Salam Tribun

Gempita AFF dan Bombardemen Aleppo

Dengan pola ini, dari 250 juta penduduk akan disaring pemain-pemain hebat sebagai skuad timnas berbagai usia.

STREAMUK
Ilustrasi sepakbola 
khc

oleh Kholish Chered

SEBUAH pernyataan menggelitik langsung mengemuka di grup Telegram, usai wasit Abdulla Hassan dari Uni Emirat Arab meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga leg kedua final Piala AFF 2016. “Batal untuk timnas, semoga bonus Rp 12 miliar dari Jokowi bisa dijadikan bantuan untuk warga Aleppo”.

Timnas Indonesia kalah 0-2 dari Timnas Thailand dalam pertandingan ketat di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/12/2016) malam. Dua gol kemenangan The War Elephants, yang membuat hasil agregat menjadi 2-3, diborong Siroch Chatthong pada menit ke-37 dan 47.

Sejarah mencatat, Indonesia lima kali gagal jadi juara Piala AFF setelah kalah di final. Yakni pada edisi 2000, 2002, 2004, 2010, dan sekarang ini, 2016. Sementara Thailand menjadi juara pada Piala AFF edisi 1996, 2000, 2002, 2014, dan 2016.

Apresiasi besar tentu perlu diberikan pada skuad Garuda yang telah berjuang keras di Bangkok, bahkan sepanjang turnamen. Berangkat dengan komposisi skuad “seadanya”, pasukan Opa Alfred Rield mampu melangkah jauh melebihi ekspektasi dan target kontingen.

Sebagaimana capaian tahun 2010, tapak langkah hingga laga final telah mengokohkan kembali ikatan persatuan. Semangat nasionalisme “dadakan” kembali tumbuh merata di seantero nusantara, yang ditularkan massif dari tayangan 90 menit di layar kaca.

Agar semangat kolektif ini tak sebatas euphoria, maka diperlukan langkah-langkah serius untuk membenahi sepakbola Indonesia.

Pertama, membangun kepengurusan PSSI yang solid dan memiliki kepedulian penuh memanajemen sepakbola. Bukan sebagai alat politik, pencitraan, maupun ladang bisnis.

Kedua, membangun sistem kompetisi berjenjang yang kokoh dan kredibel, sekaligus memberantas mafia sepakbola.

Ketiga, memperkuat peran jejaring klub untuk mencari bakat-bakat terpendam di seluruh wilayah nusantara. Klub perlu membuka kesempatan seluas-luasnya bagi putra daerah untuk menunjukkan talentanya. Prosesnya harus tanpa biaya.

Keempat, bersungguh-sungguh membangun akademi sepakbola lokal yang didanai Kemenpora maupun sharing dengan APBD. Seluruh akademi termonitor, dengan mekanisme penjaringan berjenjang untuk dikembangkan di akademi pusat.

Dengan pola ini, dari 250 juta penduduk akan disaring pemain-pemain hebat sebagai skuad timnas berbagai usia. Kelima, klub juga harus legowo untuk melepas pemainnya demi kepentingan nasional.

Pada sisi lain, nyaris bersamaan dengan gegap gempita di lapangan hijau Piala AFF, killing field di Bumi Syam terus bergejolak dan banjir darah. Bombardemen bom cluster menghujami kawasan padat penduduk, rumah sakit, hingga masjid di Aleppo, bertepatan dengan tibanya musim dingin.

Namun tak banyak yang menyoroti dan menyadarinya. Selain karena posisi geografis yang terpisah, terkotak sekat batas negara, juga karena minimnya publikasi mendalam.

Sejak lima tahun terakhir, statistik mencatat lebih dari 300 ribu jiwa menjadi korban rezim Syiah Nushairiyyah dibawah komando Presiden Suriah, Bashar al Assad. Sepekan terakhir, 280.000 jiwa terkepung di Aleppo Timur, terjebak serangan udara membabi buta.

Sayangnya, PBB selaku “wasit global” tak mampu berbuat banyak. Resolusi menghentikan peperangan ditolak mentah-mentah oleh Rusia dan China, melalui mekanisme super tak demokratis bernama hak veto.

Ironisnya, dalam sebuah voting yang dilakukan PBB terkait pelanggaran HAM berat di Suriah, pemerintah Indonesia malah mengambil sikap abstain.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan? Para ulama dunia menyerukan lima hal penting. Yakni doa dari setiap Muslim, qunut nazilah di seluruh masjid, penggalangan bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan, penyebaran berita yang akurat tentang krisis Suriah, hingga protes massif publik dan pemerintah di seluruh negeri.

Teringat pula sabda Rasulullaah Shallaallaahu ‘alaihi wa salaam; “Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya” (HR Imam Muslim).

Rupanya, semangat kebersamaan tak hanya dituntut untuk urusan sepakbola. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved