Opini

Melirik Kesuksesan Wirausaha Cake Salak

Berbekal keprihatinan nasib petani salak tersebut, Riswahyuni yang kerap disapa Yuni mencoba melakukan terobosan mengolah salak menjadi cake

Melirik Kesuksesan Wirausaha Cake Salak
Istimewa
Kunjungan ke Pusat Produksi Cake Salak 

Oleh Fransiska, S.Si
(Fasilitator Jurnalistik Sekolah Alam Balikpapan)
mimisiska84@gmail.com

SALAK merupakan tanaman sejenis palma dengan hasil utama berupa buah. Salak yang memiliki nama Latin Salacca zalacca ini dalam Bahasa Inggris disebut snake fruit karena kulitnya yang identik dengan sisik ular. Kandungan salak kaya manfaat, seperti : Vitamin C, Beta Karoten, Tannin, Antioksidan, Pectin dan Potassium, Serat dan Kalori.
Di Kota Balikpapan sendiri, salak menjadi salah satu komoditas andalan di sektor pertanian. Sayangnya transaksi jual beli salak lebih terfokus dalam bentuk buah segar yang dijajakan di kios - kios buah atau pasar. Penjualan dalam bentuk buah segar tentu saja memiliki titik kelemahan yakni dengan membusuknya buah seiring berjalannya waktu. Beberapa petani salak di daerah Kilo, Balikpapan mengaku terpaksa memberikan salaknya sebagai makanan hewan ternak mereka, seperti bebek daripada membusuk dan dibuang ke tempat sampah. Meski mereka menyadari, salak bukanlah makanan favorit bebek.
Berbekal keprihatinan nasib petani salak tersebut, Riswahyuni yang kerap disapa Yuni mencoba melakukan terobosan mengolah salak menjadi cake. Tanpa resep keluarga dan tanpa mengikuti kursus atau pelatihan hanya bermodalkan niat tulus dan tekad yang kuat. Yuni dan keluarga sendiri sebenarnya kurang menyukai salak dalam bentuk buah segar dikarenakan ada beberapa jenis salak yang terasa masam.
Untuk itu, melalui proses panjang dan kegagalan berulang kali hingga akhirnya cake salak buatan Yuni mampu membuat keluarganya menyenangi buah salak yang telah dijadikan bahan utama cake. Produksi pun bertambah, hingga Yuni merekrut tenaga kerja dan mengikuti pelbagai perlombaan. Hasil tidak akan membohongi usaha. Yuni pun berhasil memenangi berbagai ajang lomba. Salah satunya sebagai juara 1 Festival Panganan Khas Balikpapan (2012) dan yang terbaru keluar sebagai Runner Up Master Oleh - Oleh Terbaik se Indonesia (2016). Yuni kini juga menggelontorkan Program Cooking Class untuk anak - anak yang ingin belajar membuat cupcake salak. Usaha mandirinya dibangun dengan nama "Cake Salak Kilo" yang beralamat di Perumahan Griya Permata Asri, Ring Road.
Tepat di HUT Ke - 120 Balikpapan (10/2), saya mengajak peserta ekskul jurnalistik Sekolah Alam Balikpapan bertemu dengan Yuni. Di pertemuan tersebut, anak - anak belajar bagaimana berwirausaha, menjadi pengusaha yang menciptakan lapangan kerja. Meski pada awalnya sulit dan mengalami pasang - surut, namun anak - anak diberi pembekalan agar tetap berpijak pada niat tulus. Bahkan jika memungkinkan agar menambah cabang produksi. Seperti Yuni yang tidak hanya memproduksi cake salak. Bahan baku utama salak juga diolahnya menjadi sambal, strudel, sirup, pai brownies, madumongso, asinan, manisan, klapeertart, dodol dan lainnya. Termasuk limbah kulit dan biji salak yang disulapnya menjadi bunga hias dalam pot.
Jeli membaca peluang, itulah salah satu kunci memulai usaha. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: "Dari 'Ashim Ibn 'Ubaidillah dari Salim dari ayahnya, Ia berkata bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: "Sesungguhnya Allah menyukai orang mukmin yang berkarya."(H. R. Al-Baihaqi). Dengan adanya suatu karya yang dihasilkan dapat memberikan sumbangsih kepada orang lain. Contoh lainnya, Abdurrahman bin Auf yang juga jeli melalui membaca peluang muncul sebagai pelaku ekonomi di Madinah saat itu. Utsman bin Affan juga demikian dengan usaha dagangnya berupa bahan pakaian yang kemudian usahanya bertambah sukses dan bermanfaat bagi orang lain. Imam Abu Hanifah juga berprofesi lain sebagai pedagang bahan pakaian.
Pun kalau kita menggali informasi pengusaha - pengusaha sukses sekarang baik melalui buku maupun online yang telah banyak diulas untuk kita jadikan motivator dan inspirator. Harapannya semakin banyak generasi penerus yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri dan orang lain, bukan generasi yang hanya berpangku tangan menunggu surat lamarannya diterima di suatu instansi. Karena kesuksesan juga bisa diciptakan dari rumah. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved