Opini

Kesetaraan Tugas Domestik bagi Anak

stereotipe yang perlu diluruskan, hanya anak perempuan yang musti diajarkan bagaimana cara mengerjakan tugas domestik di rumah seperti mencuci piring

Kesetaraan Tugas Domestik bagi Anak
net
Ilustrasi 

Oleh Fransiska, S.Si
(Pegiat Pendidikan dan Literasi)

SEBUAH stereotipe yang perlu diluruskan, hanya anak perempuan yang musti diajarkan bagaimana cara mengerjakan tugas domestik di rumah seperti mencuci piring, menyapu, memasak dan lainnya sementara anak laki - laki hanya diajarkan pekerjaan berat khusus lelaki saja, misalnya mengotak - atik sepeda.
Sejatinya, anak termasuk anak yang berjenis kelamin laki - laki tidak akan selamanya tinggal bersama orangtuanya dengan segala keperluannya yang disiapkan oleh orangtuanya. Kelak mereka akan sekolah atau kuliah berbeda kota bahkan provinsi dengan orangtuanya. Atau ketika orangtua dihadapkan pada peristiwa perpisahan (perceraian) yang tidak menutup kemungkinan anak tidak tinggal bersama ibunya melainkan dengan ayah atau nenek yang memiliki keterbatasan untuk memenuhi keperluan anak. Atau bahkan ketika salah satu orangtua terutama ibu yang akan pergi meninggalkan dunia terlebih dahulu.
Sebagai orangtua, tentunya kita perlu menyiapkan anak - anak kita baik perempuan mapun laki - laki untuk siap siaga menghadapi kondisi - kondisi tersebut. Anak - anak sebaiknya diajarkan kemandirian mengerjakan tugas atau pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Mungkin pada awalnya, anak laki - laki akan malu bila diminta membantu memasak, "Ah, Bunda. Ini kan kerjaan anak perempuan," begitu biasa mereka berdalih. Mereka juga terkadang merasa enggan diminta menyapu teras, mengepel atau menjemur karena khawatir dilihat oleh teman - temannya dan dijadikan bahan olokan di sekolah.
Pemahaman, itu yang pertama orangtua tanamkan pada anak. "Nak, sebenarnya ibu dan ayah bisa mengerjakan ini semua, tapi kami sangat menyayangimu sehingga kami mengajarimu supaya engkau bisa, Nak"! Contoh kalimat pemahaman itu bisa orangtua sampaikan ke anak saat mereka menolak untuk membantu pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Sudah barang tentu orangtua perlu memerhatikan rambu tidak menyuruh anak melakukan pekerjaan yang sekiranya sangat memberatkan anak karena melebihi tenaga anak.
Cara lainnya adalah dengan menyampaikan ke anak kisah nabi yang juga turut serta melakukan pekerjaan rumah. Aisyah pernah ditanya, "Apakah yang dilakukan Rasulullah SAW. di dalam rumah?" Aisyah pun menjawab, " Beliau adalah seorang manusia biasa. Beliu menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri". (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Ada pula riwayat lain, Aisyah berkata : "Rasulullah dalam kesibukan membantu istrinya dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi sholat". (HR. Al - Bukhari : 5692). Urwah bertanya kepada bibinya Aisyah : "Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW. jika ia bersamamu (di rumahmu)?", Aisyah berkata, "Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya & mengangkat air di ember". (HR Ibnu Hibban 6440). Kisah Nabi Muhammad SAW. yang juga turun tangan langsung mengerjakan apa yang bisa beliau kerjakan tanpa menunggu istrinya mengerjakan ini dapat dijadikan teladan bagi anak laki - laki untuk membantu orangtuanya. Tentunya dengan contoh kongkrit dari sang ayah.
Acapkali anak akan memberi respon ketika orangtua meminta melakukan suatu tugas domestik rumah tangga dengan ucapan, "Sebentar...", "Ya...nanti dulu, Ma!"... "Aih..kakak aja dong" atau yang lainnya yang bersifat menunda atau penolakan. Dalam hal ini, orangtua memahamkan kepada anak bahwa tugas tersebut bukan suatu bentuk konsekuensi hukumana atau amarah orangtua namun sebagai salah satu mengajarkan keterampilan, kemandirian dan tanggung jawab. Meski di rumah ada ART (Asisten Rumah Tangga) alangkah lebih baik apabila anak tetap dibiasakan mengerjakan tugasnya sendiri terutama yang menyangkut barang atau kebutuhannya sendiri, seperti merapikan tempat tidurnya, mencuci sepatu dan tas sekolah, merapikan mainan, meletakkan pakaian kotor setelah mandi di tempat pakaian kotor dan lain sebagainya yang tetap memerhatikan usia anak. Hal ini untuk menghindari anak terbentuk dengan karakter manja yang hanya bisa mengandalkan ART.
Ala Bisa Karena Biasa, demikian bunyi sebuah pepatah. Akan lebih mudah anak melakukan kemandirian pekerjaan rumah tangga apabila dari kecil mereka telah dihadapkan pada proses pembiasaan melakukannya. Muhammad Quthb yang dialih bahasakan oleh Salman Harum mengatakan, "Kebiasaan memiliki yang sangat istimewa dalam kehidupan manusia karena dalam aktualisasi perannya tidak begitu banyak menyita tenaga manusia. Kebiasaan hanya bisa dilakukan dengan cara memberikan latihan-latihan secara terus menerus, sehingga menjadi terbiasa dan menjadi melekat dalam diri mereka dan dengan spontan mereka melakukan kegiatan - kegiatan tersebut dengan enteng tanpa kehilangan banyak tenaga dan tanpa menemukan banyak kesulitan" (Quthb, 1984 : 363 ).
Memang apabila orangtua mengerjakan pekerjaan sendiri akan lebih membutuhkan waktu yang lebih sedikit jika anak ikut campur, seperti saat memasak bersama justru anak lebih banyak menghamburkan bahan masakan di lantai, jika dikenalkan pada proses mencuci pakaian justru anak akan belajar sambil bermain sehingga baju yang dikenakannya akan basah semua sehingga menambah banyak cucian kotor dan lainnya. Akan tetapi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Profesor Marty Rossmann dari Univesitas Minesota, membimbing anak sejak dini mengerjakan pekerjaan rumah tangga mampu membantu anak membangun keterampilan, tanggung jawab serta kemandirian yang bersifat permanen.
Diperlukan keselarasan antar ayah dan ibu, jangan sampai salah satu pihak menyuruh tapi pihak yang lain mencegah dengan alih "kasihan masih kecil". Yang jelas bukan melakukan eksploitasi tenaga dan waktu anak ataupun hukuman, hanya sebatas proses pembelajaran dan pembiasaan. Buatlah poin - poin tugas apa saja yang menjadi kewenangan anak. Setelah mereka selesai mengerjakan berilah anak apresiasi positif seperti pujian (tidak berlebihan) maupun simbol - simbol tanda senang seperti tersenyum atau mengacungkan ibu jari. Meski hasil tidak sesempurna jika orang dewasa yang mengerjakan, seperti lantai yang masih sedikit kotor meski telah mereka sapu, seprai dan susunan bantal yang masih tidak rapi atau lainnya sebagai orangtua kita perlu melihat proses yang mereka lakukan sementara tentang hasil sejalan dengan bergulirnya waktu dan usia anak maka hasilnya akan sesuai yang kita harapkan. Semoga generasi penerus kita baik perempuan maupun laki - laki tumbuh dengan kemandirian dan tanggungjawab. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved