Opini

Gugus Kendali Banjir

Hingga pertengahan abad 19 Sungai Karang Mumus, masih merupakan berkah bagi banyak warganya. Konon tataniaga yang bergantung pada anak Sungai Mahakam

Gugus Kendali Banjir
TRIBUN KALTIM/RAFAN A DWINANTO
Banjir yang terjadi di Samarinda beberapa hari ini akibat hujan deras. 

Oleh : Sunarto Sastrowardojo
Pengajar Perncanaan Permukiman Perumahan Untag 45 Samarinda.
ssastrowardojo@uwgm.ac.id

Siapa pun, rasanya, sepakat air adalah sumber kehidupan. Air juga merupakan satu-satunya pembeda antara bumi dengan planet lainnya dalam tata surya yang menyebabkan bumi layak dihuni oleh manusia. Namun, siapapun juga tahu bahwa air adalah salah satu sumber bencana. Banjir adalah bukti dari dahsyatnya bencana yang ditimbulkan oleh air.
Oleh karena itu, mengkaji air dalam bencana tidak akan kalah menarik dari mengkaji efek bencana yang disebabkan oleh air. Jika air adalah faktor penting penyebab bencana, barangakali pandangan masyarakat tentang air akan menentukan cara-cara mengatasi bencana yang disebabkan oleh air. Pandangan masyarakat tersebut dengan gamblang atau tersirat terukir dalam cara-cara mereka menginterpretasi dirinya, Tuhan dan alam.
Pemahaman itu, sedikit banyak akan berpengaruh terhadap kesiap-siagaan (disaster preparedness) mereka dalam menghadapi bencana. Dalam masyarakat Sunda, air adalah simbol identitas komunitas yang kemudian mentradisi dalam ritual dan pandangan keduniaan. Adaptasi tersebut kemudian membentuk semacam identitas komunitas dalam bentuk nama-nama kota, kampung, dan juga barang-barang pusaka. Sunda sendiri dalam dalam bahasa Sanksakerta bermakna air.
Masyarakat Samarinda, lain lagi, misalnya. Luas ibukota Provinsi Kalimantan Timur ini kurang lebih 718 kilometer persegi dengan perkiraan jumlah penduduk saat ini tidak kurang dari satu juta 200 ribu jiwa. Masyarakatnya hidup, beranak pinak di kawasan perairan. Setidaknya hingga abad 17 Karang Mumus dan Karang Asam dihuni oleh petani sawah.
Hingga pertengahan abad 19 Sungai Karang Mumus, masih merupakan berkah bagi banyak warganya. Konon tataniaga yang bergantung pada anak Sungai Mahakam ini sempat dilirik oleh Vrijmetselaarsloge semacam Bappenas zaman kolonial Belanda untuk dijadikan obyek wisata air.
Hari ini, masyarakat Samarinda masih mencintai air. Tingkat kesulitan pemerintah Kota Samarinda dalam menata kota kawasan tepi air ini, bukan saja ditolak oleh warga yang cinta air, akan tetapi prasyarat utama bagi sebuah kehidupan berupa matapencaharian, tidak dirancang dengan baik. Bahkan manusia air ini cenderung dicerabut dari akar budaya perairan.
Air dalam pengertian di atas bermakna ruang eksistensi manusia. Mengapa masyarakat Samarinda cenderung mengatributi tempat tinggal mereka dengan air?
Barangkali persoalannya bukan semata-mata air, tetapi menunjukkan sesuatu yang lebih dalam daripada air atau sama dengan air sebagai bagian dari sistem ekologi. Dengan demikian, penggunaan air sebagai identitas komunitas bisa jadi menunjukkan sebuah pandangan hidup komunitas yang bersifat ekologis, dan masyarakat ekologis memandang alam sebagai sebuah ekosistem hidup. Antara manusia dan alam mempunyai ketergantungan yang tinggi satu sama lain. Sehingga eksistensi alam adalah eksistensi manusia, dan sebaliknya. Konsepsi alam yang ekologis tersebut kemudian mengarahkan kepada pandangan alam, terutama air, sebagai yang "sakral".
Sakralitas air sebenarnya bukan disebabkan karena daya magisnya, melainkan karena vitalitasnya bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan kata lain, sakralitas tersebut ditujukan untuk menjamin semua yang dibutuhkan manusia itu tersedia di alam.
Hari ini, kemarin dan mungkin sesok besok Samarinda tak akan kunjung mampu meretas fungsi air dalam konteks kebencanaan. Pertama karena memang pemerintah mengambil paksa peran masyarakat dalam membangun kotanya. Kedua perencanaan kota ini dilaksanakan bukan berbasis pada keinginan masyarakatnya. Ketiga, politisi, birokrat memiliki perspektif yang bertolak belakang.
Saya kutipkan release salah satu berita di koran lokal. BPBD meliris berita tentang banjir dengan mengatakan daya dukung Waduk Benanga mencapai titik kritis. Tingginya debit air itu karena adanya buangan air dari kawasan Sempaja dan Mugirejo yang berakhir di waduk Benanga. Satu statemen yang kurang bijak di tengah kepanikan warganya.
Teknologi tercanggih hari ini tidak akan mampu meretas banjir Kota Samarinda, jika bahan baku utamanya, yaitu manusia, warga, masyarakat tidak diajak bicara. Menyiapkan masyarakat untuk terlibat dan peduli kotanya dibutuhkan empat kali jabatan walikota. Membangun infrastruktur kota ini hanya diperlukan setengah periode jabatan walikota yang berniat menyiapkan masyarakatnya. Apalagi jika social capital masyarakat Samarinda dimobilisasi dengan benar. Tidak mustahil Samarinda akan jadi seperti Grisons, kota kecil di tenggara Pegunungan Alpen. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved