Opini

Pilgub Kaltim, Bagaimana Jika Rita Wakil?

kelompok elit politik, bahkan birokrat daerah ini "menyetujui" kalimat : Siapa pun wakilnya, jika gubernurnya Rita Widyasari, pasti terpilih.

Pilgub Kaltim, Bagaimana Jika Rita Wakil?
KOMPAS/PRIYOMBODO
Ilustrasi Pilkada 

Oleh: Sunarto Sastrowardojo
Mantan Komisioner KPU
ssastrowardojo@uwgm.ac.id

Membaca Harian Tribun, Sabtu 11 Februari 2017, tentang suksesi gubernur. Saya jadi merinding. Pertama, karena Kalimantan Timur bakal memiliki gubernur pertama perempuan yang dipilih secara langsung. Betapa tidak, perempuan, cantik, berpendidikan, memiliki basis kuat di partai politik. Bahkan konon mampu menggusur boldozer Kalimantan Timur.
Merinding lantaran, perempuan belum genap lima puluh tahun mampu menaklukkan persepsi publik Kalimantan Timur dengan kiprahnya hampir di seluruh lini. Bayangkan, tukang ojek, pemulung, hingga kelompok elit politik, bahkan birokrat daerah ini "menyetujui" kalimat : Siapa pun wakilnya, jika gubernurnya Rita Widyasari, pasti terpilih.
Coba bayangkan coba bayangkan politisi sepuh bertekuk lutut, berserah diri. Pasrah politik ini, mungkin baru yang kali pertama terjadi. Sejumlah nama populis yang digadang gadang menjadi wakil adalah Makmur HAPK, Kiai Faried Wadjdy, Syaharie Jaang, Rusmadi, Sofyan Hasdam, Yusran Aspar. Bahkan Isran Noor. Malah nama yang tak pernah muncul ke permukaan dan tidak terendus media seperti Abdul Rachim, AF, rektor Widyagama itu. Semua tokoh sepuh.
Sebagai mantan komisioner KPU yang dipecat, saya lalu coba mengitung hitung kekuatan real mereka berdasarkan perolehan suara ketika terpilih jadi bupati dan walikota jika bergabung merebut kursi gubernur. Rangking satu Rita-Jaang, rangking kedua Rita-Rizal, Rangking ketiga Rita-Makmur, rangking empat Rita-Yusran. Lalu dari luar garis ada Rita-Faried, Rita-Hasdam, Rita-Isran, Rita-Rachim.
Hal lain, perspektif lain yang pernah saya coba bangun adalah membalik opini politik, anggap saja ini opini publik dan realitas sosial. Begini. Saya pernah memposting : Siapa pun gubernurnya, jika wakilnya Rita pasti terpilih. Nah, lo.
Follower saya di twit : 2.452 (37%) nya adalah rekan rekan saya di Kalimantan Timur, selebihnya kolega di seluruh dunia. Hanya empat orang yang setuju dengan ngere twit dengan mengatakan Ide nakal melawan arus politik. Lalu Facebook, 1.009 teman saya tak satu pun yang menanggapi.
Di Instagram malah parah. Ada tiga IG Akun yang mencaci saya dengan kalimat dasar ndak ngerti geopolitik regional dan kesaktian Srikandi Politik kita. Nah, kam. Mungkin, iya, saya ndak paham soal yang begitu begitu. Tapi mosok sih.
Siapa pun gubernurnya, jika wakilnya Rita pasti terpilih. Nah ini yang ingin saya coba pertebal garis bawahnya. Jika itu terjadi, saya berani memastikan bahwa wakil gubernur Kalimantan Timur adalah Rita Widyasari, anak biologis sekaligus anak ideologisnya pendekar politik Kalimantan Timur, Syaukani Hasan Rais.
Politik adalah kolaborasi, kata Jauhar Barlian. Politik adalah union, politik adalah kesadaran kenegaraan, kesadaran partisipatif, kesadaran pemberdayaan masyarakat, kesadaraan teritori, kesadaran mensejahterakan dalam arti luas.
Tapi menurut saya, politik adalah kesetaraan. Kesetaraan Kalimantan Timur dalam memperjuangkan sejengkal tanah, seonggok kemartabatan agar pemerintah pusat tidak memandang dengan sebelah mata akan potensi Kalimantan Timur. Potensi sumberdaya alamnya, konfliknya, budayanya dan "kediamannya" atas sejumlah peng-abai-an yang dialami.
Tapi sudah lah, 2018 tinggal beberapa bulan. Pesta demokrasi di daerah ini akan menorah sejararah, betapa tak bernyalinya pendekar pendekar politik di Bumi Etam. Atau siapa tau besok Rita Widyasari memutuskan untuk tetap melanjutkan pembangunan manusia seutuhnya di Kutai Kartanegara dan memberikan kesempatan kepada tokoh tokoh sepuh untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang arif-bijaksana. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved