Opini

Kemandirian Perempuan Melalui Komunitas

Diciptakan sebagai perempuan bukanlah halangan, apalagi kesalahan. Sang pencipta sendiri telah menjanjikan pahala berlipat untuk perempuan

Kemandirian Perempuan Melalui Komunitas
TRIBUN KALTIM/AMANDA LIONY
Ilustrasi 

Oleh Fransiska, S.Si
(Pegiat Pendidikan dan Literasi)
siskasugiarso@yahoo.co.id

Kita tidak akan pernah tahu kapan membuka dompet hanya tersisa KTP. Kita tidak akan pernah tahu kapan pencari nafkah (suami) sakit. Kita tidak akan pernah tahu kapan suami meninggalkan kita selamanya. Dari pola pikir tersebut, seorang perempuan, ibu dan isteri hendaknya menjelma sebagai sosok penuh kemandirian.
Hidup mandiri bukan berarti benar-benar lepas dari campur tangan orang lain karena pada dasarnya manusia adalah makhluk zoon politicon, makhluk sosial yang tidak mampu hidup tanpa andil orang lain dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian kemandirian tersebut bermakna bahwa kita tidak boleh hanya bisa meminta - minta, menunggu uluran atau belas kasihan orang lain. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah? Bagaimana bisa menjadi tangan yang di atas tanpa adanya kemandirian?
Kemandirian tidak hanya menitikberatkan pada poin penilaian standar yakni kemandirian secara ekonomi atau finansial. The Calgary John Howard Society Literacy Program membagi kemandirian menjadi beberapa bentuk, yakni kemandirian secara finansial, kemandirian secara emosional, kemandirian secara fisik dan kemandirian secara intelektual. Keempat jenis kemandirian tersebut bukan berarti membuat kita egosentris.
Lantas, bagaimana dengan kemandirian pada perempuan? Perempuan cukup lihai di dapur, sumur dan kasur saja, stereotipe yang sering disematkan pada perempuan. Sebaliknya, kaum adam (laki - laki ) dipandang lebih mandiri dalam segala hal. Perempuan diletakkan pada kondisi serba ketergantungan pada orang lain, baik sesama perempuan dan terlebih kepada lelaki. Padahal kalau kita buka indera penglihatan selebar - lebarnya, banyak perempuan yang bertenaga super melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan laki - laki, banyak perempuan yang memegang jabatan penting di sektor pekerjaan dan banyak ibu yang mampu mengantarkan putra - putrinya ke gerbang kesuksesan meski hanya sebagai orangtua tunggal. Bahkan Indonesia pernah dipimpin oleh presiden perempuan.
Diciptakan sebagai perempuan bukanlah halangan, apalagi kesalahan. Sang pencipta sendiri telah menjanjikan pahala berlipat untuk perempuan, tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Perempuan yang mandiri memiliki ciri - ciri berikut : cepat bangkit dari keterpurukan berupa kesulitan, tidak mudah menyerah, menggali potensi diri untuk kemudian dikembangkan, haus ilmu dan menyebar manfaat bagi sesama. Selain secara pribadi, kemandirian juga bisa lahir dari komunitas.
Lantas, apa yang didapat dari bergabung pada suatu komunitas? Manfaat dari berkomunitas, diantaranya :
1.Menambah teman, kawan, sahabat, sebagai tempat berbagi ilmu, bertukar pikiran dan mengembangkan minat menjadi sesuatu yang berpotensi besar ke arah kesuksesan.
2.Dapat mengeluarkan potensi diri yang mungkin masih malu - malu untuk ditunjukkan. Misalnya, sebenarnya memiliki minat dan bakat memasak namun tidak percaya diri, maka ketika bergabung di komunitas kepercayaan diri untuk menghasilkan suatu karya akan timbul.
3.Mempunyai ruang sosial. Pada hakikatnya, manusia itu makhluk sosial. Sudah sepantasnya juga mempunyai ruang sosial. Ruang sosial yang ada dapat menanggulangi perempuan terhindar dari rasa galau, rendah diri, ajang selalu bersyukur, depresi bahkan aksi kriminal seperti mengakhiri hidup diri sendiri atau anggota keluarganya.
4.Memupuk inovasi dan kreatifitas dengan adanya ide - ide baru dan sharing (berbagi) pengalaman.
Bak cendawan di musim penghujan, dewasa ini telah banyak didirikan berbagai komunitas sebagai wadah perempuan menampilkan kekuatan sebenar dalam dirinya yang mungkin sulit untuk diasah apabila tidak bergabung dalam sebuah komunitas. Pemilihan komunitas sendiri biasanya berdasarkan pada minat atau hobi. Ada komunitas dengan fokus kuliner, menulis, olahraga, kerajinan tangan, gardening dan lain - lainnya. Kaum hawa tinggal memilih ingin melebur di komunitas apa. Media sosial telah memudahkan penggunanya untuk mendapatkan informasi tentang komunitas. Bagi perempuan yang hobi di dunia cake dan bakery, terdapat beberapa pilihan komunitas, seperti DC (Decorasi Cake), LE (Langsung Enak) Borneo, TLK (The Little Kitchen) dan NCC (Natural Cooking Club). Untuk kerajinan tangan, ada Komunitas Crafter Balikpapan.
Bergabung di komunitas kuliner tentunya menambah ilmu seluk - beluk, tips - tips membuat suatu makanan dan ragam jenis makanan atau masakan. Hasil dari kursus atau Latbar (latihan bareng) berupa makanan baik cake, roti maupun makanan utama dapat dijual sehingga menambah income keluarga, lebih dari itu mendatangkan kepuasan batin tersendiri bagi perempuan yang menggeluti usaha tersebut. Demikian pula dengan berbagai kerajinan tangan yang dihasilkan di komunitas crafter, berupa bros, boneka rajut dan karya bernilai estetik dan ekonomi dapat diperjualbelikan.
Hasil karya tersebut tentunya dapat dikembangkan melalui UKM (Usaha kecil Menengah) yang dapat diperdagangkan dalam skala nasional bahkan internasional. Semakin banyak UKM tentunya dapat mengurangi jumlah pengangguran. Sementara itu, hasil berupa tulisan artikel yang dikirim ke media cetak maupun online atau buku di komunitas menulis juga bisa menambah pundi - pundi keuangan. Demikian pula dengan hasil - hasil karya dari komunitas - komunitas lainnya yang dapat mengangkat nama daerah.
Selain tinjauan dari sudut pandang ekonomi, manfaat lainnya bergabung di sebuah komunitas ialah semakin bertambahnya ilmu, meningkatnya solidaritas dan kesetiakawanan sosial, baik di dalam maupun di luar komunitasnya. Seperti, pada setiap Bulan Ramadhan beberapa komunitas kuliner mengadakan program berbagi takjil dan makanan berbuka puasa pada petugas kebersihan. Mereka juga cepat tanggap apabila ada musibah, seperti kebakaran, banjir, orang sakit dan lainnya. Kesetiakawanan sosial ini tidak hanya dilakukan oleh komunitas kuliner akan tetapi juga komunitas - komunitas lainnya. Betapa bernilainya kemandirian melalui kegiatan amal dari banyaknya komunitas ini. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved