Opini

Berkarir sebagai Politisi

Kita sering menyaksikan sejumlah pemuka, pengusaha, akademisi hingga selebriti memutuskan untuk terjun dalam dunia politik

Berkarir sebagai Politisi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ilustrasi 

Oleh: Aldy Artrian
(Penggiat Demokrasi dan Kepemudaan)
aldie_leh@yahoo.co.id

Semakin lebarnya ruang demokrasi hari ini adalah bentuk ijtihad politik menggapai cita-cita luhur dalam berbangsa dan bernegara. Demokrasi tidak hanya berkutat seputar suksesi kepemimpinan dan distribusi kekuasaan saja, melainkan telah menjelma dalam berbagai rupa, baik pada sektor ekonomi, sosial dan sebagainya. Sistem demokrasi menjamin hak setiap warga negaranya, tidak hanya tentang berpendapat dan berserikat, tetapi juga hak untuk sejahtera. Tugas inilah yang harus ditunaikan bersama. Kemudian kesadaran ini diterjemahkan secara beragam oleh setiap warga negara, masing-masing individu berusaha mengambil peran dan tanggungjawab dalam kerja-kerja pembangunan. Tidak sedikit warga negara meyakini bahwa jalan yang paling efektif dalam memenangkan kepentingan bersama adalah melalui kepemilikan kekuasaan. Asumsinya dengan kekuasaan yang dimiliki akan digunakan untuk mempengaruhi dan menghasilkan keputusan-kebijakan publik seluas-luasnya untuk kepentingan umum. Pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar maupun salah, tetapi ada ketentuan tertentu yang lebih fundamental harus terpenuhi lebih dahulu.
Kita sering menyaksikan sejumlah pemuka, pengusaha, akademisi hingga selebriti memutuskan untuk terjun dalam dunia politik sebagai cara mereka menafsirkan dan menjalankan peran sebagai anggota masyarakat yang tersadarkan. Sikap dan pilihan tersebut tentu diperkenankan, hak warga negara. Negara secara terbuka menjamin setiap warganya memiliki kebebasan pilihan untuk memilih dan dipilih, hal ini menandai berlakunya sistem pemilihan langsung dalam penentuan kepemimpinan dan keterwakilan -baik eksekutif maupun legislatif diberbagai tingkatan-. Tentu disadari, memilih jalur politik sebagai sarana perjuangan hak-hak publik adalah jalan terjal nan berliku. Sudah banyak bahasan maupun kajian tentang berbagai kemampuan dan kecakapan yang harus dimiliki oleh setiap politisi, setidaknya perlu digarisbawahi adalah setiap politisi harus memiliki kejernihan akal dan keluhuran moral. Syarat itu menjadi krusial mengingat dampak dari aktivitas politik dan keputusan publik akan sangat mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Ranah politik harus disesaki oleh pribadi-pribadi yang bertintegritas tinggi, dan hal itu harus diuji.
Dunia telah mencatat sendiri sejarahnya, sekuat apapun manusia memanipulasi cerita maka semesta sendiri akan membukanya. Kekuasaan yang diperoleh dengan proses tidak bijak, kecendrungan kuat digunakan untuk maksud jahat, dan biasanya berakhir dengan tidak terhormat. Tidak sedikit politisi yang pernah memegang jabatan penting lalu menjadi pesakitan, adapun tertimpa kehinaan bahkan saat berada dipuncak kejayaan. Sebaliknya, kita juga masih dapat menemukan politisi idaman, mereka yang mampu menghidupkan harapan dan pekerja kemanusiaan walau tak memiliki jabatan. Tanggungjawab sebagai politisi sangat besar, kompetensi pun harus mumpuni. Terlebih saat kekuasaan telah terpegang, tugas dan fungsinya meningkat. Kecakapan mengelola kepentingan serta kekuatan aktor-aktor politik menjadi syarat dasar menjaga eksistensi, kepekaan yang tinggi perlu untuk memetakan persoalan dan identifikasi berbagai godaan.
Lalu bagaimana dengan fenomena politisi instan? Atau dengan kehadiran politisi warisan? Fenomena politisi instan kerap ditemukan saat memasuki agenda pemilihan diberbagai tingkatan, secara konstitusional bisa saja dibolehkan tetapi secara moral tentu masih dipertanyakan. Menjadi sulit mengharapkan kepada politisi yang hanya bermodal kekayaan atau ketenaran saja, sedangkan kita belum mengetahui daya juang dan keberpihakkannya. Kita bisa belajar banyak dari para pendiri bangsa, mereka lahir dalam gelisahan kemudian berjuang melawan buruknya keadaan. Kesungguhan, kecerdasan dan kebersahajaan mampu menjadi daya yang menggerakkan banyak orang hingga lintas kalangan. Politisi itu berproses, bukan hanya soal mekanisme internal partai politik tetapi juga melalui asahan penajaman empati sosial. Nilai dan kiprah politik tidak mungkin serta merta persis bisa diwariskan kepada keturunan atau kerabat, karena hal itu diperoleh dari pergulatan berbagai nilai yang dialami sendiri setiap pribadi, jikapun dipaksakan tidak lebih memanfaatkan kesempatan dibawah bayang-bayang nama besar dan kuasa orang tua atau kerabatnya. Hal serupa juga perlu dikritisi terhadap indikasi-upaya membangun dinasti politik, walaupun bukan suatu kepastian akan berdampak buruk tetapi hal ini sangat berpeluang melemahkan kehidupan berdemokrasi dengan menjadikan kekuasaan dimonopoli oleh sebagian golongan. Selain itu cenderung dapat menghambat proses kaderisasi politik baik di partai maupun ditengah-tengah masyarakat. Kekuasaan yang dihegemoni oleh suatu golongan dapat berakibat terjadinya kelanggengan kesewenangan dan kedzaliman.
Dari uraian singkat tersebut ingin mengingatkan kembali pada semua pihak serta menjadi komitmen bersama, bahwa seyogyanya politik sebagai instrumen kekuasaan dapat menjadi jalan besar mencapai tujuan mulia selama berada pada tangan dan metode yang tepat. Akhirnya kita menyadari, menjadi politisi bukanlah pilihan serupa profesi biasa untuk memperoleh pengakuan maupun mencari penghasilan. Bisa jadi, memiliki kekuasaan akan merampas kebahagiaan. Berkarir sebagai politisi adalah bekerja untuk kemanusiaan. Berkarir sebagai politisi adalah dedikasi untuk kebermanfaatan. Selamat berpolitik, semoga menjadi bagian politisi bersolusi yang dirindukan negeri ini. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved