Cabai Mahal, Daging Ayam Ras Justru Picu Deflasi

Namun tarif listrik menjadi penyumbang pertama inflasi kalender dari kelompok bahan makanan sebesar 0,1138 persen.

Cabai Mahal, Daging Ayam Ras Justru Picu Deflasi
tribunkaltim.co/budi susilo
Sudirman (bertopi), pedagang cabai di Pasar Pandansari, Kota Balikpapan sedang memilah cabai yang layak untuk dijual ke konsumen, Senin (9/1/2017). 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Amanda Liony

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Sepanjang Februari lalu, Kota Balikpapan mengalami deflasi sebesar -0,26 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Balikpapan, komoditi yang memberi andil terhadap deflasi yaitu tomat sayur, bawang merah, kelapa, daging ayam ras, ikan layang, kangkung dan lainnya.

Menurut Andi Adityaning Palupi, Manager Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan, meski harga cabai relatif mahal dengan harga diatas Rp 100 ribu, namun harga jual daging ayam yang mengalami penurunan indeks harga paling besar memberi dampak bagi deflasi bulan Februari.

"Daging ayam ras dari kelompok bahan makanan ini secara keseluruhan memang mendominasi deflasi yang mencapai hampir mendekati angka deflasi. Disusul komoditi ikan layang yang masuk dalam sub kelompok ikan segar sebesar -7,32 persen," ungkapnya, Rabu (1/3/2017).

Dari trend pasar, lanjutnya, daging ayam ras pada momentum besar mengalami kenaikan dengan harga jual mencapai Rp 60 ribu lebih per ekornya, dan kini mengalami penurunan harga.

Memang harga cabai yang mahal, lanjutnya, tak mempengaruhi statistik deflasi secara keseluruhan.

Secara umum, cabai memang memberi andil terhadap inflasi kalender (year to date/ytd) 0,1116 persen dari inflasi kalender sebesar 0,81 persen.

Namun tarif listrik menjadi penyumbang pertama inflasi kalender dari kelompok bahan makanan sebesar 0,1138 persen.

Sementara itu, Kepala KPw BI Balikpapan, Suharman Tabrani, mengatakan, pihaknya bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yakni gabungan pemerintah kota, Bulog, dan lainnya, akan terus melanjutkan monitoring dan koordinasi.

"Monitoring disini adalah upaya mengendalikan beberapa harga komoditas seperti cabai rawit yang masih tinggi secara persisten beberapa minggu ini," ujarnya. (*)

Penulis: Amanda Liony
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved