Akhir Februari, Harga Cabai Diprediksi Baru akan Stabil

Panen sekarang ini mulai cukup terganggu terutama oleh karena curah hujan, dan juga kerusakan akibat penyakit.

Akhir Februari, Harga Cabai Diprediksi Baru akan Stabil
TRIBUN KALTIM / NEVRIANTO HARDI PRASETYO
Pedagang menjual cabai tiung pada pembeli seharga 120.000 perkilogram di Pasar Segiri Samarinda Samarinda Kalimantan Timur, Rabu(4/ 1/2016). Harga cabai sempat menyentuh Rp 200.000 pada kemarin (3/1/2016) perkilogram karena minimnya stok di pasaran. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Persoalan naik turunnya harga pangan selalu menjadi perdebatan sengit, dari waktu ke waktu pemerintah sebagai pemangku kepentingan selalu berusaha menyelasikan masalah komoditas strategis seperti cabai.

Kerap kali faktor alam menjadi sengkarut masalah melonjaknya harga pangan, tak lain, masalahnya lagi-lagi curah hujan tinggi atau musim kemarau panjang.

Akibatnya, produksi menurun ditingkat petani, pasokan ke pasar menurun, dan kelangkaan barang hingga berdampak pada naiknya harga komoditas.

Selain faktor alam, rantai distribusi yang masih panjang juga dinilai berpotensi menjadi ladang permainan ambil untung yang berlebih dari berbagai pihak. Mulai dari pengepul, pengirim, hingga bandar di pasar.

Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas mengatakan, lonjakan harga cabai di prediksi baru akan stabil pada akhir Februari hingga Maret mendatang.

Baca: Harga Cabai Lebih Pedas, Kini Rp 140 ribu perkilogram

Hal itu disebabkan oleh sentra-sentra cabai di berbagai daerah akan mengalami musim panen cabai.

"Di beberapa sentra, Februari ini sudah mulai panen, tapi panen sekarang ini mulai cukup terganggu terutama oleh karena curah hujan, dan juga kerusakan akibat penyakit.

Jadi itu sebagai penyebab mengapa harga cabai sekarang belum bisa diturunkan pada saat ini," ujar Andreas saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (9/2/2017).

Dirinya menuturkan, persoalan lonjakan harga cabai saat ini memang faktor utamanya adalah faktor cuaca dan juga petani yang sedang menebus kerugian.

Halaman
123
Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved