Selasa, 28 April 2026

Viral di Medsos

Bikin Geram! Ngaku Kelaparan, Pria Ini Ingin Santap Burung Langka Khas Kalimantan

Jika diperhatikan lebih detail, foto burung yang diketahui merupakan jenis burung enggang tersebut diduga sudah tak bernyawa.

Instagram

TRIBUNKALTIM.CO - Sebuah foto yang tersebar di media sosial Instagram belum lama ini memicu amarah kalangan netizen.

Bukan tanpa alasan, dalam foto yang diunggah oleh akun Instagram @raffi_11dr, terlihat seorang pria seolah sedang memperlakukan hewan tidak semestinya.

Pada postingan yang diunggah pada (25/3/17) ini tampak pria yang diduga bernama Raafi'ud U Hasyim sedang berpose melebarkan sayap Burung Rangkong (Enggang).

Jika diperhatikan lebih detail, foto burung enggang tersebut diduga sudah tak bernyawa.

Hal tersebut terlihat dari mata burung yang memiliki paruh berbentuk tanduk sapi itu tertutup.

Terlebih lagi dalam keterangan foto tersebut, pria ini menuliskan bahwa ia ingin memakan burung enggang tersebut.

"M"f kan (maafkan) aku burung kami juga butuh makan... #hidup_di_hutan_asik #berburu #memancing," tulis @raffi_11dr.

Screenshot Instagram/@raffi_11rdr
Screenshot Instagram/@raffi_11rdr

Padahal seperti yang diketahui karena populasinya yang semakin berkurang, burung enggang termasuk di dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undang.

Baca: Burung Enggang Terus Dibantai di Kalbar

Meski tidak diketahui apakah pria tersebut benar-benar memakan burung keramat oleh suku Dayak Kalimantan ini, namun karena kelakuannya itu, pria dalam foto ini membuat kalangan pengguna Instagram geram.

"Waah bro.. Kasiang tu burung eee," komentar akun @gfredrikt.

Pengunggah foto lalu membalas, "@gfredrikt kasian mana klo sa mati kelaparan bro? Hayo."

Selanjutnya pengguna Instagram yang lain ramai memberikan hujatan pedas. 

Seperti yang disampaikan oleh akun adhan_chaniago, "Ni yg mau mkan emang gak punya otak apa ia. Hewan yg dilindungi malah lu mkan plak,mending lu cari daun ubi aja aja lah bro."

Adapula netizen yang mengungkapkan jika pria ini hanya ingin eksis semata, "Ni anak lg pengen eksis aj..lebih tepat orang rakus yg pengin eksis..semoga Anda cepat diterima disiNya," tulis akun alzayusamin.

"Sebenarnya, lapar apa rakus sih??," sahut akun mauly_atjeh.

"Situ pemburu resmi gk. Baj*ngan kau bunuh burung enggang," komentar akun myahya93.

"Mau cari sensasi kh? Wkwk. Mampus kena pasal. Siap siap bermalam di bui ya," ungkap akun rizaldyhermawan_.

57 Spesies di Dunia, 14 Ada di Indonesia

Burung Enggang
Burung Enggang

Dikutip dari Wikipedia, Enggang atau Rangkong adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran.

Biasanya paruhnya itu berwarna terang. Nama ilmiahnya Buceros merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti "tanduk sapi" dalam Bahasa Yunani.

Burung Enggang tergolong dalam familia Bucerotidae.

Di dunia, terdapat 57 spesies enggang yang tersebar di Asia dan Afrika, 14 di antaranya ada di Indonesia.

Dari 14 spesies tersebut, 3 di antaranya termasuk spesies endemik yang tidak terdapat di negara lain.

Dari berbagai spesies yang ada, enggang gading adalah yang terbesar dan menjadi target para pemburu liar karena paruhnya amat mahal.

Makanannya terutama buah-buahan juga kadal, kelelawar, tikus, ular dan berbagai jenis serangga.

Ketika waktunya mengeram, enggang betina bertelur sampai enam biji telur putih terkurung di dalam kurungan sarang, dibuat antara lain dari kotoran dan kulit buah.

Hanya terdapat satu bukaan kecil yang cukup untuk burung jantan mengulurkan makanan kepada anak burung dan burung enggang betina.

Apabila anak burung dan burung betina tidak lagi muat dalam sarang, burung betina akan memecahkan sarang untuk keluar dan membangun lagi dinding tersebut, dan kedua burung dewasa akan mencari makanan bagi anak-anak burung.

Dalam sebagian spesies, anak-anak burung itu sendiri membangun kembali dinding yang pecah itu tanpa bantuan burung dewasa.

Disakralkan Suku Dayak

Konon, binatang ini juga disakralkan oleh suku Dayak.

Masyarakat Dayak di Kalimantan meletakkan posisi burung enggang layaknya menghormati pencipta.

Hampir keseluruhan bagian tubuh enggang selalu disimbolkan dalam benda yang digunakan dalam keseharian masyarakat Dayak. Misalnya rumah adat, baju adat, bahkan tato yang melambangkan burung ini.

Patung burung Enggang di Gerbang Kota Barabai, Kalimantan Selatan. (Banjarmasinpost.co.id/Hanani)
Patung burung Enggang di Gerbang Kota Barabai, Kalimantan Selatan. (Banjarmasinpost.co.id/Hanani)

Dilansir dari 1001indonesia.net, enggang juga menjadi simbol seorang pemimpin yang ideal bagi orang Dayak. Hal ini dikarenakan burung enggang terbang dan hinggap di gunung-gunung dan pepohonan yang tinggi, bulu-bulunya indah, dan suaranya terdengar ke mana-mana.

Sayapnya yang tebal menggambarkan pemimpin yang melindungi rakyatnya. Suaranya yang keras menyimbolkan perintah pemimpin yang selalu didengar oleh rakyat. Ekornya yang panjang menjadi tanda kemakmuran rakyatnya.

Secara keseluruhan, burung enggang menyimbolkan watak seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Paruh burung enggang digunakan sebagai lambang pemimpin perang orang Dayak. Namun, karena orang Dayak mengeramatkan burung ini, orang Dayak hanya mengambil paruh enggang yang sudah mati.

Bulu ekornya yang memiliki warna hitam dan putih digunakan dalam pakaian adat Kalimantan dan digunakan sebagai kostum dalam tari-tarian saat upacara adat.

Para penari adat menggunakan bulu enggang sebagai hiasan kepala dan jari-jari tangan.

Tari Enggang yang dibawakan oleh para penari dari Yayasan Seni Bina Budaya Kaltim, Taman Budaya Kalimantan Timur, memeriahkan pembukaan Kaltim Expo 2012 di lapangan GOR Segiri, Samarinda, Jumat (31/8/2012). (TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO)
Tari Enggang yang dibawakan oleh para penari dari Yayasan Seni Bina Budaya Kaltim, Taman Budaya Kalimantan Timur, memeriahkan pembukaan Kaltim Expo 2012 di lapangan GOR Segiri, Samarinda, Jumat (31/8/2012). (TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO)

Burung yang panjangnya bisa mencapai 150 cm ini juga menjadi lambang kesetiaan dan kerukunan. Hal ini berangkat dari cara hidupnya yang unik.

Burung enggang hidup berpasang-pasangan dan tidak dapat hidup tanpa pasangannya. 

Sekarang, burung yang berperan dalam penyebaran benih pohon di hutan ini menjadi burung yang sangat langka dan sangat sulit ditemui di hutan Kalimantan.

Penyusutan populasi enggang berakibat pada pelambatan pertumbuhan benih-benih pohon.

Habitat burung ini sebagian telah rusak oleh penebangan liar dan pengalihan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Belum lagi ulah para pemburu liar.

Reproduksi enggang sendiri makan waktu cukup lama.

Harga paruh dan bulu burung enggang yang sangat mahal menarik orang untuk memburunya.

Kesemuanya berdampak pada makin langkanya enggang di hutan-hutan Kalimantan.

Jika hal ini dibiarkan, di kemudian hari sangat mungkin kita hanya mengenangnya melalui gambar dan rekaman video saja, sementara burung aslinya sudah punah dari muka bumi. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved