Harga Kurang Bersahabat, Produksi Beras Lokal Kurang Diminati

Namun faktanya, berton-ton beras masih harus selalu didatangkan dari luar daerah ke Kabupaten Bulungan setiap tahunnya.

Harga Kurang Bersahabat, Produksi Beras Lokal Kurang Diminati
TRIBUNKALTIM.CO/DOAN E PARDEDE
Beberapa jenis beras dari luar Kabupaten Bulungan dijual di Pasar Induk Kabupaten Bulungan, Jalan Sengkawit, Tanjung Selor, Selasa (27/12/2016). 

Laporan wartawan TribunKaltim.co, Doan Pardede

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Pertanyaan seputar masih masuknya beras dari luar daerah sementara produksi lokal sudah surplus, sedikit demi sedikit mulai terjawab.

Seperti diberitakan, dalam Rapat Kordinasi Dewan Ketahanan Pangan di Ruang Serbaguna Kantor Bupati Bulungan, Jalan Jelarai, Tanjung Selor, pekan lalu terungkap, berdasarkan data, kebutuhan beras di Kabupaten Bulungan dengan jumlah penduduk sebanyak 154.934 jiwa, mencapai 17.508 ton per tahun.

Sementara jumlah produksi beras Kabupaten Bulungan per tahunnya bisa mencapai 38.527 ton.

Dengan kata lain, produksi beras sebenarnya sudah surplus. Bahkan akibat produksi beras yang surplus dan selalu diatas kebutuhan, Kabupaten Bulungan juga sudah meraih penghargaan.

Namun faktanya, berton-ton beras masih harus selalu didatangkan dari luar daerah ke Kabupaten Bulungan setiap tahunnya.

Bulog Kabupaten Bulungan sendiri masih mendatangkan beras dari luar daerah.

Terjadinya keganjilan ini disebut-sebut bukan kebetulan, tapi memang ada skenario tertentu dalam alur peredaran beras. Dan diduga, ada peran mafia-mafia yang mengakibatkan ketergantungan kebutuhan pangan khususnya beras dari luar daerah, tidak akan pernah bisa hilang.

Kepala Bidang Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Kabupaten Bulungan Gerilyawansyah, Selasa (27/12/2016) menjelaskan, ada beberapa faktor yang mengakibatkan beras luar harus didatangkan ke Kabupaten Bulungan.

Di antaranya, kata pria yang akrab disapa Iwan ini, kondisi pertanian di Kabupaten Bulungan berbeda dengan daerah lain di Indonesia.

Salah satunya, panen di Kabupaten Bulungan tidak bisa sewaktu-waktu. Dan melimpahnya beras di Kabupaten Bulungan, hanya terjadi disaat panen.

"Menunggu panen itu ada kekosongan, sehingga harus mendatangkan dari luar," ujar pria yang akrab disapa Iwan ini.

Harus diakui kata Iwan, masih sangat banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus dituntaskan terkait beras lokal ini. Di antaranya, sulitnya akses transportasi membuat harga beras lokal ini jauh lebih mahal ketimbang beras dari luar daerah.

Otomatis, beras lokal ini kurang diminati pengusaha rumah makan dan masyarakat golongan menengah ke bawah.

"Masyarakat memilih yang lebih murah," ujarnya.

PR lainnya kata Iwan, beras dari Kabupaten Bulungan memang cukup diminati daerah lain. Pasalnya, beras dari Kabupaten Bulungan dijamin bebas bahan-bahan kimia.

Namun masalahnya lagi kata dia, karena keterbatasan kapasitas mesin giling, jumlah produksi juga terbatas dan tidak bisa melayani semua permintaan beras yang masuk.

Untuk itu, jika ingin meningkatkan jumlah produksi, mesin-mesin yang ada harus diperbaharui atau diganti dengan mesin baru dengan kapasitas yang lebih besar.

"Bahkan kemarin mesinnya sampai rusak," katanya. (*)

Penulis: Doan E Pardede
Editor: Syaiful Syafar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved