Opini

Pelestarian Teluk Balikpapan dan Madinatul Iman

segala pembangunan di kota ini tidak boleh lepas dari konsep keimanan dalam agama, keimanan yang universal, humanistik, dan ramah lingkungan

Pelestarian Teluk Balikpapan dan Madinatul Iman
tribunkaltim.co/martinus wikan h
Balikpapan mempunyai sejumlah objek yang layak jadi destinasi wisata. Sebagai contoh kawasan Teluk Balikpapan yang terkenal sebagai salah satu habitat bekantan. 

Hary Widyantoro
Dosen Fakultas Syariah di Institut Agama Islam Negeri Samarinda
Email: haryx10@gmail.com

Balikpapan adalah kota yang telah mendapat beberapa kali penghargaan adipura kencana, karena kebersihannya, dan selanjutnya memiliki julukan "Madinatul iman." Artinya, segala pembangunan di kota ini tidak boleh lepas dari konsep keimanan dalam agama, keimanan yang universal, humanistik, dan ramah lingkungan. Universal artinya mencakup seluruh umat manusia, tidak boleh ada satu proses pembangunan yang mendiskriminasi dan merugikan makhluk ciptaan Tuhan. Humanistik bermakna manusiawi, pembangunan sejatinya harus memanusiakan manusia. Ramah lingkungan berarti pembangunan tidak boleh menafikan konservasi alam demi keseimbangan ekosistem. Tiga konsep keimanan dalam pembangunan tadi tercakup dalam konsep kemaslahatan maqasid syariah (tujuan syariah), yang berarti bahwa pembangunan harus mempertimbangkan kemaslahatan, semua makhluk hidup, bukan hanya untuk sekelompok orang saja.
Sementara kita tahu bahwa pembangunan jalan trans Kalimantan dan perluasan kawasan industri Kariangau tanpa mempertimbangkan konservasi alam dapat merusak ekosistem yang berada di Teluk Balikpapan. Sejauh ini Teluk Balikpapan menyimpan biodiversity yang harus dilindungi, sebagai makhluk Tuhan. Ada ribuan Bekantan, ratusan jenis burung, buaya muara, beruang madu, Mangrove, terumbu karang dan lain lain. Jika ekosistem tersebut terganggu, ini tentunya bertentangan dengan konsep keimanan dalam pembangunan.
Tinjauan Fiqh Lingkungan
Al-Qur'an, al-Baqarah ayat 30 menjelaskan Allah berfirman pada Malaikat bahwa ia akan menjadikan khalifah di bumi. Kata khalifah dalam ayat tersebut berarti seseorang yang diberi wewenang untuk bertindak sesuai dengan ketentuan Allah, yaitu mengelola dan memakmurkan bumi (Departemen Agama RI 2009, 75). Dari ayat ini kita mengetahui bahwa kita sebagai khalifah seharusnya dapat menjadikan bumi sebagai tempat tinggal yang nyaman. Pembangunan harus mempertimbangkan pelestarian bumi, bukan malah merusaknya hanya untuk kempentingan ekonomi segelintir orang. Bagaimana dengan makhluk Allah yang terkena imbas pembangunan? Bagaimana nasib Orangutan, Bekantan, dan beruang madu sebagai ciptaan Allah?
Selanjutnya, Ada juga ayat yang menyebutkan bahwa Allah melarang kita melakukan kerusakan di muka bumi. Contoh, surat al-A'raf ayat 56, "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi," dan al-Baqarah ayat 20, "Makan dan minumlah rezeki yang diberi Allah, dan jangan lah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan." Dalam hal ini jelas bahwa kita wajib mempertimbangkan konservasi alam dalam melakukan proses pembangunan, demi menjaga keseimbangan alam.
Prinsip keseimbangan ini lah yang selanjutnya menjadi kemaslahatan bagi kita semua. Seandainya keseimbangan tersebut tidak terjaga dan kita hanya mementingkan pembangunan tanpa melihat derita makhluk Allah yang lain, maka kita termasuk orang yang merusak di muka bumi. Dalam kajian fiqh, kemaslahatan ini sangat penting demi berlangsungnya hidup manusia, sesuai dengan kaidah Fiqh, Tasarruf al-imaami ala al-ra'iyyati manuthun bi al-mashlahati. Artinya, kebijakan imam (pemerintah) terhadap rakyatnya harus didasarkan kepada kemaslahatan.
Semua kebijakan pemeritah baik nasional maupun lokal harus mempertimbangkan kemaslahatan, secara universal bukan parsial, dalam kasus ini adalah pembangunan yang akan mempengaruhi ekosistem di sekitar teluk Balikpapan. Kemaslahatan Universal berarti untuk semua makhluk hidup. Namun di samping itu, kita juga tau bahwa pengembangan kawasan industri dan proyek jalan trans Kalimantan juga membawa kemaslahatan. Contoh, terbukanya alur ekonomi dan mudahnya transportasi bagi warga yang bekerja lintas kota. Pertanyaannya, kemaslahatan untuk siapa saja? Kemaslahatan ekonomi secara menyeluruh? Di sisi lain, jika ekosistem di teluk Balikpapan rusak, seperti terjadinya sedimentasi, rusaknya karang tempat ikan, berkurangnya tangkapan ikan bagi nelayan, tidak cukupnya makanan bagi satwa, akankah ada bencana alam yang datang? Sementara menjaga keseimbangan ekosistem berarti mencegah bencana bagi kita semua. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa selain kemaslahatan ekonomi, terdapat juga kemafsadatan.
Bagaimana kita menyikapi suatu proyek pembangunan yang mendatangkan kemaslahatan, namun juga kemafsadatan? Dalam hal ini, berlaku kaidah Fiqh yang berbunyi, "Dar'u al-mafaasid muqaddam ala jalb al-mashalih," yang berarti, "Menghindarkan mafsadat didahulukan atas mendatangkan maslahat." Jika proyek perluasan wilayah industri dan pembangunan jalan trans Kalimantan tidak mempertimbangkan konservasi alam, dan dapat mendatangkan kemafsadatan, maka proyek tersebut harus dihentikan demi menghindari kemafsadatan.
Pengawasan Masyarakat
Selanjutnya, semua elemen di negara ini, pemerintah, civil society, masyarakat grass-root, harus terus mengawasi pembangunan, terlebih jika terdapat kemungkinan akan rusaknya keseimbangan ekosistem. Fiqh sebagai sebuah ilmu/alat untuk memahami segala sesuatu yang diperintahkan Allah, telah menjadi pintu bagi kita untuk mengetahui bagaimana harus bersikap terhadap lingkungan sesuai dengan syariah. Maka, pemerintah kota Balikapapan, madinatul iman, harus mengimplementasikan sikap yang sesuai dengan syariah secara universal dalam kebijakan pembangunannya, yaitu sikap ramah terhadap lingkungan. Civil Society dan masyarakat grass-root pun juga harus bisa bersikap ramah lingkungan. Dengan ini, Balikpapan akan bisa menjadi kota yang beriman dengan sebenar-benarnya iman, secara universal. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved