Opini

Vitamin A dan Bulan Kasih Sayang

ADA yang spesial di Bulan Februari bagi bayi dan Balita. Bagi kaum ibu yang memiliki anak bayi, Batita maupun Balita

Vitamin A dan Bulan Kasih Sayang
Kompas/Bahana Patria Gupta
Ilustrasi 

Oleh : Fransiska, S.Si
(Alumnus FMIPA Kimia Unmul, Pegiat Pendidikan dan Literasi)

ADA yang spesial di Bulan Februari bagi bayi dan Balita. Bagi kaum ibu yang memiliki anak bayi, Batita maupun Balita dapat membuktikan salah satu bentuk kasih sayangnya dengan membawa buah hatinya ke Posyandu. Karena di bulan ini menjadi bulan pemberian Vitamin A dengan tidak berbayar atau dengan kata lain gratis. Vitamin merupakan nutrien organik yang dibutuhkan dalam jumlah kecil bagi sejumlah fungsi biokimiawi dan umumnya tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus dipasok dari luar. (Biokimia Harper : R.K. Murray dkk, 2003)
Sebelum pemberian vitamin, petugas medis yang hadir di posyandu akan memantau tumbuh kembang bayi dan balita dari beberapa aspek. Ada aspek sosial, mengetes apakah anak jika dipanggil mau menoleh atau tidak. Aspek lain yang juga menjadi kriteria penilaian, yakni aspek tumbuh kembang. Indikatornya adalah bagaimana proses makan anak, cara anak menyiapkan perlengkapan pribadinya seperti memakai baju, sepatu dan banyaknya kosakata yang mampu si anak ucapkan. Selain itu para petugas medis juga memantau bagaimana cara bermain anak, apakah anak cenderung memilih bermain sendiri atau sebaliknya, aktif bermain dengan teman - temannya.
Vitamin A yang diberikan terdiri dari dua jenis berdasarkan warna, merah dan biru. Vitamin A merah diberikan kepada bayi berusia tiga bulan hingga limapuluh sembilan bulan. Sedangkan Vitamin A biru untuk kelompok balita dengan kisaran usia satu hingga lima tahun.
1.Vitamin A
Vitamin A adalah vitamin yang larut dalam lemak dan tidak dapat larut dalam air. Vitamin A didapatkan dari proses hidrolisis senyawa karoten. Rumus kimia Vitamin A adalah C20H30O. Vitamin A terdiri dari 3 bentuk, yakni alkohol, aldehida dan dalam bentuk asam.
Vitamin A (retinol) termasuk senyawa poliisoprenoid yang memiliki cincin sikloheksenil. Vitamin A sendiri mempunyai provitamin yakni Beta Karoten. Di dalam sayuran, pigmen Beta Karoten berwarna kuning dengan dua molekul retinal yang dihubungkan pada ujung aldehid rantai karbonnya. Selanjutnya, Vitamin A akan disimpan di dalam hati sebagai ester dalam liposit (sel stelata perisinusoidal) yang akan dilepas ke dalam darah dengan terikat pada protein terikat. (Biokimia Harper : R.K. Murray dkk, 2003)
2.Dampak Defisiensi Vitamin A
Vitamin A diperlukan untuk proses fotokimia pada retina mata. Vitamin ini juga mempunyai peran penting dalam sintesis mukoprotein dan mukopolisakarida untuk kenormalan fungsi epitel jaringan mata, mulut, alat pencernaan, alat pernapasan dan saluran urin. Apabila terjadi gangguan dalam pembentukan mukosa yang disebabkan oleh kekurangan Vitamin A dapat mengakibatkan tubuh mudah terkena infeksi. (Dasar - dasar Biokimia, hal 408 - 409). Kerusakan jaringan mata yakni xeroftalmia akibat defisiensi vitamin A dapat mengakibatkan kebutaan.
Menurut Anna Poedjiadi dalam bukunya yang berjudul "Dasar - Dasar Biokimia" tersebut, defisiensi (kekurangan) Vitamin A dapat menyebabkan :
a)Rabun malam atau senja.
b)Perubahan epitel di seluruh tubuh, termasuk mata. Dimana kulit menjadi keras, kering, bersisik, berubahnya sensitivitas mata terhadap cahaya kuat serta mengeringnya kornea mata.
c)Perkembangan tulang dan gigi yang tidak normal.
Meski demikian pentingnya, pemberian Vitamin A tidak boleh secara berlebihan (over dosis). Toksisitas atau hipervitaminosis (kelebihan) vitamin A dapat ditandai dengan diketahuinya kapasitas protein pengikat aporetinol dilampaui dan sel tersebut terikat pada retinol yang tak terikat. (Biokimia Harper : R.K. Murray dkk, 2003)
3.Sumber Vitamin A
Vitamin A dapat diperoleh dari ASI ( Air Susu Ibu), buah - buahan warna kuning, sayuran hijau, wortel, tomat, minyak ikan, hati, keju, telur dan daging. Nah, bicara tentang ASI pasti akan banyak mengundang komentar. Tak perlu ada Mom War antara ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dengan ibu yang memberikan susu formula. Setiap ibu pasti ingin memberikan yang terbaik kepada buah hatinya.
Kegiatan penimbangan Posyandu dapat menjadi ajang tanya - jawab antar petugas dengan ibu, termasuk masalah ASI. Seperti salah seorang ibu di Posyandu Mawar Jingga, Manggar Baru yang mengeluhkan kuantitas ASI - nya yang sedikit. "Kalau ASI sedikit, tetap terus kasih. Semakin sering dikasih semakin deras keluarnya," jawab salah seorang petugas medis.
Bagaimana jika ada suatu halangan yang tidak memungkinkan orangtua membawa anaknya ke posyandu di waktu yang telah ditentukan? Tidak perlu merasa khawatir. Bawalah Balita Anda ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan Vitamin A. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved