelar Copa Sudamericana 2016 kepada Chapecoense. Hal ini atas permintaan klub Atletico Nacional kepada Conmebol untuk menyerahkan titel kepada calon lawan yang seharusnya berhadapan dengan mereka di final itu.

Tak hanya itu, beberapa pemain bintang yang telah gantung sepatu seperti Ronaldinho, Juan Riquelme, Roberto Carlos, Cafu dan Eidur Gudjohnsen dikabarkan bersedia kembali dari masa pensiunnya untuk secara sukarela bergabung dengan skuat Chapecoense.

Sebagai bentuk solidaritas sepak bola negeri samba, klub-klub besar di Brasil juga banyak yang bersedia untuk meminjamkan pemain mereka secara gratis kepada Chapecoense untuk musim mendatang. Semua itu demi membantu Chapecoense membangun ulang timnya.

Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) juga dikabarkan siap memberikan Chapecoense bebas dari degradasi selama tiga musim, atas permintaan beberapa klub Brasil. Kebijakan ini agar Chapecoense terus bertahan di kompetisi Serie A Brasil.

Atas musibah ini pula, jersey Chapecoense langsung laku dijual di pasaran. Selain itu klub Italia AC Milan pun ikut menyertakan logo Chapecoense di bagian lengan jerseynya untuk dijual dan uang hasil penjualan akan disumbangkan untuk klub negeri samba tersebut.

Solidaritas terhadap Chapecoense menyebar cepat di belahan dunia. Sebagai bentuk belasungkawa, semua laga sepak bola di awal Desember diawali dengan satu menit keheningan. Ini juga yang terlihat di laga semifinal kedua Piala AFF antara timnas Vietnam vs Indonesia, di Stadion My Dinh, Hanoi, Rabu (7/12/2016) malam.

Di negara komunis itu, puluhan ribu orang yang memadati stadion tetap menundukkan kepala dan bersimpati atas tragedi Chapecoense. Mereka ikut merasakan duka mendalam itu. Dan di saat yang bersamaan, Boas Solossa dkk tetap memanjatkan doa atas musibah gempa yang melanda Aceh hari itu juga.

Laga Vietnam vs Indonesia tak lepas dari sorotan jutaan pasang mata di tanah air. Publik dibuat tegang selama 120 menit, aktivitas kantor terhenti sejenak, mereka menyatu atas nama nasionalisme. Dan euforia pun pecah ketika wasit asal Tiongkok, Fu Ming meniup peluit panjang. Indonesia untuk kesekian kalinya lolos ke babak final Piala AFF setelah menang agregat 4-3.

Kegembiraan publik tumpah hingga ke media sosial. Seketika pembahasan netizen beralih ke laga dramatis itu. Tak ada kubu-kubuan, saling hujat ataupun mengklaim pembenaran aksi 212 dan 412. Kalaupun ada, hujatan itu hanya ditujukan pada wasit Fu Ming yang keputusannya dianggap kontroversial.

Ya, begitulah sepak bola. Secara gamblang mengisyaratkan fanatisme tapi juga tak melupakan persatuan dan soliditas yang nyata, bahkan bisa berjalan secara beriringan. Legenda sekelas Eric Cantona pun pernah menyejajarkan sepak bola dengan agama, tetapi ia malah mengisyaratkan bahwa sepak bola di atas semua itu.

"Anda dapat mengubah istri Anda, politik Anda, agama Anda, tetapi tidak pernah, tidak pernah bisa mengubah tim sepak bola favorit Anda," tuturnya. Nah, bagaimana dengan Anda? (*)

Penulis: Syaiful Syafar
Editor: Syaiful Syafar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved