Opini

Ancaman Prostitusi Media Sosial

Perkembangan ini, sisi lain, menjanjikan kita menjadi konsumtif semata, yang hanya menjadi penikmat dan selalu merasa ketagihan

Ancaman Prostitusi Media Sosial
IST
Ilustrasi Facebook mobile 

Fathor Rahman

Alumni Jurusan Pendidikan INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep

Agus Laksito mengutip dari data Kementrian Sosial menyebutkan jumlah penduduk Indonesia 360 ribu pada tahun 2016, dan terdapat di dalamnya 56 ribu pelacur adalah anak-anak, (Tribun Kaltim 20/03).
Dari data tersebut, bisa dibilang prostitusi anak menyumbang (mendekati) seperempatnya dari data penduduk Indonesia yang hal ini kadang kedengarannya sepele sekali tetapi jika tidak ada wacana dan tindakan yang bisa menekan menurunnya data tersebut maka alamat generasi pemuda Indonesia diambang ke-jahiliyah-an. Dimana hal demikian dianggap biasa-biasa saja, sedangkan dampaknya untuk masa depan semakin merusak moral bangsa, bahkan karismatik negara yang sedari awalnya dikenal dengan budi luhur maka selanjutnya bisa dikenal peradaban hancur.
Seiring berkembangnya zaman, hal ini bisa menjadi tantangan dan peluang, misal, hadirnya android. Sekejap mata, kita dibantu untuk mengakses informasi lebih cepat dan up to date tanpa harus membuka buku atau membelinya.
Entah informasinya yang berbau dan mengandung unsur SARA, semua tinggal kita menikmatinya dengan jasa jari-jari untuk mengetik apa yang kita sukai atau inginkan. Perkembangan ini, sisi lain, menjanjikan kita menjadi konsumtif semata, yang hanya menjadi penikmat dan selalu merasa ketagihan atau bahkan merasa kebutuhan, dimana tanpa memegang android terasa ada hal yang mengganjal ditambah tidak ada kuota internetannya.
Tetapi bagi sebagian orang, android menjadi peluang untuk lebih perfect (penyempurna), entah untuk bisnis lebih nyaman dan efisien waktu dengan cara menjajakan barang dagangannya lewat media sosial atau berkarya dan mencari peluang kerja serta lainnya.
Yang naif adalah monoton (istiqamah) menjadi user (pengguna) yang tidak bisa mengendalikan android hanya tampil sebatas menjadi penghibur semata, disamping mengakses yang jorok (berbau pornografi) atau sebagai penghibur diri dengan cara hanya digunakan untuk main game hingga berjam-jam yang membuat kita semakin kecanduan. Hal ini rawan terjadi pada anak-anak dari tingkat SD-SMA, terlebih bagi mahasiswa, jika terjadi padanya (mahasiswa/i) perlu dipertanyakan kemahaannya. Apalagi alumni "maha"-sarjana!.
Untuk menanggulangi kecanduan semua ini, dari hal yang negatif, terutama pada anak-anak perlu adanya kesadaran orang tua-rumah tangga terutama, sebab anak memperolehnya (hp/android) dari keluarga mayoritas, sehingga terjadilah gejala prostitusi media sosial dalam rumah tangga. Maksudnya, keluarga membebaskan pengawasan pada anaknya-yang masih usia dini terutama-entah apa saja yang dioperasikan atau tontonnya, anak memperoleh kebebasan dari waktu pengoperasian hp/android sehingga lupa jam belajar, lupa tugas, dan hanya menambah menjadi anak yang kurang hajar dan kurang belajar sebab saat anak sudah kadung mengoperasikan androidnya maka akan tumbuh sifat pemalasnya. Anakpun menjadi manja dan inginnya selalu dimanja.
Bukankah prostitusi itu menginginkan kebebasan waktu dan menikmati dalam hal kejelekan dan menjauhkan diri dari kebaikan ? Lembaga pendidikan adalah gelombang kedua setelah keluarga, sebab anak banyak berinteraksi di dalam keluarganya ketimbang di sekolah dan setengah hari ia berada di sekolah untuk menstimuli bakat atau potensinya. Disinilah menjadi guru, patut digugu dan ditiru. Menjadi guru adalah panggilan nurani sehingga senantiasa ada upaya menjaga fitrah-nya anak-anak / siswa-siswi ber-nur ilahi. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved