Opini

Pertahankan Eksistensi Bahasa Daerah

generasi muda lebih bangga menuturkan kata gaul ala Jakarta bahkan tuturan berdialek Barat dalam komunikasi sehari-hari

Pertahankan Eksistensi Bahasa Daerah
TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO
Ilustrasi 

Oleh: Ahmad Rifandi, SE
Guru MTs Nurul Hikmah Sangatta
Pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kutim
rifandi_88@yahoo.com

Gerakan revolusi mental peserta didik adalah pengupayaan pemerintah saat ini menyongsong generasi emas 2045. Di jaman yang menuntut kreatifitas tingkat tinggi, yang siap mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sikap adab, generasi muda juga disiapkan untuk menjunjung tinggi kearifan budaya lokal yang beragam, yang siap dikenalkan eksistensi kulturnya dalam hubungan antar negara.
Di masa modernisasi ini, manakala generasi muda lebih bangga menuturkan kata gaul ala Jakarta bahkan tuturan berdialek Barat dalam komunikasi sehari-hari, maka saat itulah ada rasa kekhawatiran bahwa masa depan kelestarian budaya nusantara bernuansa kedaerahan, lambat laun akan terjun bebas merosot ke arah kepunahan.
Penulis melakukan penelitian tindakan di 180 siswa pada salah satu sekolah di Sangatta, dan hasilnya lebih dari 85% ternyata kurang fasih menuturkan bahasa daerahnya sendiri, itu belum termasuk pada pemahaman tentang penguasaan tari daerah, alat musik daerah, maupun lagu daerah. Ini adalah perkara miris yang mesti dikikis.
Kalimantan Timur bak miniatur Nusantara. Hampir semua suku bangsa ada di Provinsi ini. Ironisnya, dengan komposisi mayarakatnya yang multi kultural, membuat anak-anak mereka mulai kehilangan identitas kebudayaan asalnya. Padahal, komunitas budaya maupun komunitas kerukunan berbagai suku mulai bertebaran di daerah yang kaya akan sumber daya pertambangan ini. Pertanyaannya, seberapa besar kiprah mereka dalam melestarikan dan mendidik kebudayaan daerah kepada generasi muda?
Pendidikan seni dan kebudayaan memang sudah masuk pada kurikulum sekolah. Namun, sangat disayangkan bila pendidikan itu hanya sampai pada 5 senti dari atas kepala, yang berporos pada kemampuan otak atas pengetahuan kebudayaan saja. Artinya output yang dihasilkan hanya sebatas di atas kertas penilaian akademik. Belum jauh pada upaya pewarisan hingga pelestariannya. Padahal, Pendidikan kebudayaan yang diharapkan bukan pada output penilaian akademik semata, namun pada outcome yang dirasakan kepada siswa untuk sadar bahwa kebudayaan adalah eksistensi dan jati diri bangsa.
Sebelum berbicara panjang tentang pelestarian tarian tradisional, lagu tradisional, atau pun alat musik tradisional, ada baiknya dimulai dari hal yang seharusnya dilestarikan di rumah, yakni bahasa daerah. Keresahan pun muncul tatkala dialek bahasa daerah merosot karena tidak diminati oleh kebanyakan generasi muda saat ini. Bahasa daerah dianggap tidak gaul dan ketinggalan jaman. Keengganan generasi muda melestarikan bahasa daerah ini akan berdampak pada punahnya bahasa ibu sebagai identitas kebhinekaan.
Punahnya Keindahan Bahasa
Data yang dihimpun oleh lembaga kebudayaan internasional, terlihat kepunahan beberapa bahasa daerah sudah terjadi di Indonesia. Hal yang memilukan, bahwa tidak menutup kemungkinan akan merentet pada lenyapnya budaya bestari lainnya. Data UNESCO memaparkan ada 12 bahasa daerah di Indonesia yang telah punah yakni Hukumina, Kayeli, Liliali, Mapia, Moksela, Naka'ela, Nila, Palumata, Piru, Tandia, Te'un, Tobada'. Jumlah itu bisa jadi lebih sedikit dari yang sebenarnya karena ada banyak bahasa daerah yang tidak terpublikasi secara keseluruhan.
Bersamaan dengan lenyapnya beberapa bahasa daerah, tak kurang ada 47 bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah dengan jumlah penutur hanya tersisa 1-100 orang. Di Kalimantan misalnya, bahasa Longiku (Kalimantan) diketahui hanya memiliki 4 penutur di tahun 2000, Bahasa Lom (Sumatera) menyisakan 10 orang penutur pada tahun 2000. Di Sulawesi bahasa Budong-Budong hanya tinggal dituturkan oleh 50 orang. Sementara bahasa Nusa Laut pada tahun 1987 penuturnya tinggal berjumlah 10 orang. Di Papua Bahasa Mansim atau Borai menyisakan 5 penutur di tahun 2007. Bahasa Dusner diketahui hanya memiliki penutur berjumlah 20 orang di tahun 2000. Penulis belum menemukan data terbaru dari nasib miris bahasa di atas jika ditarik sampai tahun ini.
Seperti apa nasib bahasa Kutai, Dayak, Banjar, atau Paser yang notabene adalah bahasa asli Kalimantan? Saat ini empat bahasa itu masih bisa bernapas lega, karena masih memiliki banyak penuturnya. Meski saat ini tuturannya sudah dikombinasikan dengan bahasa lainnya. Semakin ke sini sudah semakin tidak halus. Harus diwaspadai, seiring dengan arus globalisasi dan pola hidup kaum muda yang asyik dengan bahasa kekinian, tidak menutup kemungkinan jika masa depan kebudayaan bahasa lokal akan senyap tenggelam bersamaan dengan lajunya arus modernisasi.
Bagaimana mengupayakan agar masa depan bahasa daerah dengan keragaman budaya di Kalimantan Timur bisa lestari? Tiada cara lain selain menggodok sedari dini agar kaum muda mulai mencintai dan tidak malu mempelajari bahasa daerahnya sendiri. Mereka harusnya dididik, dimotivasi, dan dibimbing secara kontinyu mulai saat ini. Mulai dari lingkungan rumah, sekolah, maupun kemitraan antara lembaga pendidikan dengan komunitas budaya. Dalam hal ini, pemerintah daerah mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga Kabupaten bisa jadi sudah merancang dan mengimplikasikan program jangka panjang untuk mendukung kiprah komunitas budaya bermitra dengan satuan pendidikan guna melestarikan akar budaya lokal untuk disemai ke generasi usia sekolah.
Komunitas budaya dari daerah perantauan, tentu memiliki paguyuban suku sebagai wadah kerukunan sesama suku. Tentu tidak diinginkan manakala paguyuban itu dibentuk atas azas politik. Harus diluruskan bahwa paguyuban suku dibentuk di dearah rantau tiada lain untuk meneguhkan kebudayaan sendiri kepada anak-anak mereka. Hal yang paling memungkinkan adalah pengadaan pembelajaran ekstra sekolah yang berkolaborasi dengan komunitas kebudayaan tertentu.
Lembaga pendidikan diakui sebagai proyek pembibitan generasi emas yang memegang prinsip patriotik, termasuk mempertahankan eksistensi budaya nusantara. Upaya itu tak akan berjalan mulus tanpa model pendidikan budaya di sekolah yang berbasis komunitas. Artinya, komunitas kebudayaan yang bertengger di lapisan masyarakat digandeng bersama dengan lembaga pendidikan untuk membimbing anak didik agar bukan hanya sekadar mencintai budaya bahasa daerahnya, melainkan mewariskannya dengan penuh kebanggaan. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved